Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Legenda Bali · 3 Jun 2021 22:15 WITA ·

Batu Lantang: Legenda Batu Panjang “Panekek Jagat”


					Batu Lantang: Legenda Batu Panjang “Panekek Jagat” Perbesar

Desa Adat Batu Lantang, Desa Sulangai, Petang, Badung. (balisaja.com/Ketut Jagra)

Oleh: KETUT JAGRA

Ada banyak tempat di Bali yang menggunakan kata batu sebagai nama. Ada Batu Bulan di Gianyar, Batu Tabih di Klungkung, Yang Batu dan Batu Kandik di Denpasar, Batununggu di Nusa Penida, serta Batu Lantang di Badung. Batu Lantang nama sebuah desa adat di wilayah Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Di desa inilah berdiri pura penting bernilai historis tinggi, Pura Kancing Gumi. Batu Lantang juga memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan sejarah pura yang diyakini berstatus kahyangan jagat itu.

Nama Batu Lantang diambil dari bukti kuno yang tersimpan di areal Pura Kancing Gumi. Tinggalan kuno itu berbentuk batu yang cukup panjang. Karena posisinya yang berdiri, batu tersebut dikenal dengan sebutan sela mangadeg atau ketela yang berdiri atau batu berdiri.

Oleh karena batu yang berdiri itu cukup panjang, warga juga menyebutnya batu dawaatau batu lantang. Wilayah di tempat penemuan batu lantang itu kemudian juga diberi nama Desa Batu Lantang hingga sekarang.

Awalnya, tidak ada yang tahu ada tinggalan berupa batu panjang. Pasalnya, batu panjang yang juga disebut sebagai lingga pasupati itu tertutup oleh pepohonan. Sekelompok orang yang datang ke tempat itu melihat daerah itu cukup bagus untuk dijadikan pemukiman. Mereka pun merabas hutan di tempat itu hingga akhirnya menemukan batu panjang tersebut. Karena dianggap suci, batu panjang itu pun dikeramatkan.

Batu panjang itu pernah digali oleh masyarakat setempat. Penggalian itu ternyata malah merusak batu panjang itu. Batu kuno itu malah terpatah-patah, sementara ujung batunya tidak pernah diketemukan.

Ketika sampai patahan ke sebelas terjadi keajaiban. Menurut hasil nunasbawos, batu itu memang tidak boleh digali atau dipindahkan karena memang memiliki fungsi khusus untuk menjaga Bali atau penekek jagat Bali. Ujung batu lantang itu diyakini menyentuh dasar bumi.

Hasil penelitian Balai Arkeologi Denpasar tahun 1991 menyimpulkan batu lantang itu sebagai menhir. Menhir merupakan bentuk megalitik dari zaman prasejarah yang kerap difungsikan untuk tempat pemujaan.

Ada sebelas buah menhir yang berupa sebelas patahan yang ditemukan. Kesebalas patahan itu dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok lima dan kelompok empat.

Selain menhir, Balai Arkeologi juga menemukan benda-benda arkeologis lainnya seperti keramik asing berupa sebuah guci, sebuah cepuk lengkap dengan tutupnya, empat buah mangkuk dan dua buah piring yang sudah tidak utuh lagi. Keramik-keramik itu diduga berasal dari Dinasti Yuan berkisar abad 13-14, Dinasti Ming berkisar abad ke-17 dan ada di antaranya berasal dari masa peralihan yaitu pada abad ke-18. Ada juga temuan benda perunggu berupa sebuah wadah yang beralasa datar dan sebuah tepian dari sebuah wadah yang cukup besar. Benda-benda perunggu ini berwarna coklat kehitaman dengan patina warna hijau.

Temuan-temuan arkeologis ini menunjukkan Batu Lantang merupakan desa kuno. Melihat struktur Pura Kancing Gumi, dapat diduga pula di Batu Lantang terjadi pertemuan yang apik antara tradisi megalitik dan agama Hindu yang dibawa dari Jawa Timur.

Kini Batu Lantang menjadi satu dari tiga desa adat di wilayah Kaperbekelan (Desa) Sulangai. Dua desa adat lainnya yakni Sulangai dan Sandakan. Penduduk desa yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat kota kecamatan Petang serta sekitar 40 kilometer dari Denpasar ini sebagian besar melakoni hidup di bidang pertanian dan perkebunan. Daerahnya cukup subur, memang. Di desa inilah bisa dinikmati perkebunan kopi, cengkeh, vanili, kelapa, pisang, ketela termasuk padi sawah yang tumbuh baik. (b.)

___________________________________

Penyunting: I MADE SUJAYA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 327 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Matuunan”: Menghadirkan Kembali yang Sudah Tiada

26 Mei 2021 - 22:15 WITA

Dongeng Gerhana Bulan dan Generasi Milenial

26 Mei 2021 - 05:50 WITA

Ngatag Jukung, Tradisi Tumpek Wariga di Pantai Kusamba

25 Januari 2020 - 11:11 WITA

Mengapa Orang Bali Menyebut Imlek sebagai Galungan Cina?

24 Januari 2020 - 01:53 WITA

Bali Miliki Bulan Ketiga Belas, Ini Makna dan Pantangannya

21 Mei 2016 - 23:46 WITA

Trending di Sima Dresta