Menu

Mode Gelap
Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

Bali Jani · 17 Feb 2026 22:31 WITA ·

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali


					Salah satu peserta wimbakara (lomba) musikalisasi puisi Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa Denpasar, Selasa, 17 Februari 2026. Perbesar

Salah satu peserta wimbakara (lomba) musikalisasi puisi Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa Denpasar, Selasa, 17 Februari 2026.

Suasana Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa (17/2/2026) terasa sedikit berbeda pada hari pertama Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII. Dari delapan peserta yang tampil, sebagian besar merupakan wajah-wajah baru. Bukan hanya baru di lomba ini, sebagian bahkan datang dari generasi yang sebelumnya jarang terlihat di panggung musikalisasi puisi Bali.

Fenomena ini menjadi isyarat kuat adanya regenerasi. Ajang yang selama ini identik dengan kelompok-kelompok mapan kini mulai diramaikan oleh peserta muda dengan semangat milenial yang segar.

Juri I Komang Darmayuda menjelaskan, kriteria penilaian tahun ini tidak berubah. Originalitas aransemen, kemampuan memadukan alat musik, penggarapan puisi menjadi lagu, penataan harmoni, kualitas vokal, hingga penampilan secara keseluruhan tetap menjadi tolok ukur utama.

“Peserta tahun ini ada perubahan signifikan dengan hadirnya kaum milenial,” ujarnya usai penjurian.

Kejutan lain datang dari kehadiran peserta setingkat SMP. Bagi dewan juri, ini bukan sekadar soal usia, melainkan langkah strategis menanamkan kecintaan pada bahasa Bali sejak dini. Melalui musikalisasi puisi, para siswa tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi juga belajar memahami dan menghayati bahasa Bali secara lebih mendalam.

Darmayuda, yang juga dosen Institut Seni Indonesia Bali, menilai puisi-puisi yang dibawakan para peserta memiliki kualitas bahasa yang sangat baik. Karya-karya sastrawan Bali itu menjadi media belajar yang efektif. Bahkan, beberapa peserta dinilai sudah mampu menangkap makna puisi wajib “Lawat” dengan cukup dalam. Untuk puisi kedua, peserta diberi kebebasan memilih atau mencipta karya sendiri, selama tetap sejalan dengan tema Bulan Bahasa Bali.

Keluar dari Pakem

Dari sisi musikalitas, para pendatang baru mulai berani keluar dari pakem lama. Jika tahun-tahun sebelumnya aransemen banyak bergerak di wilayah minor, tahun ini mulai muncul eksplorasi tangga nada pentatonik yang terasa lebih selaras dengan karakter puisi Bali. Unsur selendro dan pelog pun hadir, memperkaya nuansa bunyi.

“Penggunaan gamelan sangat tepat karena puisi bahasa Bali identik dengan instrumen tersebut,” kata Darmayuda.

Sementara itu, juri I Ketut Mandala Putra mengakui munculnya energi baru dalam lomba kali ini. Namun, ia juga mencatat bahwa keberanian berkreasi belum sekuat tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu banyak peserta berani memasukkan alat musik dari daerah lain, bahkan menciptakan bunyi-bunyian unik. Kreativitasnya lebih terlihat,” ujarnya.

Mandala mengenang lomba sebelumnya, ketika ada peserta menggunakan siter dari Sunda, bahkan memanfaatkan kacang hijau dalam plastik untuk menghasilkan efek suara tak biasa. Inovasi semacam itu memberi warna baru dalam pengolahan musik puisi.

Tahun ini, kreativitas tetap ada, tetapi cenderung lebih aman. Banyak aransemen mengarah ke gaya pop dengan penggunaan instrumen yang umum. Padahal, pendekatan seperti itu kerap menjadi catatan evaluasi dewan juri pada tahun-tahun lalu.

Selain itu, masih ditemukan ketidaksinkronan antara makna puisi dan penggarapan musik. Puisi “Lawat” karya Ida Bagus Pawanasuta, misalnya, memiliki muatan kontemplatif dan hening. Namun, dalam beberapa penampilan, aransemen musik justru terasa gaduh sehingga suasana batin puisi tidak sepenuhnya hadir.

Meski begitu, Mandala tetap memberi apresiasi pada sejumlah eksplorasi menarik. Ada peserta yang memainkan gamelan tanpa dipukul, melainkan mengolah bilah kayu untuk menciptakan bunyi baru. Ada pula yang memetik gitar dengan teknik pantulan senar, menghasilkan efek suara yang berbeda dari kebiasaan.

Secara keseluruhan, Lomba Musikalisasi Puisi Bali 2026 memperlihatkan satu hal penting, yakni regenerasi sedang berlangsung. Kehadiran generasi muda membawa harapan baru bagi pelestarian bahasa Bali. Tantangannya kini adalah bagaimana semangat itu terus didorong agar berani, jujur, dan kreatif dalam mengolah sastra menjadi karya musikalisasi yang benar-benar menyatu dengan maknanya.

  • Penulis: I Nyoman Dhirendra
  • Foto: I Nyoman Dhirendra
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

5 November 2025 - 20:53 WITA

Habis PKB, Terbitlah FSBJ: Merajut Kesinambungan Seni Tradisional dan Modern

19 Juli 2025 - 23:18 WITA

Trending di Bali Jani