Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 15 Apr 2015 00:59 WITA ·

Hari Buda Wage Kelawu, Pantang Bertransaksi Tunai


					Hari Buda Wage Kelawu, Pantang Bertransaksi Tunai Perbesar

Pernahkah Anda membayangkan jika dalam satu hari tidak menggunakan uang. Jangankah sehari tanpa uang, sehari tanpa penyeranta (telepon seluler) saja banyak orang sudah merasa kelimpungan. Seolah ada bagian diri yang hilang. 

Tapi, orang Bali sejak lama mewarisi tradisi pantang bertransaksi menggunakan uang tunai selama sehari. Pantangan itu dilaksanakan saat hari Buda Wage Kelawu yang dirayakan Rabu (15/4) hari ini. 

Transaksi keuangan di salah satu LPD di Bali
“Saat Buda Wage Kelawu tidak diperkenankan membayar atau menagih utang/piutang,” kata Nyoman Tirtha, seorang warga Klungkung. 

(Baca: Sehari Tanpa Uang)

Mungkin itu sebabnya, saat hari Buda Wage Kelawu, sebagian pedagang memilih tidak berjualan. Begitu juga sejumlah lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali, LPD (Lembaga Perkreditan Desa) memilih tutup.

Memang, banyak orang Bali tak lagi ketat mengikuti tradisi pantangan unik ini. Namun, perayaan hari Buda Wage Kelawu yang juga dikenal dengan nama Buda Cemeng Kelawu tetap mendapat perhatian istimewa. Masyarakat Bali Selatan dan Bali Timur kerap menyebut Buda Wage Kelawu sebagai “Hari Galungan Kedua”. Di daerah ini, perayaan Buda Wage Kelawu berlangsung semarak, penuh gairah. Suasana perayaan hampir mirip dengan hari Galungan.

Menurut Ketua Bidang Lintas Iman Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, I Ketut Wiana dalam artikelnya berjudul “Memuja Batara Rambut Sadhana” menyatakan pantangan bertransaksi uang tunai saat hari Buda Cemeng Kelawu merupakan bentuk pengendalian diri umat Hindu sekaligus bentuk penghormatan kepada Batara Sri-Sadhana sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsi penganugerah kesejahteraan bagi umat manusia. “Pantangan ini semacam jeda, sehingga dapat melakukan evaluasi terhadap kegiatan keuangan selama ini, apakah sudah benar, tepat, dan wajar atau justru tidak? Inilah yang perlu dievaluasi sebagai tonggak utama dalam melakukan kegiatan upacara Buda Cemeng Kelawu,” beber Wiana. 

(Baca: Buda Cemeng Kelawu, Hari Keuangan ala Bali)

Dijelaskan Wiana, dalam pantheon Hindu, Batara Sri merupakan sakti Dewa Wisnu. Pemujaan kepada Sri dilakukan karena menganugerahkan kemakmuran kepada umat manusia yang giat berusaha secara baik, benar, dan wajar. Batara Sadhana merupakan simbol pemujaan kepada Hyang Widhi guna memohon tuntunan agar dalam mencari, mendapatkan dan menggunakan uang itu bisa tepat-cara sekaligus tepat-guna. 

Kata sadhana, imbuh Wiana, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘wujud yang menjadi alat atau sarana’. Ada juga arti lain, ‘media’ atau ‘hasil’. Karena itu, menurut Wiana, uang bukanlah tujuan, tetapi hanyalah alat untuk mencapai tujuan. 

“Tujuannya adalah Sri, membangun kemakmuran yang adil,” tandas Wiana. 
(Baca: Memaknai Buda Wage Kelawu di Zaman Uang

Banten (sesaji) yang dipersembahkan saat hari Buda Wage Kelawu, menurut Wayan Budha Gautama dalam buku Rerahinan Hari Raya Umat Hindu, meliputi suci, daksina, peras, penek, ajuman, sedaan putih kuning. Namun, banten Buda Wage Kelawu ini disesuaikan dengan loka dresta (tradisi lokal) di masing-masing daerah. 

Karena itu, makna hari Buda Wage Kelawu amat relevan dengan kondisi masyarakat dewasa ini. Kini, uang seolah menjadi segala-galanya dalam hidup dan kehidupan. Manusia pun menggerakkan segala potensi yang dimilikinya untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. 

Uang yang hanya alat atau sarana itu pun berubah menjadi tujuan. Lantaran uang menjadi tujuan, perkara mendapatkan uang itu pun tiada pernah mengenal kata cukup. Akhirnya, manusia terjebak dalam perbudakan uang. Bukan manusia yang mengendalikan uang, sebaliknya uanglah yang mengendalikan manusia. 

Pada hari Buda Wage Kelawu, manusia Bali diajak merenung tenang. Tak hanya menyadari hakikat uang sebagai alat atau sarana mencapai kesejahteraan tetapi juga mengevaluasi apakah cara mendapatkan dan menggunakan uang itu sudah tepat? (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi