Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Sloka Bali · 7 Jun 2021 01:08 WITA ·

Humanisme dalam Balutan Budaya Bali: Membaca Kumpulan Cerpen “Tanah” IDK Raka Kusuma


					Buku kumpulan cerpen Tanah karya IDK Raka Kusuma. Perbesar

Buku kumpulan cerpen Tanah karya IDK Raka Kusuma.

Akhir tahun 2017, Balai Bahasa Bali menerbitkan kumpulan cerpen Tanah karya IDK Raka Kusuma bersamaan dengan novel Aku Cinta Lovina karya Sunaryono Basuki Ks., dan kumpulan cerpen berbahasa Bali karya Luh Suwita Utami, Manyoyo. 15 cerpen dalam antologi Tanah menggambarkan masyarakat Bali dalam dinamika tradisi dan humanisme.

Cerpen-cerpen dalam Tanah ditulis dari rentang waktu tiga dekade, yaitu tahun 1989—2010. Cerpen berjudul “Pantai Klotok Senja Kala” dan “Permintaan” ditulis tahun 1989. Sementara itu, cerpen yang ditulis di era 2000-an berjudul ”Evelin”.

Di antara rentang tiga dekade itu ada cerpen yang ditulis tahun 1990-an, tepatnya 1990, 1992, dan 1993 yang berjudul “Leak Barak”, “Nyepi Empedu”, “Delapan Galungan Berlalu”, “Gung Diah”, “Rumah Kelahiran”, dan “Sudharta”. Di awal tahun 2000-an, serentetan karya yang ditulis rentang tiga pulah tahun lamanya adalah cerpen “Tanah” yang sekaligus menjadi judul utama kumpulan cerpen ini.

Secara umum, cerita berlatar wilayah desa di kabupaten, pantai, pura desa, griya, dan puri di Bali. Cerpen berlatar desa, kuburan, terlihat pada cerpen “Leak Barak”. Ada beberapa cerpen yang berlatar di luar Bali, seperti Surabaya (“Delapan Galungan Berlalu”), Lombok (“Sudharta”), dan Jakarta (“Ayu Utari” dan “Tanah”). Pengarang mengemas sedemikan rupa tokoh cerita dan alur flashback yang tidak mudah ditebak pembaca.

Akhir tahun 2017, Balai Bahasa Bali menerbitkan kumpulan cerpen Tanah karya IDK Raka Kusuma bersamaan dengan novel Aku Cinta Lovina karya Sunaryono Basuki Ks., dan kumpulan cerpen berbahasa Bali karya Luh Suwita Utami, Manyoyo. 15 cerpen dalam antologi Tanah menggambarkan masyarakat Bali dalam dinamika tradisi dan humanisme.

Empat Tema

Secara tematik ada empat tema yang menonjol dalam kumcer Tanah ini. Pertama, cinta kasih dan kesetiaan dalam budaya patriarkat. Kisah cinta yang dibalut pemfitnahan, kesetiaan, pemaksaan/perjodohan, dan tindak pemerkosaan dapat dibaca dalam beberapa cerpen, di antaranya“Pantai Klotok Senja Kala”, “Permintaan”, “Nyepi Berempedu”, “Sudartha”,dan“Widya”.

Kedua, tema menjunjung tradisi dan leluhur dituangkan dalam cerpen “Delapan Galungan Berlalu” dan “Rumah Kelahiran”, “Gung Diah”, dan “Ayu Utari”. Keempat cerpen tersebut menggambarkan kebertahanan Bali dalam kaitannya dengan upacara dan jati diri orang Bali.

Ketiga, masalah kepemilikan tanah. Misalnya, tanah puri dan hak istimewa keluarga puri “dirampas” atas nama warga desa. Ketua adat mengajak warga desa untuk memusuhi keluarga puri yang tidak mau mengembalikan tanah desa. Pihak puri dianggap tidak mematuhi hukum adat. Padahal, itu keinginan salah satu keluarga puri sendiri, bukan warga adat dikisahkan dalam cerpen “Tanah”.

Keempat, masalah kemiskinan/gelandangan dan penyiksaan anak-anak dapat disimak pada cerpen “David”. Tokoh David yang dianggap penolong justru berlaku sebaliknya, ia seorang pedophilia dari Australia. Dalam kumcer ini tercatat dua cerpen yang tidak memperlihatkan kekhasan persoalan kehidpan masyarakat Bali, yaitu cerpen “Penghuni Baru” dan “Eveline”.

Humanisme dan Sanksi Adat

Cerpen-cerpen dalam Tanah berusaha meletakkan masalah humanisme dan budaya melalui tokohnya. Di sini tokoh dihadirkan dalam konsep seni tradisional yang menempatkan stereotip baik-buruk atau menang kalah.

Dikotomi yang terjadi sesungguhnya sama sekali tidak mengabaikan pergeseran sosial budaya yang ekstrem ketika diketahui Bali menyimpan masalah budaya tersendiri. Karakter tokoh yang khas berhasil mengguratkan sikap konsisten dalam mempertahankan keberadaan manusia agar tidak tenggelam dalam kehancuran.

Tokoh-tokoh cerpen ini menunjukkan sosok diri yang unik sekaligus kompleks yang menempatkan manusia pada derajat tinggi, mendapat perlakukan secara manusiawi, dan makhluk yang berharkat dan bermartabat. Kisah konvensional dalam cerpen-cerpen ini dipusatkan pada paradigma budaya dan unsur sentralnya, yaitu manusia sebagai pelaku sosial dan budaya dengan segala peristiwa kehidupan.

Peristiwa kelam dan masa lalu menjadikan tokoh-tokoh cerpen ini kuat bertahan dalam tradisi masyarakat Bali. Manusia yang dihadirkan dalam Tanah membentuk dan menguatkan kelas sosial. Akhirnya, membaca cerpen karya Raka Kusuma pembaca diajak mengenal Bali lebih dekat. (b.)

  • Penulis: Puji Retno Hardiningtyas. Penulis adalah peneliti di Balai Bahasa Bali.
Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Tonya Dadi Pedanda”: Penampilan Bisa Menipu

22 Mei 2022 - 21:51 WITA

Ketu Pedanda

Terang Bulan Pemberian [Cerpen I Made Ariyana]

18 Juni 2021 - 21:17 WITA

Lirikan Mata Perempuanku [Cerpen IBW Widiasa Keniten]

1 Juni 2021 - 22:55 WITA

Ritual Jarak [Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara]

31 Mei 2021 - 08:42 WITA

Dongeng Purba I Wayan Suartha dalam “Buku Harian Ibu belum Selesai”

27 Mei 2021 - 23:58 WITA

Dari Puncak Purnama [Sajak-sajak IBG Parwita]

26 Mei 2021 - 10:31 WITA

Trending di Puisi