Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Dewasa Ayu · 18 Okt 2013 07:47 WITA ·

Nguncal Balung, Tradisi Pantangan Sepanjang Hari Galungan-Kuningan


					Nguncal Balung, Tradisi Pantangan Sepanjang Hari Galungan-Kuningan Perbesar

Sepekan menjelang hari raya Galungan hingga 35 hari sesudah Galungan, masyarakat Bali mengenal sebuah rentang waktu khusus dengan pantangan menggelar upacara-upacara besar, terutama yang bersifat ngewangun (terencana), seperti nganten (perkawinan), ngaben, nyekah dan lainnya. Rentang waktu itu kerap disebut dengan istilah nguncal balung. Rentangan waktu itu dimulai sejak Buda Pon Sungsang, Rabu (16/10) dan berakhir pada Buda Kliwon Wuku Pahang yang juga kerap disebut sebagai Buda Kliwon Pegat Wakan, Rabu (27/11) mendatang.

Mengapa rentang waktu selama 42 hari disebut nguncal balung? Mengapa pula pada rentang waktu itu dilarang menggelar upacara-upacara besar? Lantas, selalukah tradisi ini ditaati kini?

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Drs. I Ketut Wiana menjelaskan nguncal berarti ‘membuang’ dan balung berarti ‘tulang’. Karenanya, nguncal balung diartikan sebagai ‘saat membuang atau melepas tulang’. Wiana menduga, nguncal balung dimaksudkan untuk mengurangi penyembelihan hewan.

Dikaitkan dengan munculnya pantangan menggelar aneka upacara besar saat Nguncal Balung, Wiana mengatakan sejak pelaksanaan Karya Eka Dasa Rudra, tradisi itu disesuaikan. Artinya, pantangan itu tidak diberlakukan kaku sekali.

“Sistem beragama itu mesti terus berubah biar agama tidak menjadi beban,” kata Wiana.

Penulis buku-buku agama Hindu, I Gusti Ketut Widana melihat secara filosofis nguncal Bbalung dapat dimaknai sebagai wujud melepaskan kekuatan Sang Kala Tiga atau sifat-sifat kala menuju kekuatan Sanghyang Tiga Wisesa. Sang Kala Tiga yang dimaksud tidak lain dari Sang Bhuta Galungan yang turun menggoda umat menjelang hari Galungan.

Mengenai pantangan menggelar upacara saat nguncal balung, secara tradisional masyarakat Bali memahami karena dari sisi padewasan, waktu sepanjang rentangan Buda Pon Sungsang hingga Buda Kliwon Pahang dianggap dewasa yang kurang baik. Saat itu dewasa yang ada dianggap tidak memiliki balung, tidak memiliki tulang, tidak memiliki pengukuh.

Karenanya, tidak dianjurkan untuk melaksanakan upacara besar yang bersifat ngewangun pada saat itu. Kecuali untuk upacara-upacara yang bersifat rutin seperti tegak otonan atau tegak piodalan tetap bisa dilaksanakan, tidak digeser.

Selain itu, pelaksanaan upacara bhuta yadnyasemisal tawur juga tidak diperkenankan selama nguncal balung. Seperti tersurat dalam lontar Kusumadewa Widhi yang dikutip majalah Sarad No. 39, Juni 2003,tawur sasih Kasanga hendaknya diselenggarakan pada Tilem.

Akan tetapi, jika bertepatan  dengan wuku Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut dan Pahang, maka tawur pada sasih Kasanga tidak boleh diselenggarakan sesudah wuku Dungulan atau sebelum wuku Pahang.

Pelarangan juga diberlakukan terhadap upacara melastisebagai simbol penyucian buwana agungdan penyepian sebagai penyucian bhuwana alit. Karya Panca Wali Krama juga tidak diperkenenkan digelar mulai Wuku Sungsang hingga Pahang.

Tak hanya ritual keagamaan, sejumlah aktivitas seperti membangun rumah serta membuat tempat pemujaan dipantangkan selama nguncal balung. Hal ini didasari pemikiran selama nguncal balung, para dewa dalam keadaan somia. Kondisi ini dianggap berpengaruh terhadap semua ciptaan-nya. Tumbuh-tumbuhan, terutama kayu, binatang, manusia serta unsur alam lainnya dianggap tidak mempunyai kekuatan sebagaimana biasanya.

Namun, di sejumlah tempat, khususnya di Denpasar dan Badung, tradisi nguncal balung sudah mengalami pergeseran. Pantangan menggelar upacara sepanjang nguncal balung kerap kali diabaikan. Tak jarang upacara nganten atau ngaben dilaksanakan dalam rentang waktu nguncal balung.

“Meskipun digelar dalam rentang waktu nguncal balung, upacara berjalan lancar-lancar saja. Tak ada kendala atau pun kejadian buruk,” ujar Nyoman Kartika, seorang warga Denpasar.

Ketut Wiana menilai pergeseran itu sebagai hal yang wajar. Tradisi keagamaan memang tidak selalu berlaku kaku, tetapi disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman.

Tapi, menganggap tradisi nguncal balungsekadar mitos tentu juga tidak tepat. Tradisi ini justru mengajari tentang betapa pentingnya manusia Bali berkonsentrasi atau fokus dalam menjalankan suatu kegiatan atau upacara.

Sepanjang rentang waktu nguncal balung tergelar begitu banyak hari raya yang membutuhkan konsentrasi umat. Hari-hari raya itu pun tergolong besar, rahinan jagat. Jika dalam waktu yang penuh hari raya itu lantas menggelar juga upacara besar, tentu bisa membuat konsentrasi menjadi terbagi.

Tradisi nguncal balung justru mengajarkan tentang kepastian waktu pelaksanaan upacara. Jika sepanjang nguncal balung tiada digelar upacara-upacara besar, tentu ada kepastian pada umat untuk mengatur waktunya. (b.)

  • Laporan: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 704 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

Batu Lantang: Legenda Batu Panjang “Panekek Jagat”

3 Juni 2021 - 22:15 WITA

“Matuunan”: Menghadirkan Kembali yang Sudah Tiada

26 Mei 2021 - 22:15 WITA

Dongeng Gerhana Bulan dan Generasi Milenial

26 Mei 2021 - 05:50 WITA

Pegatwakan Tiba: Ngabut Penjor Dulu, Nanceb Tetaring Kemudian

19 Mei 2021 - 05:19 WITA

Begini Hari Baik Berhubungan Intim Menurut Lontar “Pameda Smara”

11 Mei 2021 - 23:37 WITA

Trending di Cakepan