Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Jani · 23 Jan 2020 12:42 WITA ·

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan


					Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan Perbesar

Oleh: KETUT JAGRA 


Sejak Kamis (23/1) pagi, umat Hindu melaksanakan ritual pemujaan Dewa Siwa sebagai rangkaian hari Siwaratri. Didahului dengan persembahyangan sebagai pertanda dimulainya brata Siwaratri yang meliputi jagra(tidak tidur), upawasa (berpuasa) dan monabrata (tidak berbicara). Kekhidmatan pelaksanaan brata Siwaratri mulai terasa memasuki malam hari.

Menurut tatacara pelaksanaan brata Siwaratri yang tertulis dalam Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu, upawasa berlangsung sejak pagi hari pada panglong ping 14 Sasih Kapitu hingga besok paginya (24 jam). Setelah itu, sampai malam (12 jam) umat yang melaksanakan upawasa sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih. Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir keesokan harinya sekitar pukul 18.00 (36 jam).

Menyerahkan dana punya kepada umat. (balisaja.com/Ketut Jagra)

Namun, banyak orang sering lupa dengan penutup rangkaian upacara Siwaratri, yakni melaksanakan dana punya. Perihal pelaksanaan dana punya sebagai penutup rangkaian upacara Siwaratri ini disuratkan Mpu Tanakung dalam kakawinSiwaratrikalpa yang menjadi rujukan pelaksanaan upacara Siwaratri. Berikut petikan bait kakawin itu yang dikutip Ki Nirdon dalam buku Wija Kasawur.

ri moksa nikanang kulem ri teka ning rahina masunga dana ring sabha/suwarna Siwalingga dana ri mahadwija paramasusila wedawit/asing lwira nikang dateng sungana dana sakawasa hayo jugatulak/teher kaluputang turu ri rahinanya sagawaya hayo kurang tutur//

Bait kakawin itu diterjemahkan Ki Nirdon sebagai berikut.

setelah malam lewat serta pagi pun datang, berikanlah punya (dana: sedekah) kepada masyarakat/Lingga Siwa yang terbuat dari emas dihaturkan kepada sang mahapandita yang bijaksana dan memahami Weda/setiap orang yang datang diberikan punyasemampunya dan jangan menolak kedatangannya/lalu hendaklah jangan tidur pada hari itu, apabila bekerja jangan kurang sadar//

Baca juga: Siwaratri: Perjuangan Melawan Lupa

Memberikan punya (dana punya) menjadi bagian utuh dari rangkaian upacara Siwaratri. Dalam keyakinan Hindu, memberikan punya memang memiliki nilai pahala yang tinggi.

Selamat menjalankan brata Siwaratri. Selamat berjuang menjadi manusia terjaga. (b.)
_______________________________________
Penyunting: I MADE SUJAYA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media

27 Juni 2022 - 13:44 WITA

Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih

24 Juni 2022 - 15:52 WITA

Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih

24 Juni 2022 - 12:18 WITA

Trending di Bali Jani