Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 24 Mar 2013 00:10 WITA ·

Penjor Galungan Jor-joran


					Penjor Galungan Jor-joran Perbesar

Teks dan Foto: I Made Sujaya 

SETIAP menyambut hari suci Galungan, yang mengundang kebahagiaan pada diri Wayan Kusuma Putra (39) yakni ketika membuat penjor. Mulai empat hari menjelang Galungan, Wayan sudah sibuk membeli aneka perlengkapan untuk membuat penjor. Diawali dengan mencari bambu yang bentuknya paling bagus dengan kelengkungan yang sempurna, membeli daun rontal, membuat reringgitan atau aneka kreasi hiasan penjor. Harapan Wayan hanya satu, penjornya tidak kalah saing dengan penjor-penjor tetangganya.

“Malu juga kalau penjor kita sekadarnya. Ya, setidak-tidaknya sedikit bisa sepadan kualitasnya dengan penjor-penjor tetangga. Biar kelihatan juga megalungan (merayakan hari Galungan). Hari Galungan kan hari kemenangan, jadi mesti meriahlah,” kata Wayan yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan hotel di kawasan Seminyak.

Memang, jika diamati penyambutan hari suci Galungan di Bali kini sepertinya meriah sekali. Sebagai ciri kemeriahan itu, penjor yang dipancangkan di sisi kanan depan rumah masing-masing warga belakangan semakin mewah, indah dan memesona. Jika dulu penjor Galungan relatif sederhana, kini benar-benar mengagumkan lengkap dengan aneka kreasi seni.

Cobalah tengok keberadaan penjordi desa-desa seeperti Kerobokan, Kuta, Legian (Badung), Ubud, Gianyar, serta di Denpasar. Kebanyakan bentuk penjor Galungan penuh dengan kreasi seni. Bambu penjordibungkus dengan kertas aneka warna. Bahkan ada juga yang membungkus dengan kain beludru. Dilengkapi lagi dengan padi serta berbagai jenis palagantung serta sampian penjor yang berukuran jumbo, penuh warna. Banyak yang menyebut penjor-penjor kini saling paenjorin, jor-joran.

Karena tampilan penjor yang mewah itu, biaya yang dihabiskan juga tak tanggung-tanggung. Paling murah, sebuah penjor menghabiskan dana Rp 100.000. Namun, rata-rata menghabiskan biaya Rp 300.000-Rp 500.000. Bahkan, ada juga yang menghabiskan biaya Rp 1.000.000 untuk sebuah penjor.

Kondisi ini diakui Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Menurutnya, jika membuat penjor yang mewah dilandasi oleh hati yang tulus dan kemampuan, tentu bagus sekali. Namun, yang patut dipertimbangkan kembali, jika membuat penjor mewah itu dilandasi oleh perasaan malu dengan tetangga. Apalagi jika membuat penjor mewah didasari oleh keinginan untuk bersaing atau jor-joran.

“Ketika ber-yadnya tidak boleh karena majengah-jengahan atau jor-joran. Tidak baik ber-yadnya dengan sarana yang melebihi kemampuan yang dimiliki. Begitu juga ketika membuat penjorsebagai sarana upakara ketika ber-yadnya saat hari suci Galungan,” kata Sudiana.

Menurut Sudiana, umat Hindu mesti membuat penjor sesuai kemampuan. Jika memiliki sedikit, cukup membuat penjoryang sederhana. Jika memiliki lebih, boleh-boleh saja membuat penjor yang lebih istimewa tetapi tetap harus didasari niat yang tulus, suci dan ikhlas.

“Yang harus diingat, inti dari yadnya adalah hati yang suci, tulus dan ikhlas. Ber-yadnya itu bukan arena untuk pamer untuk menunjukkan kekayaan,” kata Sudiana mengingatkan.

Sudiana menambahkan, penjor yang baik bukanlah penjor yang menelan biaya mahal. Penjor yang sederhana dengan biaya seadanya juga bisa menarik dan enak untuk dipandang. Pasalnya, yang menentukan adalah bagaimana menghias penjor itu dengan baik.

Namun, Sudiana mengajak umat Hindu untuk beragama dengan cara yang lebih rasional. Galungan, kata Sudiana, merupakan hari suci sebagai momentum untuk mulat sarira, introspeksi atau melihat ke dalam diri. Saat Galungan umat diharapkan bersyukur atau segala karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan berdoa agar dunia semakin sejahtera, aman, tenteram dan damai. Karena itu, perlu ditumbuhkan sikap bisa dan mau merasakan penderitaan orang lain.

Jika kini kita membuat penjorterlampau mewah lalu memunculkan perasaan yang tidak baik dari tetangga, tentu yadnya tersebut kurang sesuai dengan amanat hari suci Galungan. “Ketika Galungan, termasuk saat membuat penjor, kita harus bisa menjaga perasaan orang lain, sehingga ikatan kebersamaan dalam masyarakat tetap bisa terjaga dengan baik,” kata Sudiana.

Sudiana kemudian mencontohkan, jika ketika membuat penjor biasanya menghabiskan biaya Rp 500.000, alangkah baiknya jika yang dimanfaatkan hanya Rp 100.000. Sisa dana itu di-dana punia-kan ke panti asuhan, panti jompo atau membantu orang lain yang kurang mampu.

“Jika bisa begitu kan bagus. Ber-yadnya tetap bisa, membuat penjor yang baik juga bisa serta yang lebih penting membantu sesama juga bisa serta dengan tetangga juga tetap baik karena bisa menjaga perasaan orang lain. Justru itulah yadnya yang utama,” tandas Sudiana. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 90 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi