Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 22 Mar 2015 13:49 WITA ·

Desa Adat Tuban Juga Hidupkan Lagi Tradisi “Med-medan Bangsing Bingin”


					Desa Adat Tuban Juga Hidupkan Lagi Tradisi “Med-medan Bangsing Bingin” Perbesar

Hari Ngembak Gni menjadi momentum kebangkitan kembali sejumlah tradisi masyarakat Bali yang sempat hilang. Selain Desa Adat Kedonganan yang merekonstruksi tradisi Mabuug-buugan di kawasan hutan bakau, Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta juga menghidupkan kembali tradisi Med-medan Bangsing Bingin. 



Seperti namanya, tradisi Mbed-mbedan Bangsing Bingin mirip dengan tradisi Med-medan di Desa Semate, Kecamatan Mengwi, Badung. Wujud tradisi ini berupa tarik-menarik antara dua kelompok warga dengan menggunakan sarana tertentu. Di Semate, tradisi ini menggunakan bun kalot (sejenis tanaman merambat), sedangkan di Tuban menggunakan bangsing bingin (akar hawa pohon beringin). 

Hanya sayangnya, tradisi Med-medan Bangsing Bingin di Tuban tidak bisa dilaksanakan sesuai aslinya. Sarana bangsing bingin kini susah didapat. Itu sebabnya, penyelenggara menggunakan tali tarik tambang tetapi dililiti sedikit bangsing bingin.

Namun, keunikan tradisi Med-medan Bangsing Bingin bukan saja dari sarana yang digunakan, tetapi juga tempat pelaksanaannya. Tradisi ini mesti dilaksanakan di bawah rindang pohon beringin. Lantaran lokasi di bawah pohon beringin kini tidak memungkinkan digunakan sebagai tempat kegiatan, tradisi ini dilaksanakan di depan panggung utama acara Pasar Majelangu di Jalan Raya Tuban. Memang, serangkaian hari Ngembak Gni, masyarakat Desa Adat Tuban juga menghidupkan kembali tradisi Pasar Majelangu, sejenis pasar rakyat yang khusus menjual kuliner khas rakyat disertai aneka pertunjukan seni. 

Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra menuturkan tradisi Med-medan Bangsing Bingin sudah sekitar 30 tahun tidak pernah dilaksanakan lagi. Kini, pihaknya ingin menghidupkan kembali tradisi itu karena dinilai kaya dengan nilai filosofis, spiritual, sosiologis dan bisa menjadi atraksi wisata. 

“Tradisi ini akan rutin kami gelar tiap Ngembak Gni sebagai upaya melestarikan tradisi warisan leluhur kami,” kata Mendra yang juga anggota DPRD Badung ini. 

Menurut Mendra, tradisi Pasar Majelangu disertai Med-medan diharapkan menjadi sarana pengikat kebersamaan, kekeluargaan dan persatuan di kalangan warga Desa Adat Tuban, termasuk persaudaraan dengan umat agama lain yang ada di Tuban. 

Tradisi Med-medan diikuti 30 peserta dari unsur anak-anak, ibu-ibu dan para lelaki. Tradisi ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan wisatawan asing. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi