Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Dewasa Ayu · 18 Nov 2008 06:44 WITA ·

“Sasih Kadasa” dan “Sasih Kapat”, Hari Baik untuk “Nganten”


					“Sasih Kadasa” dan “Sasih Kapat”, Hari Baik untuk “Nganten” Perbesar

Upacara pernikahan di sebuah keluarga Bali.


Oleh: I MADE SUJAYA 

Jika memungkinkan, pelaksanaan upacara pernikahan sebaiknya memilih hari terbaik. Dengan pemilihan hari yang paling baik, diharapkan bisa memberikan pengaruh pada pelaksanaan upacara sehingga harapan tentang perkawinan yang langgeng, bahagia, dikaruniai banyak anak bisa terwujud. 

Bila Anda tidak terburu-buru, tidak ada salahnya menunggu sasih Kadasa (bulan ke sepuluh dalam kalender Bali, sekitar bulan April) untuk melangsungkan pernikahan. Pasalnya, dalam tradisi padewasan (hari baik-buruk melakukan sesuatu) Bali, Sasih Kadasa dinilai sebagai saat yang paling baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.

Penekun wariga yang juga penyusun kalender Bali, I Gede Marayana mengungkapkan ada lima sasih yang dianggap baik untuk melaksanakan upacara pernikahan. Keempat sasih itu yakni Katiga, Kapat, Kalima, Kapitu dan Kadasa. Namun, ada juga yang menyebut sasih Katiga itu kadang-kadang baik, kadang-kadang buruk untuk melangsungkan pernikahan.

Jika menikah pada sasih Katiga diyakini akan dikaruniai banyak anak (bala putra). Jika pada sasih Kapat dipercaya bisa kaya raya (sugih rendah). Sementara jika memilih menikah pada sasih Kalima diyakini tidak akan kekurangan sandang pangan (kasidhanan amertha). Jika memilih menikah pada sasih kapitu dipercaya bisa berumur panjang (rahayu dirgayusa). Sementara jika memilih menikah pada sasih Kadasa diyakini bisa menikmati kesenangan dan kegembiraan sepanjang hidup (sukawinaya).

Di antara semua sasih itu, sasih Kadasa dianggap yang paling baik. Sasih Kadasa dinilai sebagai hari ayu nulus, baik untuk segala kegiatan.
Namun, dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, IB Putra Manik Aryana, S.S., mengingatkan agar pelaksanaan upacara pawiwahan pada sasih-sasih tadi juga dilengkapi dengan memilih pada hari penanggal (hari-hari setelah Tilem atau bulan mati) bukan panglong (hari-hari setelah Purnama atau bulan terang). Alasannya, saat hari-hari penanggal, bulan berkembang keadaannya dari redup menuju terang. Hal ini dipandang sangat baik sebagai saat melangsungkan upacara pernikahan karena pernikahan diharapkan bisa menerbitkan kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan dan kerahayuan dalam keluarga seperti halnya cahaya terang bulan.
Di antara hari-hari sepanjang penanggal itu, menurut Wayan Simpen AB dalam buku Pelajaran Dewasa (Wariga), penanggal 10 diyakini sebagai hari paling baik (selamat walafiat, banyak kesenangan dan kebahagiaan). Sementara hari-hari lainnya yang juga dianggap baik yakni penanggal (mendapat kekayaan, sayang bersuami istri), penanggal 3 (banyak kesenangan, bahagia), penanggal 5 (cukup mendapat kesenangan), penanggal 7 (amat bahagia, kaya tak kurang suatu apa pun).
Selain berdasarkan sasih dan penanggal/panglong, hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan juga bisa ditentukan berdasarkan saptawara (hari-hari sepanjang satu pekan). Di antara tujuh hari dalam saptawara, Buda (Rabu) dianggap paling baik. Jika memilih hari Rabu, diyakini pasangan pengantin akan dikarunai banyak putra.
Namun, hari-hari lain juga dianggap baik yakni Soma (Senin) karena diyakini akan mendapat kesenangan. Whraspati (Kamis) juga dinilai baik karena diyakini pasangan pengantin akan dikasihi orang. Selain itu, Sukra (Jumat) juga dianggap baik karena pasangan bisa senang, dan berwibawa. (b.)

_________________________ 
Penyunting: KETUT JAGRA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 449 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

Batu Lantang: Legenda Batu Panjang “Panekek Jagat”

3 Juni 2021 - 22:15 WITA

“Matuunan”: Menghadirkan Kembali yang Sudah Tiada

26 Mei 2021 - 22:15 WITA

Dongeng Gerhana Bulan dan Generasi Milenial

26 Mei 2021 - 05:50 WITA

Pegatwakan Tiba: Ngabut Penjor Dulu, Nanceb Tetaring Kemudian

19 Mei 2021 - 05:19 WITA

Begini Hari Baik Berhubungan Intim Menurut Lontar “Pameda Smara”

11 Mei 2021 - 23:37 WITA

Trending di Cakepan