Menu

Mode Gelap
Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara Habis PKB, Terbitlah FSBJ: Merajut Kesinambungan Seni Tradisional dan Modern Fleksibel dan Adaptif, Arja Takkan Pernah Mati PKB 2025 Siap Menyala, Membawa Bali Bersinar “Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

Bali Tradisi · 14 Mar 2018 19:12 WITA ·

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh


					Ogoh-ogoh diarak oleh anak-anak. Perbesar

Ogoh-ogoh diarak oleh anak-anak.

Hari raya Nyepi tak bisa dipisahkan dari ogoh-ogoh. Boneka raksasa kini sudah menjadi ikon hari raya Nyepi. Perayaan Nyepi terasa kurang lengkap tanpa ogoh-ogoh. Itu sebabnya, ketika dulu pemerintah melarang pembuatan ogoh-ogoh karena menjelang hajatan politik, banyak yang protes.

Sudah sejak dua bulan lalu, banjar-banjar di seantero Bali disibukkan dengan aktivitas membuat ogoh-ogoh. Yang paling sibuk tentu saja anak-anak muda yang tergabung dalam sekaa teruna. Mereka sibuk memikirkan tema ogoh-ogoh yang akan dibuat. Umumnya memilih tema bhuta kala. Namun belakangan ada yang mengambil tema-tema kontemporer, seperti antikorupsi. Kesibukan para pemuda membuat ogoh-ogoh semakin terasa kuat sebulan terakhir.

Tradisi mengarak ogoh-ogoh memang merupakan tradisi baru. Menurut catatan pendharma wacanaagama Hindu, I Ketut Wiana, tradisi mengarak ogoh-ogoh dimulai tahun 1980-an. Menurut Wiana, ogoh-ogoh tidak disebutkan dalam sastra agama, keberadaannya merupakan tradisi serangkaian perayaan hari Nyepi yang positif bagi pembinaan kreativitas generasi muda Hindu. Hanya memang, menurut Wiana, para panglingsir atau pun prajuru banjar mesti tetap mengarahkan anak-anak muda itu agar dalam memilih tema ogoh-ogoh tetap mengacu pada sastra agama.

“Ingat ogoh-ogoh itu bukan wujud setan, tetapi bhuta kala. Bhuta kala itu bukan setan. Bhuta kala itu cerminan rasa cemas kita yang mengerikan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Rasa cemas itulah yang kita somyaatau netralisir di hari pergantian tahun menuju kehidupan baru yang lebih baik,” tegas Wiana.

Karena itu, Wiana mengingatkan, pembuatan atau pun pengarakan ogoh-ogoh sebaiknya tidak terlalu berlebihan. Jangan malah sebaliknya, ogoh-ogoh menjadi kontraproduktif karena memicu masalah sosial baru, seperti bentrokan atau pun perilaku negatif seperti mabuk-mabukkan atau pun menghambur-hamburkan uang.

“Istilah anak-anak muda sekarang, jangan lebaylah. Lebay itu kan berlebihan. Jadi, menurut anak-anak muda juga berlebihan itu tidak baik,” kata Wiana.

Menunjukkan Perkembangan Kreativitas

Pengamat seni dari ISI Denpasar, Kadek Suartaya menyebut ogoh-ogoh sebagai media pembinaan seni anak-anak muda Bali. Suartana memuji kemajuan teknik pembuatan ogoh-ogoh ini. Hal ini, kata Kadek Suartaya, menunjukkan adanya perkembangan kreativitas anak-anak muda. Perkembangan ini, kata Kadek, mesti disambut positif dan diberi saluran yang tepat agar bermanfaat.

Perkembangan kreativitas pemuda ini tampaknya banyak dipicu oleh gelaran lomba ogoh-ogoh yang biasanya difasilitasi pemerintah atau pun desa adat. Motivasi untuk tampil sebagai pemenang mendorong lahirnya kreativitas baru, baik dari segi tampilan ogoh-ogoh maupun teknik pembuatannya. (b.)

  • Laporan: I Ketut Jagra
  • Foto: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 330 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

5 November 2025 - 20:53 WITA

“Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

28 Maret 2025 - 21:08 WITA

Cegah Bhuta Kala, Warga Pupuan Pasang “Empegan” di Gerbang Rumah

28 Maret 2025 - 18:12 WITA

Nyepi untuk Semua

28 Maret 2025 - 14:47 WITA

Ogoh-Ogoh dan Persatuan Gerak Generasi Muda

28 Maret 2025 - 14:23 WITA

Siap-siap Tangkil, Usabha Pitra di Pura Dalem Puri Besakih Dimulai Hari Ini

28 Januari 2025 - 11:06 WITA

Trending di Segara Giri