Menu

Mode Gelap
Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih “Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

Puisi · 18 Mei 2021 08:26 WITA ·

Kusanegara Kusamba [Sajak-sajak I Wayan Suartha]


					Kusanegara Kusamba [Sajak-sajak I Wayan Suartha] Perbesar

Pantai Kusamba, Klungkung. (balisaja.com/I Made Sujaya)

Kusanegara Kusamba

(Bagi RS)

 

Laut belum tenang dalam lelap

nyanyian anak anak bermain ombak

terbawa dalam tidur

memasuki kampung purba

hembusan ilalang riuh sorak sorai

menyergap meruntuhkan pertahanan

kampung kemenangan aksara

sungguh masa lalu terasa lain

 

kusanegara kusamba

malam makin masuk

dengan berbagi rindu

dimanakah rumah dalam warna kusam

aku ingat

karena percakapan saling silang

sampai cahaya merah menembus jendela

mengusap usap kantuk

sajak sajak belum juga jadi

 

kusanegara kusamba

matahari menyapa

mengapa belum juga ada terbangun

percakapan percakapan telah dilupakan

sesungguhnya aku ingat

adakah kabar kerinduanmu bertatap

dengan takzim aku katakan

kampung purba kemenangan aksara

jalan panjang bersajak

membuatku bertahan

Klungkung 2020

 

Kali Unda (II)


Mengalirlah air mata

menyusur sepanjang kali unda

hembusan angin bunyi jembatan

sejak subuh orang orang melintas

saling bercakap

dalam gelap masih terlihat jalan

inilah pertaruhan

tanpa air mata air kali sejarah

apakah esok masih hidup

 

mengalirlah air mata

ada yang namanya harapan

sepanjang kesetiaan terjaga

masih terdengar bunyi jembatan

menyimpan segala kekuatan

menjaga hidup

 

batu kali sekian kali tergerus

orang orang yang melintas

sudah entah dimana

hanya potongan potongan cinta

hanyut terbawa air kali unda

 

kalaupun aku berdiri

di tengah jembatan  kayu kali unda

tak ada bulan

tak kulihat siapa

hanya kenangan itu teramat dahsyat

untuk ditinggal

 

Binduana, Klungkung 84-20 


Di Depan Gua Jepang

Bagi SWP

 

Rahasia percakapan jelang pagi

tanda tanya

gambar gambar tiga warna

patung patung batu yang gelap

telah tumpah pada cinta

angan angan saat lahir

tak ada yang bertahan

sekecil apa pun sampai akhirnya

 

Mengusut usut rentang riwayat

sambil menghitung gugusan daun-daun

sajian sajen tiap sudut tanah

senantiasa terawat

orang-orang di luar ada berbisik

ada mengirim isyarat

hanya kau sudah dapat membaca

 

Tak ada nama pada buku tamu

tak ada tulisan apa saja

sudah sekian waktu

gua gua berjajar sepi sejarah yang basah

gambar-gambar tiga warna

talinya ada terlepas

patung patung bali yang gelap

tengadah ke langit

 

wajah tua tanpa nama di buku tamu

melintas lintas bayanganmu

aku pun menuliskan satu kata sajak

kau pun lantas tersenyum

dalam rasa yang sama.

________________________________ 

I Wayan Suartha, penyair kelahiran Klungkung pada tahun 1957. Menulis sajak sejak SMP, tetapi baru dipublikasikan pada tahun 1977 di berbagai media massa di Bali dan Jakarta. Selain puisi, Suartha juga menulis naskah drama. Tahun 2012, buku naskah dramanya berjudul Rantai Putus mengantarkan Suartha meraih penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali. November 2020 lalu, buku antologi puisi tunggalnya, Buku Harian Ibu belum Selesai, diterbitkan Prasasti O. 

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Tonya Dadi Pedanda”: Penampilan Bisa Menipu

22 Mei 2022 - 21:51 WITA

Ketu Pedanda

Terang Bulan Pemberian [Cerpen I Made Ariyana]

18 Juni 2021 - 21:17 WITA

Humanisme dalam Balutan Budaya Bali: Membaca Kumpulan Cerpen “Tanah” IDK Raka Kusuma

7 Juni 2021 - 01:08 WITA

Lirikan Mata Perempuanku [Cerpen IBW Widiasa Keniten]

1 Juni 2021 - 22:55 WITA

Ritual Jarak [Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara]

31 Mei 2021 - 08:42 WITA

Dongeng Purba I Wayan Suartha dalam “Buku Harian Ibu belum Selesai”

27 Mei 2021 - 23:58 WITA

Trending di Sloka Bali