Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Sloka Bali · 22 Mei 2022 21:51 WITA ·

“Tonya Dadi Pedanda”: Penampilan Bisa Menipu


					Ketu sulinggih. Perbesar

Ketu sulinggih.

Oleh: IBW WIDIASA KENITEN

Tonya Dadi Pedanda ‘makhluk halus menjadi orang suci’, itulah judul cerita rakyat yang ada dalam kumpulan satua Bali (cerita Bali) yang ditulis oleh I Buyut Dalu diterbitkan oleh CV Kayumas Agung, Denpasar padatahun 2013. Sebuah cerita rakyat (foklore) yang menyadarkan agar waspada terhadap penampilan seseorang. Cerita rakyat ini juga menyiratkan, orang suci pun tidak luput dari godaan.

Dikisahkan seorang seorang Pedanda (gelar sulinggih dari wangsa Brahmana) muda yang baru menikah. Sang istri berkeinginan akan madu lebah karena sedang mengandung calon jabang bayi. Sebagai seorang suami, Pedanda Lanang (laki-laki) bersedia mencarikannya.

Pembicaraan itu didengar oleh tonya (roh halus) yang berada di pohon timbul. Kesempatan itu dipergunakan oleh tonya (roh halus) untuk menjalankan niat jahatnya. Setelah pergi ke tengah hutan, berubah wujudlah tonya itu menjadi seorang pedanda yang mirip dengan Pedanda (suaminya) membawa madu dari hutan.

Betapa senangnya Pedanda Istri (perempuan). Tak dinyana, dilayanilah si Pedanda palsu itu sebagai suaminya. Setelah beberapa lamanya, datanglah Pedanda Lanang. Betapa kagetnya Pedanda asli, ternyata ada Pedanda yang mengaku sebagai suaminya.

Pertengkaran terjadi sampai diadukan kekerajaan Puri Bajanegara. Sang raja mengalami kesulitan dan tidak bisa memberikan jalan keluarnya. Diadakanlah sayembara siapa yang bisa menyelesaikan masalah itu akan dijadikan patih (abdi kerajaan).

Hal itu didengar oleh I Blibis (Angling Dharma) yang menyuruh Demang Klungsur mengatasi masalah Pedanda yang asli dengan yang palsu. Demang Klungsur diberikan strategi oleh Blibis (Angling Darma) dengan menyuruh yang bisa masuk ke dalam caratan (kendi, tempat air) itulah yang asli.

Sayembara dimulai sesuai rencana. Setelah masuk ke dalam caratan (kendi, tempat air), ditutuplah lubang airnya hingga tidak bisa keluar sampai mati. Disampaikan oleh Demang Klungsur yang di dalam caratan (kendi) itulah yang palsu. Semenjak itu, Demang Klungsur menjadi patih di Bajanegara.

Kewaspadaan dan Kehati-hatian

Kisah ini menarik untuk disimak. Penampilan seseorang bisa mengelabui seseorang. Kepura-puraan hal yang biasa pada zaman sekarang ini. Ada yang berpenampilan seperti orang kaya, padahal hutangnya banyak. Ada yang berganti-ganti mobil padahal hasil korupsi.

“Yang penting penampilan”.Begitulah zaman yang serbawah, serba gemerlap. Kesederhanaan hati, jiwa, pikiran, dan penampilan luntur yang tampak hanyalah pencitraan.

Cerita rakyat Tonya Dadi Pedanda memberikan ilustrasi bahwa saat cerita rakyat ini muncul pun, di Bali khususnya sudah ada kepura-puraan itu. Penampilan fisik lebih dominan dibandingkan dengan kesucian hati.

Dalam hal ini, diperlukan kewaspadaan dalam bergaul dan cepat tanggap terhadap perilaku seseorang di samping sebelum percaya sepenuhnya pada seseorang perlu mengenal latar belakang atau asal-usul seseorang. Rekam jejak seseorang perlu diketahui.

Penyadaran akan diri amat diperlukan agar tidak terlena. Cerita rakyat di atas menghadirkan tokoh Angling Dharma. Nama Angling Dharma bisa dimaknai Ang sebagai huruf suci, simbol Dewa Brahma, dengan saktinya Dewi Saraswati (Dewi Wak, Dewi kata-kata), Ling kata-kata, dan Dharma bermakna kebenaran.

Secara tersirat pengarang ingin menyampaikan bahwa kepura-puraan itu perlu penyadaran diri agar tidak mengerus hati nurani kemanusiaannya. Kebenaran pasti akan tetap menang walau jalannya harus berliku.

Di samping itu, orang-orang suci pun diharapkan tetap waspada dalam tata pergaulan. Kesetiaan pada kebenaran dan mengabdi pada kesucian itu mutlak bagi yang ingin menapaki jalan kesucian yang ada hanya kebenaran dan kesucian hati, pikiran, perkatan, dan perbuatan (trikaya parisudha). Tiga rambu-rambu ini dipegang dan dijalankan dalam keseharian.

Kisah cerita tonya (makhluk halus) menjadi orang suci memberikan pembelajaran agar dalam setiap langkah kehidupan selalu berhati-hati hingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Kewaspadaan diperlukan jika berhadapan orang-orang yang baru dikenal.

Penampilan bisa mengelabui karakter yang tersembunyi di dalam fisik seseorang. Berlakulah jujur dengan hati walau susah. Kebenaran pasti akan mengungkap ketidakbenaran. (b.)

Artikel ini telah dibaca 92 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Terang Bulan Pemberian [Cerpen I Made Ariyana]

18 Juni 2021 - 21:17 WITA

Humanisme dalam Balutan Budaya Bali: Membaca Kumpulan Cerpen “Tanah” IDK Raka Kusuma

7 Juni 2021 - 01:08 WITA

Lirikan Mata Perempuanku [Cerpen IBW Widiasa Keniten]

1 Juni 2021 - 22:55 WITA

Ritual Jarak [Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara]

31 Mei 2021 - 08:42 WITA

Dongeng Purba I Wayan Suartha dalam “Buku Harian Ibu belum Selesai”

27 Mei 2021 - 23:58 WITA

Dari Puncak Purnama [Sajak-sajak IBG Parwita]

26 Mei 2021 - 10:31 WITA

Trending di Puisi