Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Rerahinan · 18 Apr 2026 06:23 WITA ·

Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup


					Orang Bali ngunying, Perbesar

Orang Bali ngunying,

Apakah senjata paling tajam di dunia ini? Bukan keris, bukan panah. Senjata paling tajam sekaligus juga berbahaya itu tiada lain kecerdasan budi. Manusia Bali sejak lama diingatkan mengenai senjata utama ini. Perayaan hari Tumpek Landep yang jatuh hari ini,  Saniscara Kliwon wuku Landep, Sabtu, 18 April 2026, menyampaikan pesan ini.

Senjata utama manusia itu kecerdasan dan budi pekertinya. Inilah yang harus terus diasah agar senantiasa tajam sehingga memberi makna dan manfaat dalam mewujudkan hidup dan kehidupan yang lebih baik.

Perayaan Tumpek Landep sejatinya bermakna menajamkan senjata utama di dalam diri itu. Tumpek Landep ini bukan sekadar hari untuk mengupacarai berbagai jenis senjata tajam, apalagi kendaraan bermotor. Justru, makna utama hari Tumpek Landep sejatinya momentum menajamkan ‘senjata’ dalam diri, yakni kecerdasan pikiran dan budi.

Ketajaman memang menjadi kata kunci dalam perayaan Tumpek Landep. IB Putu Sudarsana dalam buku Ajaran Agama Hindu: Acara Agama (Yayasan Dharma Acarya, 2003) kata landep berarti ‘tajam’ atau ‘ketajaman’. Dengan demikian hari suci Tumpek Landep adalah peringatan turunnya manfestasi Sanghyang Widhi Wasa ke duania dengan prabawa Sanghyang Pasupati untuk menganugerahgkan intelegensia (IQ) kepada semua makhluk di dunia.

Barangkali karena itulah Tumpek Landep jatuh dua pekan setelah hari suci Saraswati yang dimaknai sebagai hari pemuliaan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membuat manusia bisa mencapai kecerdasan, ketajaman logika juga kebijaksanaan.

Tumpek Landep merupakan momentum untuk mengusut-usut diri, menelisik ke dalam diri, sejauh mana telah memiliki ketajaman pikiran dan nurani sebagai bekal dalam menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan yang datang silih berganti. Ketajaman pikiran diwujudkan dengan kemampuan mencari solusi atas masalah yang dihadapi, sedangkan ketajaman nurani diwujudkan dengan sikap simpati dan empati terhadap keadaan orang.

Memang, secara nyata Tumpek Landep diwujudkan dengan ritual mengupacarai berbagai jenis senjata. Belakangan, masyarakat Bali juga mengupacarai kendaraan bermotor yang dimiliki. Namun, ritual itu lebih sebagai simbol untuk mengingatkan manusia tentang kesejatian ketajaman senjata dan itu ada di dalam diri.

Itu sebabnya, dalam kisah Mahabharata, Arjuna lebih memilih Kresna yang tidak bersenjata tinimbang ribuan pasukan yang lengkap dengan berbagai senjata. Itu karena senjata utama dan terbaik bukanlah keris, tombak, pedang atau pun bom atom, tapi pikiran dan budi manusia yang berlandaskan dharma.

Menurut Ni Made Sri Arwati dalam buku Hari Raya Tumpek (Upada Sastra, 2003) yang dipuja pada hari Tumpek Landep adalah Sanghyang Pasupati. Selain itu, Tumpek Landep juga sebagai pujawali Batara Siwa yang berfungsi melebur atau mamralina.

“Tumpek Landep merupakan hari peringatan untuk memohon keselamatan ke hadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata atau peralatan yang dibuat dari besi, logam, perak, emas dan sejenisnya yang dipergunakan oleh manusia dalam kehidupannya,” jelas Arwati.

Pengharapannya tentu saja agar segala benda yang telah sangat membantu aktivitas manusia itu kian diberkahi sehingga tetap memberikan tuah, tetap memberikan manfaat bagi kerahayuan umat manusia dan dunia. Di sini juga tersirat adanya ungkapan terima kasih manusia Bali terhadap berbagai jenis benda atau alat-alat produksi tersebut.

Beginilah memang cara tradisional manusia Bali menghargai keberadaan teknologi. Kendati pun secara fisik yang tampak adalah pemberian sesaji kepada senjata pusaka atau alat-alat produksi, secara esensi sejatinya sebagai pernyataan syukur dan penghargaan karena segala teknologi itu telah membantu manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya.

Tetua-tetua Bali di masa lalu tampaknya amat menyadari betapa pentingnya peranan teknologi. Teknologi yang membuat manusia bisa menaklukkan berbagai kesulitan-kesulitan dalam hidup. Teknologi pula yang menempatkan manusia meningkatkan taraf kehidupannya.

Bila makna ini yang ditangkap, semestinya manusia Bali tidak hanya berhenti dengan ritual pengharapan agar segala senjata bertambah tajam atau alat-alat produksi tetap memberikan manfaat. Akan tetapi, mesti secara kreatif pula mengejar pencapaian-pencapaian teknologi yang bisa membantu manusia Bali sendiri meraih kesejahteraan hidupnya.

Itu berarti manusia Bali mesti mengedepankan logika, olah pikir. Pesan ini pula yang disiratkan dari perayaan hari Tumpek Landep. Manusia Bali tiada boleh berhenti mengasah ketajaman pikirannya sehingga tercapai kecemerlangan budi.  (b.)

  • Penulis: Ketut Jagra
  • Foto: Ketut Jagra
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi untuk Semua

28 Maret 2025 - 14:47 WITA

Ogoh-Ogoh dan Persatuan Gerak Generasi Muda

28 Maret 2025 - 14:23 WITA

Saraswati, E-book, dan Hoaks

8 Februari 2025 - 08:09 WITA

Siwaratri, Momentum Pendidikan Spiritual dan Lingkungan di Sekolah

27 Januari 2025 - 07:32 WITA

“Banyupinaruh”: “Malukat” Dahulu, “Nyurud Nasi Pradnyan” Kemudian

21 Mei 2023 - 08:18 WITA

Pamacekan Agung, Titik Temu Galungan-Kuningan

9 Januari 2023 - 11:54 WITA

Trending di Rerahinan