Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Tradisi · 14 Mar 2018 19:12 WITA ·

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh


					Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh Perbesar

Hari raya Nyepi tak bisa dipisahkan dari ogoh-ogoh. Boneka raksasa kini sudah menjadi ikon hari raya Nyepi. Perayaan Nyepi terasa kurang lengkap tanpa ogoh-ogoh. Itu sebabnya, ketika dulu pemerintah melarang pembuatan ogoh-ogoh karena menjelang hajatan politik, banyak yang protes.
Sudah sejak dua bulan lalu, banjar-banjar di seantero Bali disibukkan dengan aktivitas membuat ogoh-ogoh. Yang paling sibuk tentu saja anak-anak muda yang tergabung dalam sekaa teruna. Mereka sibuk memikirkan tema ogoh-ogoh yang akan dibuat. Umumnya memilih tema bhuta kala. Namun belakangan ada yang mengambil tema-tema kontemporer, seperti antikorupsi. Kesibukan para pemuda membuat ogoh-ogoh semakin terasa kuat sebulan terakhir.


Tradisi mengarak ogoh-ogoh memang merupakan tradisi baru. Menurut catatan pendharma wacanaagama Hindu, I Ketut Wiana, tradisi mengarak ogoh-ogoh dimulai tahun 1980-an. Menurut Wiana, ogoh-ogoh tidak disebutkan dalam sastra agama, keberadaannya merupakan tradisi serangkaian perayaan hari Nyepi yang positif bagi pembinaan kreativitas generasi muda Hindu. Hanya memang, menurut Wiana, para panglingsir atau pun prajuru banjar mesti tetap mengarahkan anak-anak muda itu agar dalam memilih tema ogoh-ogoh tetap mengacu pada sastra agama.
“Ingat ogoh-ogoh itu bukan wujud setan, tetapi bhuta kala. Bhuta kala itu bukan setan. Bhuta kala itu cerminan rasa cemas kita yang mengerikan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Rasa cemas itulah yang kita somyaatau netralisir di hari pergantian tahun menuju kehidupan baru yang lebih baik,” tegas Wiana.
Karena itu, Wiana mengingatkan, pembuatan atau pun pengarakan ogoh-ogoh sebaiknya tidak terlalu berlebihan. Jangan malah sebaliknya, ogoh-ogoh menjadi kontraproduktif karena memicu masalah sosial baru, seperti bentrokan atau pun perilaku negatif seperti mabuk-mabukkan atau pun menghambur-hamburkan uang.
“Istilah anak-anak muda sekarang, jangan lebaylah. Lebay itu kan berlebihan. Jadi, menurut anak-anak muda juga berlebihan itu tidak baik,” kata Wiana.
Pengamat seni dari ISI Denpasar, Kadek Suartaya menyebut ogoh-ogoh sebagai media pembinaan seni anak-anak muda Bali. Suartana memuji kemajuan teknik pembuatan ogoh-ogoh ini. Hal ini, kata Kadek Suartaya, menunjukkan adanya perkembangan kerativitas anak-anak muda. Perkembangan ini, kata Kadek, mesti disambut positif dan diberi saluran yang tepat agar bermanfaat.
Perkembangan kreativitas pemuda ini tampaknya banyak dipicu oleh gelaran lomba ogoh-ogoh yang biasanya difasilitasi pemerintah atau pun desa adat. Motivasi untuk tampil sebagai pemenang mendorong lahirnya kreativitas baru, baik dari segi tampilan ogoh-ogoh maupun teknik pembuatannya. (b.)

Teks dan Foto: Ketut Jagra
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi