Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Jani · 31 Mei 2026 10:51 WITA ·

Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI


					Tari kreasi inovatif Perbesar

Tari kreasi inovatif "Madedari" karya Putu Ayu Kartika Dewi

Petang itu, wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan dipenuhi bunyi gamelan yang bergema bersahut-sahutan. Di atas panggung, para penari bergerak mengikuti irama, sementara penonton duduk khusyuk menyaksikan setiap adegan yang tersaji. Namun yang dipertontonkan petang itu bukan sekadar karya seni. Ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan kekuatan spiritual yang selama berabad-abad membentuk kehidupan masyarakat Bali.

Melalui Diseminasi Karya Tugas Akhir Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, memperlihatkan bahwa seni masih memiliki daya untuk mengajak manusia merenungkan kembali makna harmoni di tengah perubahan zaman. Ada lima karya yang dipentaskan. Berbeda bentuk dan sumber inspirasinya, tetapi semuanya berangkat dari akar yang sama: tradisi dan kearifan lokal Bali.

Tabuh kreasi “Ruwating Bumi” karya I Made Upadana mengangkat tradisi sakral Perang Gandu dari Desa Adat Tumbak Bayuh. Melalui dinamika bunyi yang bertemu dan bertabrakan, karya ini menghadirkan gambaran tentang pertarungan dua kekuatan yang berbeda sekaligus kebutuhan untuk mencapai keseimbangan.

Tema serupa muncul dalam tari kreasi “Nalaskara” karya I Kadek Oka Prawira Wibawa yang terinspirasi ritual Siat Geni. Api ditampilkan bukan semata unsur fisik, melainkan lambang energi kehidupan yang harus dikelola agar tidak berubah menjadi kekuatan yang merusak. Sementara tabuh kreasi “Samagama” karya I Gusti Lanang Agung Aditya Darma Putra menghadirkan semangat kebersamaan yang lahir dari tradisi Memasar di Desa Menanga, Karangasem, ketika masyarakat bertemu, berinteraksi, dan memperkuat ikatan sosial mereka.

Nuansa spiritual terasa lebih kental dalam tari kreasi “Madedari” karya Putu Ayu Kartika Dewi yang berangkat dari fenomena sakral Dedari di Desa Duda Utara. Sedangkan baleganjur kreasi “Temurun Warsa” karya I Putu Rizky Anggara Putra mengangkat harapan masyarakat terhadap turunnya hujan sebagai sumber kehidupan melalui inspirasi Upacara Mendak Hujan di Pecatu. Karya tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan spiritual dan budaya.

Proyek Inovatif dan Kolaboratif

Ketua Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Bali, I Gede Gusman Adigunawan, S.Sn., M.Sn., mengatakan bahwa karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil proses kreatif yang bertumpu pada kekayaan tradisi Bali. “Lima karya yang dipentaskan dalam diseminasi tersebut terdiri atas karya tabuh kreasi, baleganjur kreasi, dan tari kreasi yang berangkat dari kekayaan tradisi lokal Bali,” ujarnya.

Menurut Gusman, tugas akhir dalam bentuk proyek inovatif seni pertunjukan memberi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga artistik dan manajerial. Bahkan seluruh penyelenggaraan kegiatan dikelola secara kolaboratif oleh mahasiswa.

“Seluruh proses, mulai dari perencanaan, produksi, hingga publikasi pertunjukan, dikelola secara kolaboratif sehingga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dalam mengelola sebuah produksi seni pertunjukan profesional,” katanya.

Di balik pertunjukan yang berlangsung beberapa jam itu sesungguhnya tersimpan proses belajar yang panjang. Mahasiswa tidak hanya mencipta karya, tetapi juga belajar menyusun konsep, mengorganisasi tim, mengelola produksi, hingga mempertanggungjawabkan gagasannya secara akademik.

Rektor UPMI yang diwakili oleh Wakil Rektor II UPMI Bali, Dr. Drs. I Wayan Sudiarsa, M.Si., menilai kegiatan tersebut menunjukkan penerapan kurikulum berbasis luaran atau outcome based education (OBE) yang memberi ruang kepada mahasiswa untuk menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Dekan FBS UPMI Bali, Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa tugas akhir nonskripsi merupakan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih fleksibel dan relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, proyek seni pertunjukan yang dihasilkan mahasiswa tetap dilengkapi laporan akademik yang menjelaskan proses kreatif dan relevansinya dengan pendidikan seni budaya.

Ketika pertunjukan berakhir dan suara gamelan perlahan mereda, penonton meninggalkan wantilan dengan membawa lebih dari sekadar pengalaman menonton. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, lima karya mahasiswa itu seakan mengingatkan bahwa Bali memiliki warisan nilai yang tetap relevan: menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari seni. Bukan hanya untuk ditonton, melainkan untuk membantu manusia mengingat kembali apa yang patut dirawat bersama. (b.)

  • Laporan: I Ketut Jagra
  • Foto: I Ketut Jagra
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani