Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 12 Des 2008 04:59 WITA ·

Berkarma sesuai “Swadharma”, Berdamai dengan Sang Kala


					Berkarma sesuai “Swadharma”, Berdamai dengan Sang Kala Perbesar

Mengungkap Misteri “Wuku Wayang”


Di antara 30 wuku yang ada dalam tradisi pawukon Bali, wuku Wayang tergolong memiliki kekhususan tersendiri. Betapa tidak, hari-hari dalam wuku Wayang dianggap leteh (kotor). Menurut Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Upacara Upakara Agama Hindu Berdasarkan Pawukon, wuku Wayang merupakan saat bertemunya Sang Wayang dengan Sang Sinta. Hal ini mengacu kepada isi lontar Sundarigama.

“Tidak dibenarkan melakukan penyucian diri, terutama pada hari Jumat Wage Wuku Wayang,” kata Sri Arwati.


Penekun lontar, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA., M.M., menambahkan hari Jumat Wage merupakan titik puncak dari kekotoran dunia (rahina cemer). Lazim disebut dengan istilah dina kala paksa
“Saat itu umat Hindu tidak diperkenankan mencuci rambut atau keramas. Bagi para wiku (pendeta) juga tidak diperkenankan memuja,” jelas Sudarsana. 
Sudarsana kemudian memberi penjelasan mengapa hari dina kala paksa dianggap sebagai hari paling kotor. Menggunakan pendekatan Tattwa Samkya, Sudarsana menguraikan wuku Wayang memiliki urip 4, hari Jumat (Sukra) memiliki urip 6, dan wara Wage memiliki urip 4. Jika ketiga urip itu dijumlahkan, didapat angka 14. Angka 14 terdiri dari angka 1 dan 4, yang jika dijumlahnya menjadi 5. 
Angka 5 tersebut, dalam pemahaman Sudarsana merupakan simbol dari kekuatan panca maha bhuta (lima unsur pembentuk tubuh). Karenanya, dina kala paksa merupakan hari yang dikuasai kekuatan panca maha bhuta sehingga menjadi puncak hari kotor. Saat itu kekuatan Kala dinyatakan sedang memuncak. 
Untuk menetralisir kekotoran pada dina kala paksa, lontar Sundarigama mengamanatkan untuk mengoleskan kapur sirih pada ulu hati. Olesan kapur sirih itu berbentuk tampak dara (tanda silang). 
Selain itu, menurut Sudarsana, umat juga disarankan memasang sesuwuk (semacam penanda). Sesuwuk tersebut terbuat dari daun pandan berduri, dipotong-potong yang panjangnya 5 cm. Selanjutnya diolesi kapur sirih berbentuk tampak dara (silang). Sesuwuk dibuat sebanyak bangunan suci dan rumah yang dimiliki. 
Daun pandan tersebut dialasi dengan sebuah sidi serta diisi juga sebuah takir berisi kapur sirih dan benang tridatu sepanjang dua jengkal, lengkap dengan canang sari. Di dalam sidi diisi sebuah takir lagi lengkap dengan tri ketuka (mesui, kesuna, jangu) yang telah digerus. 
Semua sesuwuk itu, menurut Sudarsana, sarat dengan makna. Daun pandan berduri disebutnya sebagai simbol kekuatan Kala, serta dioles dengan kapur sirih sebagai simbol kekuatan dharma. Tanda tapak dara merupakan simbol kekuatan swastika untuk mengembalikan adharma menuju dharma. 
Daun pandan yang dikumpulkan menjadi satu kemudian diikat dengan benang tri datu serta dialasi sidi merupakan simbol permohonan ke hadapan Hyang Widhi agar dianugerahkan kesidhian (kecemerlangan pikiran), sabda, bayu dan idep sehingga bisa memiliki kekuatan religiomagis dalam mengembalikan kekuatan kala tersebut ke sumbernya. Semua menjadi Kala Hita, untuk bisa memberikan kesejahteraan alam semesta. 
Keesokan harinya, sesuwuk itu dibuang ke lebuh (di depan pintu gerbang rumah). Lebuh merupakan simbol nistaning mandhala serta menjadi menjadi simbol sapta patala, sorganya Kala. Ini berarti mengembalikan Kala ke asalnya. 
Jika dicermati, wuku Wayang memberi pesan penting tentang bagaimana semestinya manusia berdamai dengan waktu (kala). Hari-hari wuku Wayang yang berpuncak pada Tumpek Wayang mengingatkan manusia betapa yang tak bisa dikalahkan adalah sang Waktu. Jika orang tak memahami hakikat waktu, maka waktulah yang akan menyantapnya, menelannya. 
Pesan ini semakin jelas tertangkap pada mitologi Sang kala memburu Sang Kumara. Karena diburu Sang Kala, Sang Kumara memilih bersembunyi di bumbung gender sang Dalang. Cerita ini mengandung makna jika seseorang tak ingin ditelan waktu, dia harus meminta perlindungan kepada Sang Dalang Agung, Tuhan Yang Maha Esa. Tempat berlindung di bumbung gender mengisyaratkan pesan agar manusia mengikuti irama dinamis dari perjalanan zaman dalam hidup dan kehidupannya. Sederhanya, berkarmalah sesuai swadharma dan berdamai dengan Sang Kala. (b.)

Teks dan Foto: Ketut Jagra

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 65 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi