Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Ala Ayuning Dewasa · 18 Nov 2008 06:44 WITA ·

“Sasih Kadasa” dan “Sasih Kapat”, Hari Baik untuk “Nganten”


					Upacara pawiwahan sebuah keluarga Bali. Perbesar

Upacara pawiwahan sebuah keluarga Bali.

Jika memungkinkan, pelaksanaan upacara pernikahan sebaiknya memilih hari terbaik. Dengan pemilihan hari yang paling baik, diharapkan bisa memberikan pengaruh pada pelaksanaan upacara sehingga harapan tentang perkawinan yang langgeng, bahagia, dikaruniai banyak anak bisa terwujud.

Bila Anda tidak terburu-buru, tidak ada salahnya menunggu sasih Kadasa (bulan ke sepuluh dalam kalender Bali, sekitar bulan April) untuk melangsungkan pernikahan. Pasalnya, dalam tradisi padewasan (hari baik-buruk melakukan sesuatu) Bali, Sasih Kadasa dinilai sebagai saat yang paling baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.

Penekun wariga yang juga penyusun kalender Bali, I Gede Marayana mengungkapkan ada lima sasih yang dianggap baik untuk melaksanakan upacara pernikahan. Keempat sasih itu yakni Katiga, Kapat, Kalima, Kapitu dan Kadasa. Namun, ada juga yang menyebut Sasih Katiga itu kadang-kadang baik, kadang-kadang buruk untuk melangsungkan pernikahan.

Jika menikah pada Sasih Katiga diyakini akan dikaruniai banyak anak (bala putra). Jika pada sasih Kapat dipercaya bisa kaya raya (sugih rendah). Sementara jika memilih menikah pada Sasih Kalima diyakini tidak akan kekurangan sandang pangan (kasidhanan amertha). Jika memilih menikah pada Sasih Kapitu dipercaya bisa berumur panjang (rahayu dirgayusa). Sementara jika memilih menikah pada Sasih Kadasa diyakini bisa menikmati kesenangan dan kegembiraan sepanjang hidup (sukawinaya).

Di antara semua sasih itu, Sasih Kadasa dianggap yang paling baik. Sasih Kadasa dinilai sebagai hari ayu nulus, baik untuk segala kegiatan.

Hari Pananggal

Namun, dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, IB Putra Manik Aryana, S.S., mengingatkan agar pelaksanaan upacara pawiwahan pada sasih-sasih tadi juga dilengkapi dengan memilih pada hari pananggal (hari-hari setelah Tilem atau bulan mati) bukan panglong (hari-hari setelah Purnama atau bulan terang). Alasannya, saat hari-hari pananggal, bulan berkembang keadaannya dari redup menuju terang. Hal ini dipandang sangat baik sebagai saat melangsungkan upacara pernikahan karena pernikahan diharapkan bisa menerbitkan kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan dan kerahayuan dalam keluarga seperti halnya cahaya terang bulan.

Di antara hari-hari sepanjang pananggal itu, menurut Wayan Simpen AB dalam buku Pelajaran Dewasa (Wariga), pananggal 10 diyakini sebagai hari paling baik (selamat walafiat, banyak kesenangan dan kebahagiaan). Sementara hari-hari lainnya yang juga dianggap baik yakni pananggal (mendapat kekayaan, sayang bersuami istri), pananggal 3 (banyak kesenangan, bahagia), pananggal 5 (cukup mendapat kesenangan), pananggal 7 (amat bahagia, kaya tak kurang suatu apa pun).

Selain berdasarkan sasih dan pananggal/panglong, hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan juga bisa ditentukan berdasarkan saptawara (hari-hari sepanjang satu pekan). Di antara tujuh hari dalam saptawara, Buda (Rabu) dianggap paling baik. Jika memilih hari Rabu, diyakini pasangan pengantin akan dikarunai banyak anak.

Namun, hari-hari lain juga dianggap baik yakni Soma (Senin) karena diyakini akan mendapat kesenangan. Whraspati (Kamis) juga dinilai baik karena diyakini pasangan pengantin akan dikasihi orang. Selain itu, Sukra (Jumat) juga dianggap baik karena pasangan bisa senang, dan berwibawa. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
  • Foto: Istimewa I Komang Sutrisna
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 2,832 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Hari Ini Nyepi Segara di Kusamba, Begini Sejarah, Makna, dan Fungsinya

9 November 2022 - 08:17 WITA

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan
Trending di Desa Mawacara