Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Nak Bali · 22 Nov 2014 15:16 WITA ·

Oka Rusmini, Pengarang Bali Ketiga Raih Khatulistiwa


					Oka Rusmini, Pengarang Bali Ketiga Raih Khatulistiwa Perbesar

Oleh: I MADE RADHEYA

Penyair Bali, Oka Rusmini meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 melalui buku kumpulan puisinya yang berjudul, Saiban. Selain Oka Rusmini, Kusala Sastra Khatulistiwa ke-14 juga diberikan kepada Iksaka Banu untuk buku kumpulan fiksi Semua untuk Hindia. Keduanya menerima hadiah uang tunai masing-masing senilai Rp 50.000.000. 

Saat menerima penghargaan, Oka Rusmini menyatakan jumlah perempuan penyair di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Padahal, kualitas karya mereka tidak kalah. Ironisnya, kata Oka Rusmini, pemikiran perempuan belum diperhitungkan. 

Dalam karya-karyanya Oka Rusmini yang juga wartawan Bali Post ini memang lantang memperjuangkan perempuan, terutama perempuan Bali. Oka Rusmini menyatakan karya-karyanya didasari keinginan untuk menunjukkan kehebatan perempuan Bali dan mendokumentasikan kebudayaan Bali. Menurut Oka Rusmini, perempuan Bali itu luar biasa. 

(Baca: Oka Rusmini: Saya Bukan Membenci Laki-laki Bali)

Oka Rusmini menyisihkan empat penyair lain, Ook Nugroho (Tanda-Tanda Yang Bimbang), Ahda Imran (Rusa Berbulu Merah), Hasta Indriyana  (Piknik Yang Menyenangkan), dan A. Muttaqin (Tetralogi Kerucut). Sementara Iksaka Banu menyisihkan Afrizal Malna (Kepada Apakah), Norman Pasaribu (Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu), Triyanto Tiwikromo (Surga Sungsang) dan Eka Kurniawan (Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas).

Oka Rusmini merupakan sastrawan Bali ke tiga yang meraih penghargaan paling bergengsi dalam bidang sastra itu. Sebelumnya, dua sastrawan Bali juga meraih penghargaan ini: Gde Aryantha Soethama dengan kumpulan cerpen berjudul Mandi Api pada tahun 2006 dan Sindu Putra dengan buku kumpulan puisi Dongeng Anjing Api pada tahun 2009. Pada saat Gde Aryantha dan Sindu Putra, hadiah bagi penerima Khatulistiwa masih Rp 100.000.000 per orang.

Sebelumnya, selain Oka Rusmini, penyair Bali, I Made Adnyana Ole juga masuk nominasi 10 besar Khatulistiwa Award melalui buku kumpulan puisi Dongeng dari Utara. Namun, nama Adnyana Ole tersingkir ketika seleksi lima besar.

Oka Rusmini terbilang sastrawan Bali yang cukup sering menerima penghargaan sastra, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Tahun 2012, jebolan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana ini berturut-turut menerima hadiah sastra Tantular dari Balai Bahasa Provinsi Bali untuk buku kumpulan cerpen Akar Pule, penghargaan sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta South East Asia Write (SEA Write) untuk novel Tempurung. (b.)
___________________________ 

Foto: istimewa 
Penyunting: I MADE SUJAYA
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sosok Kadek Agung Widnyana Putra, Pemain Bali Penyumbang Gol Timnas Indonesia

4 Juni 2021 - 00:44 WITA

Kadek Agung Widnyana Putra

Nyoman Tusthi Eddy: I Tua yang Setia “Ngulat Gita”

18 Januari 2020 - 23:13 WITA

Nyoman Tusthi Eddy

Jro Mangku Wayan Sudirta: Tukang Cukur Empat Generasi

3 Januari 2020 - 22:39 WITA

I Nyoman Graha Wicaksana: Merawat Kepercayaan

26 Mei 2019 - 09:19 WITA

Nyoman Karya Dibala, Menjaga Roh Seni Pesisir Kusamba

17 April 2018 - 23:09 WITA

Ni Wayan Murdi: “Mantri Manis” Era 80-an yang Terlupakan

21 Maret 2018 - 22:34 WITA

Trending di Nak Bali