Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Tradisi · 9 Feb 2016 22:20 WITA ·

Galungan, Bukan Sekadar “Magirang-girang”


					Galungan, Bukan Sekadar “Magirang-girang” Perbesar

Tak bisa dihindari, memang, perayaan hari Galungan di Bali yang jatuh pada Rabu (10/2) hari ini senantiasa meriah, penuh suka cita. Di sepanjang jalan berdiri penjor penuh hiasan warna-warni, menggambarkan suasana hati yang riang, suasana hati penuh kemenangan. Mereka yang merantau dan sukses di kota akan pulang dengan mengendarai mobil atau motor terbaik. Jalan-jalan di desa yang sempit pun kadang kala dijejeri aneka kendaraan bermotor.
Di sudut-sudut jalan, sekelompok anak muda duduk melingkar disertai hidangan tuak dan arak. Mereka ngobrol berjam-jam, terkadang, saat sudah mabuk, anak-anak muda ini bernyanyi dan berjoget ditimpali suara dentuman musik keras.

Boleh jadi karena dimaknai sebagai hari kemenangan, perayaan Galungan dan Kuningan senantiasa disambut dengan suka cita. Namun, lontar Sundarigamayang menjadi rujukan pelaksanaan hari raya Hindu, termasuk Galungan dan Kuningan, mengingatkan hakikat Galungan bukan sekadar bersuka cita (magirang-girang), tetapi justru refleksi menuju hidup yang terang-benderang (galang apadang).
Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Made Wiradnyana menegaskan esensi perayaan Galungan, yakni patitis ikang jnana sandi, galang apadang mariakna byaparaning idep. Hal ini dimaknai sebagai semangat menjadikan ilmu pengetahuan sebagai tumpuan pikiran dalam menyelesaiakan persoalan-persoalan hidup dan kehidupan.
“Pengetahuan menjadi sumber cahaya, memberikan terang di tengah kegelapan. Galungan itu momentum menerangkan pikiran, mengusir kegelapan pikiran,” kata Wiradnyana.
Hal senada diungkapkan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Bali IKIP PGRI Bali, IB Oka Manobawa. Menurutnya, Galungan sejatinya momentum meneguhkan kembali semangat hidup yang dilandasi pikiran galang apadang menghadapi kegelapan pekat dalam hidup dan kehidupan. Menurutnya, persoalan hidup dan kehidupan itu, begitu kompleks. Ada alam yang semakin rusak, jurang antara yang miskin dan kaya kian tajam, keterbelakangan makin menguat, penyakit semakin banyak dan aneh, serta konflik antarmanusia. Dalam Galungan, persoalan-persoalan hidup itu ditimbang kembali dan mencoba dicarikan solusi dengan berbekal ilmu pengetahuan dan agama.

“Galungan sebagai hari kemenangan sesungguhnya kemenangan atas diri kita sendiri menghadapi kegelapan pikiran,” kata Oka Manobhawa. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi