Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Dewasa Ayu · 19 Mei 2021 05:19 WITA ·

Pegatwakan Tiba: Ngabut Penjor Dulu, Nanceb Tetaring Kemudian


					Pegatwakan Tiba: Ngabut Penjor Dulu, Nanceb Tetaring Kemudian Perbesar

 

Upacara pernikahan sebuah keluarga di Karangasem. (balisaja.com/I Made Sujaya)


Oleh: KETUT JAGRA 

Hari ini, Rabu, 19 Mei 2021. Kalender Bali menandainya sebagai hari Buda Kliwon Pahang. Orang Bali kerap juga menyebutnya dengan berbagai istilah. Ada yang menyebut Buda Kliwon Pegatwakan, Buda Kliwon Penelahan Galungan, dan ada juga yang mengatakan sebagai Buda Kliwon Pemelas Tali. 

Intinya, Buda Kliwon Pahang merupakan penutup rangkaian hari Galungan dan Kuningan.  Karena itu, Buda Kliwon Pahang biasanya akan ditandai dengan pencabutan penjor Galungan. 
“Segala kelengkapan penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di sekitar pekarangan rumah atau di lebuh,” tulis Wayan Budha Gautama dalam buku Rerahinan Hari Raya Umat Hindu

Yang istimewa dari hari Pegatwakan tentu saja dimulainya aktivitas nibakang dewasa atau menjalankan ketentuan hari baik buruk melaksanakan berbagai upacara atau kegiatan. Pegatwakan menjadi istimewa karena ditunggu-tunggu, terutama oleh pasangan muda yang berencana nganten (menikah). Begitu Pegatwakan tiba, musim nganten pun tiba. 

Sebelumnya, selama rentang hari raya Galungan dan Kuningan, terutama sejak Buda Pon wuku Sungsang (sepekan sebelum Galungan) hingga Buda Kliwon wuku Pahang (35 hari setelah Galungan) dipantangkan melangsungkan berbagai upacara ngwangun (berencana), termasuk pawiwahan atau nganten. Tradisi Bali menyebut rentang waktu Buda Pon Sungsang hingga Buda Kliwon Pahang itu sebagai nguncal balung. Menurut keyakinan orang Bali, kurang baik menggelar upacara saat nguncal balung

Memang, pantangan menggelar upacara saat nguncal balung tak selalu diikuti. Di beberapa tempat di Bali, upacara pernikahan terkadang dilaksanakan saat rentang waktu nguncal balung

“Biasanya karena ada ‘kasus’, misalnya si mempelai wanita sedang hamil sehingga perlu segera diupacarai, nguncal balung bisa saja diabaikan. Tapi kalau prosesnya baik-baik saja, orang masih mempertimbangkan nguncal balung itu sebagai bulan larangan menikah,” tutur Nyoman Santosa, seorang warga Singaraja. 

Banyak orang mungkin menganggap keyakinan soal nguncal balung hanya mitos. Namun, selain soal keyakinan, tradisi nguncal balung sejatinya dapat dimaknai sebagai kearifan orang Bali untuk fokus pada suatu kegiatan dan disiplin membagi waktu. Sepanjang rentang hari Galungan dan Kuningan, orang Bali tentu disibukkan dengan berbagai ritual hari raya yang padat. Nguncal balung juga memberi kepastian bahwa sepanjang rentang waktu Galungan dan Kuningan tak ada kesibukan menggelar upacara ngwangun, kecuali hari Galungan dan Kuningan. 

Ketut Karma, seorang warga Klungkung, sudah mengagendakan pernikahan anaknya setelah Pegatwakan. Dia sudah berembuk dengan keluarga, upacara pernikahan anaknya bakal dilaksanakan setelah Pegatwakan dan Tilem Sadha. “Ya, antara 14-16 Juni 2021,” tutur Karma seraya berdoa upacara pernikahan anaknya nanti berjalan lancar tanpa halangan. 

Memang, selain memilih waktu setelah Pegatwakan, orang Bali juga akan memilih waktu menggelar upacara pernikahan pada hari-hari pananggal, yakni hari-hari setelah Tilem. Pananggal merupakan penanda bulan berubah dari gelap (Tilem) menjadi terang (Purnama). Kali ini, bentang waktu penanggal setelah pegatwakan dimulai pada 10-24 Mei 2021.  

“Setelah ngabut penjor pada hari pegatwakan, ya, segera siap-siap nanceb tetaring untuk persiapan upacara pernikahan anak,” tutur Karma sembari tersenyum.

Bagi masyarakat Klungkung, nanceb (mendirikan) tetaring masih menjadi penanda penting seseorang atau sebuah keluarga menggelar upacara. Tetaring merupakan bangunan darurat menggunakan bambu dengan atap dari anyaman daun kelapa. Di banyak tempat tetaring mulai digantikan tenda. 

“Tapi, tetaring tetap diisi, walau sedikit. Sebagai simbol saja,” imbuh Karma. (b.)
__________________________________ 

Penyunting: I MADE SUJAYA
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 99 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

Batu Lantang: Legenda Batu Panjang “Panekek Jagat”

3 Juni 2021 - 22:15 WITA

“Matuunan”: Menghadirkan Kembali yang Sudah Tiada

26 Mei 2021 - 22:15 WITA

Dongeng Gerhana Bulan dan Generasi Milenial

26 Mei 2021 - 05:50 WITA

Begini Hari Baik Berhubungan Intim Menurut Lontar “Pameda Smara”

11 Mei 2021 - 23:37 WITA

Ngatag Jukung, Tradisi Tumpek Wariga di Pantai Kusamba

25 Januari 2020 - 11:11 WITA

Trending di Sima Dresta