Menu

Mode Gelap
Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih “Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

Sima Bali · 26 Mei 2022 00:57 WITA ·

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali


					Upacara otonan dalam suatu keluarga Bali. Perbesar

Upacara otonan dalam suatu keluarga Bali.

Orang Bali mengenal tradisi perayaan hari kelahiran, namanya otonan. Namun, tak seperti ulang tahun yang dirayakan setahun sekali, otonan berdasarkan saptawara (hari dalam siklus tujuh), pancawara (hari dalam siklus lima) serta wuku.

Karena itu, otonan jatuh setiap 210 hari sekali sesuai siklus pertemuan saptawara, pancawara dan wuku. Misalnya, orang yang lahir pada hari Minggu, 25 November 2007 berarti lahir pada Redite (Minggu) Umanis wuku Ukir. Dia akan merayakan otonan pertamanya pada Redite Umanis wuku Ukir sekitar tujuh bulan mendatang yakni pada 22 Juni 2008.

Namun, dalam tradisi Bali, otonan tidak hanya untuk manusia. Tumbuhan dan binatang pun memiliki hari otonan-nya sendiri. Tumbuh-tumbuhan diberikan upacara otonan tiap Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wariga yang dikenal dengan sebutan Tumpek Wariga, Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh serta Tumpek Uduh.

Ini merupakan upacara menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas karunia Tuhan berupa tumbuh-tumbuhan serta memohon agar tumbuh-tumbuhan itu dapat hidup subur sehingga bisa menopang kehidupan manusia.

Sementara otonan untuk binatang dilaksanakan saban Saniscara Kliwon wuku Uye yang dikenal sebagai hari Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Saat ini hewan-hewan piaraan diupacarai disertai. Maknanya juga mengucap syukur atas karunia Tuhan berupa segala jenis hewan yang juga membantu manusia dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Menurut Tjokorda Rai Sudharta dalam buku Manusia Hindu dari Kandungan sampai Perkawinan, upacara otonan untuk manusia dapat dibedakan menjadi tiga yakni wetonan I sampai wetonan III (telung oton) merupakan sesuatu yang wajib dilaksanakan. Pawetonan IV hingga sebelum tanggal gigi (lebih kurang umur 6 tahun) diharapkan untuk dilaksanakan.

Sementara pawetonan sejak tanggal gigi sampai pawetonan selanjutnya dianjurkan untuk dilaksanakan. Perbedaan antara ketiga jenis otonan itu terletak pada banten-nya. Bayi yang baru menginjak satu weton sesajiannya yang khusus bernama dapetan.

Memang, ada sebagian orang Bali yang tidak sepanjang usianya melaksanakan upacara otonan. Ada yang hanya melaksanakan otonan ketiga saja selanjutnya tidak melaksanakan otonan. Ada juga yang melaksanakan otonan hanya sampai otonan pertama yang dinamakan otonan gede, setelah itu tidak melaksanakan otonan lagi.

Nyama Patpat

Tiap kali melaksanakan upacara otonan, orang Bali sebetulnya diingatkan tentang saudara empat yang mengiringinya saat lahir. Sesuai lontar Kanda Pat Rare, saat berada dalam kandungan, kira-kira berumur tiga bulan menjelang lahir, si jabang bayi dijaga oleh makhluk gaib yang disebut nyama patpat (saudara empat) yakni Babu Lembana, Babu Abra, Babu Ugian dan Babu Kekered.

Ketika lahir, sang bayi diiringi oleh “saudara empat” yang disebut catur sanak dalam wujud ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala) dan air ketuban (Sang Dengen).

Setelah ari-ari, tali pusar, darah dan air ketuban itu lepas, saudara empat itu pun berganti nama menyesuaikan dengan tingkat perkembangan mental dan biologis sang baru. Sang Anta berganti nama menjadi I Salahir, Sang Preta berganti nama menjadi I Makahir, Sang Kala menjadi I Mekahir, Sang Dengen menjadi I Salabir. Sementara sang bayi sendiri dinamai I Legaprana. Hingga berusia satu sampai tiga tahun, “saudara empat” itu disebutkan selalu hidup rukun.

Setelah anak kira-kira berusia empat tahun, antara sang bayi dan “saudara empat” mulai saling melupakan. Memori anak mulai bekerja. Anak mulai dipengaruhi unsur lupa dan unsur ingat. “Saudara empat” pun diyakini semakin menjauh.

I Salahir disebutkan mengembara menuju timur hendak menyatu dengan Sang Hyang Anggapati. I Makahir ke selatan hendak mengatu dengan Sanghyang Prajapati. I Mekahir menuju barat menyatu dengan Sanghyang Banaspati. I Selabir pergi ke utara menyatu dengan Sanghyang Banaspatiraja.

Setelah “saudara empat” ini mendapat waranugraha Sanghyang Kawitan, ia kembali kepada diri sendiri, I Legaprana. Karena itu, para tetua Bali senantiasa mengingatkan untuk tidak lupa dengan “saudara empat”. Kalau kita lupa dengan “saudara empat” konon “saudara empat” itu akan berubah menjadi bhuta. Inilah yang kemudian kerap mengganggu dan kadang muncul dalam mimpi.

Itu mungkin sebabnya ada orang Bali yang mengalami sakit karena tidak pernah otonan, hanya diupacarai otonan sekali saat otonan pertama. Ada yang mengaku bermimpi dicari orang berbadan tinggi besar dan hitam. Rasa takut lalu membuatnya sampai sakit.

Setelah ditanyakan kepada paranormal, konon, orang itu tidak pernah motonan. Begitu upacara otonan dilaksanakan, orang itu pun sembuh. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan

Kancan Roras, Kepemimpinan Ulu Apad di Penglipuran

31 Mei 2021 - 21:53 WITA

Angkul-angkul Penglipuran

“Paduluan Saih Nem Belas”, Kepemimpinan “Ulu-Apad” di Bayung Gede dan Bonyoh

30 Mei 2021 - 22:18 WITA

Bayung Gede
Trending di Desa Mawacara