Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 24 Mar 2009 07:00 WITA ·

Melasti dan Bayang-bayang Krisis Air Bali


					Melasti dan Bayang-bayang Krisis Air Bali Perbesar

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Sejak Minggu (22/3) lalu hingga Selasa (24/3) hari ini, umat Hindu di Bali melaksanakan upacara pemelastian sebagai rangkaian dari hari suci Nyepi tahun baru Saka 1931 yang jatuh pada Kamis (26/3) lusa. Umat berbondong-bondong mengarus menuju pantai, danau, sungai, atau pusat-pusat mata air lainnya. Inilah sebuah ritus sosio-religius perjalanan menuju air.

Ada banyak pendapat mengenai makna melasti. Namun, makna yang umum diketahui yakni sebagai proses penyucian alam makrokosmos bhuwana agung sehingga saat hari suci Nyepi, dunia sudah berada dalam kondisi suci, bersih. Sementara pada sehari menjelang Nyepi dilaksanakan tawur agung kesanga (sejenis upacara penyucian alam makrokosmos juga) yang diakhiri dengan upacara mabuu-buu serta mabyakala yakni upacara pembersihan diri (pemnbersihan alam mikrokosmos.

Namun, melasti sesungguhnya berasal dari kata me dan lasti. Lasti berarti tepi. Senyatanya melasti memang perjalanan menuju tepi pusat mata air: tepi laut, tepi danau, tepi sungai dan sejenisnya. Ini merupakan tradisi agraris yang mengingatkan manusia untuk senantiasa menjaga pusat-pusat mata air. Sebab, dalam keyakinan orang Bali, air adalah sumber kehidupan.

Agama orang Bali, sebelum diakui sebagai agama Hindu, dikenal dengan sebutan agama tirtha, agama air. Agama yang ritualnya diawali dan diakhiri dengan air suci (tirtha). Air menjadi pokok ritual keagamaan orang Bali.

Namun, ratusan tahun melasti dilaksanakan di Bali, bayang-bayang krisis air tetap saja menghantui. Tradisi ritual yang sarat pesan untuk merawat pusat-pusat mata air ternyata tak diikuti dengan kesadaran untuk menjaga sumber-sumber mata air Bali.

Karenanya, sudah saatnya melasti tidak semata dimaknai sebatas sebagai ritual religius dengan makna simbolis tetapi juga harus diresapi sebgai pesan kultural yang penting untuk mulai merawat dan melestarikan sumber-sumber air Bali. Hanya dengan begitu, Bali akan tetap menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali, tidak saja bagi manusia Bali, tetapi juga bagi agama tirtha, agama air, agama Hindu.

Selamat Hari Suci Nyepi tahun Baru Saka 1931!
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi