Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bale Bengong · 22 Okt 2022 08:52 WITA ·

Ketimpangan Filsafat dan Dominasi Superkognitif: Renungan Hari Saraswati


					Sesaji saat Hari Saraswati. Perbesar

Sesaji saat Hari Saraswati.

Oleh I Wayan Artika

Ketika berasumsi bahwa di sekolah siswa atau manusia belajar ilmu secara formal atau mendapatkan pengetahuan secara formal; pengetahuan-pengetahuan yang sudah dikurikulumkan;  pengetahuan diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi suatu takaran untuk dapat dikuasai; dan di dalamnya guru-guru bekerja untuk menyampaikan ajaran-ajaran ilmu pengetahuan; maka sejatinya pendidikan di sekolah adalah pendidikan kognitif. Pendidikan semacam itu menekankan pada transfer ilmu pengetahuan teori. Guru dihargai dalam posisinya sebagai orang yang dapat mencerdaskan manusia.

Pengetahuan yang disampaikan di sekolah atau yang dipelajari kemudian dikaitkan dengan mitologi sains yang bercampur aduk antara adat dan rasio atau aspek religiusitas dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Siswa dimotivasi atau dibius oleh suatu kecantikan Dewi Saraswati atau Dewi Ilmu pengetahuan. Ini menjadi alasan mengapa patung Dewi Saraswati selalu ditemukan di halaman depan atau lobi sekolah-sekolah di seluruh Bali. Patung itu seolah wajib dan telah menjadi suatu simbol untuk menguatkan bahwa narasi besar dalam pendidikan di sekolah (dari prasekolah hingga pendidikan tinggi atau setidaknya lebih jelas lagi pendidikan menengah baik umum maupun kejuruan), identik dengan transfer ilmu pengetahuan yang menyasar aspek kognitif; masih sebagai sebuah ketimpangan kalau pendidikan hanya tergelincir pada kognitivisme; yang memang benar demikian adanya dan telah menjadi narasi besar pendidikan; orientasi kerja guru.

Perlu melakukan penyeimbangan narasi sehingga pendidikan formal juga berurusan atau dengan tegas sampai kepada sikap (afektif) dan tindakan (psikomotor) di dalam konteks tiga ranah tujuan pendidikan. Kognitif sebagai narasi besar dalam pendidikan dan pengajaran, sejatinya tetap menggelincirkan dua ranah pendidikan lainnya, yakni efektif dan psikomotor. Itu suatu cara melihat kehadiran sekolah dan kurikulumnya dengan menggunakan filsafat pengetahuan atau filsafat ilmu.

Dalam filsafat ilmu para ahli telah menyatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia dapat dibagi menjadi tiga aspek, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi adalah apa yang dipelajari atau sebuah ilmu berkaitan dengan bidang apa; apakah matematika, apakah, ekonomi, politik, ideologi, dan lain sebagainya yang mana meliputi semesta pengetahuan manusia.

Epistemologi berkaitan dengan bagaimana ilmu itu dibangun dan metode-metode yang dikembangkan untuk menjadikan dirinya sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang benar-benar mandiri, mapan, maju dan berbeda sama sekali dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Filsafat ilmu juga berurusan dengan cara ilmu mencari dan menemukan kebenaran. Artinya, ilmu memiliki metode keilmuan atau metode ilmiahnya sendiri. Metode ini diuji secara terbuka dan tidak terikat oleh suatu standar atau nilai lain, tempat-tempat.

Ilmu pengetahuan dibangun dari suatu metode ilmiah. Jenis metode ini bergantung kepada karakter atau ontologi ilmu itu sendiri. Seorang ilmuwan tidak cukup hanya memahami tentang apa ilmu itu atau apa yang merupakan ontologi dari ilmu. Seorang ilmuwan mutlak tahu epistemologi ilmunya. Dengan demikian, dia dapat mengembangkan ilmu itu; mengembangkan temuan-temuannya yang termuthakir bagi kemajuan suatu cabang ilmu. Ilmu pengetahuan itu sejatinya secara epistemologis bukanlah sesuatu yang sudah final tetapi kebenaran kebenarannya tentative.  Metode ilmu yang dikembangkan juga adalah cara-cara untuk menguji kebenaran-kebenaran sementara ilmu pengetahuan. Dengan metodologi, ilmuwan justru melakukan kritik terhadap ontologi ilmu pengetahuan itu sendiri atau pengujian-pengujian terhadap kebenaran-kebenaran ontologis untuk menemukan kebenaran kebenaran ontologis baru yang lebih mutakhir.

Ilmu didedikasikan untuk kesejahteraan manusia.  Flsafat ilmu pengetahuan tidak bebas dari antroposentrisme. Manusia adalah pusat ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Aksiologi adalah rumusan-rumusan filosofis mengenai apa manfaat pengembangan ilmu pengetahuan bagi manusia.

Ilmu tidak hanya berurusan dengan kebenaran tetapi juga ilmu harus memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat ilmu bagi kehidupan manusia dalam sejarah peradaban yang panjang, dari masa lampau hingga hari ini, pernah diangkat oleh Albert Einstein dalam sepucuk surat pendek namun terasa aman puitis yang dibacakan di hadapan mahasiswa Institut Teknologi California tahun 1938. Dalam surat pendeknya yang sangat puitis itu Albert Einstein mengritik dan mempertanyakan hakikat nilai dari ilmu atau apa sejatinya manfaat ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia atau apa sebenarnya nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan yang mampu dibangun dan dikembangkan oleh para ilmuwan di dunia.

Einstein sedih atau khawatir karena ilmu yang sejatinya netral  ketika perang membuat manusia saling jagal, bunuh atau saling racun.  Pada masa damai ilmu membuat manusia hidup dikejar waktu dalam hari-hari hidup untuk mengejar target pekerjaan dan menjadi budak mesin-mesin. Itu dilakukan untuk satu alasan agar manusia mendapatkan ransum.

Kembali kepada konsep “Dewi Saraswati”, “Dewi Ilmu Pengetahuan” dan patung-patung perempuan cantik yang berdiri di atas teratai yang sedang mekar dan harum mengapung di atas telaga di halaman depan sekolah lengkap dengan beberapa ekor kodok, seekor angsa yang elok dan tangan-tangan Sang Dewi memegang benda-benda simbolik seperti ganitri dan wina atau alat musik petik lainnya. Pada hari terakhir dalam siklus 30 wuku atau pawukon menurut tradisi Hindu, sekolah-sekolah di Bali merayakan atau menutup siklus waktu dalam sistem penanggalan tradisional Bali dengan perayaan hari turunnya ilmu pengetahuan.

Perayaan ini identik dengan persekolahan karena itu pada hari raya Saraswati yang tahun ini jatuh pada tanggal 22 Oktober sibuk dengan peringatan atau perayaan hari turunnya ilmu pengetahuan. Ada berbagai lomba yang berkaitan dengan adat Bali dan perayaannya seperti  lomba memasak lawar yang diikuti oleh siswa dan guru. Ini semua adalah bentuk perayaan umum dari sebuah sistem pemikiran beragama secara ritual yang mampu memberikan kebahagiaan bagi pemeluknya. Itulah gambaran cara sekolah merayakan hari raya Saraswati atau hari raya ilmu pengetahuan.

Namun, masih tetap tidak disentuh bagaimana sebenarnya manusia tidak pernah bisa melepaskan diri dari sumbangan ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan itu memiliki nilai yang sangat tinggi bagi kehidupan manusia; bagi kebahagiaan manusia; bagi kesejahteraan manusia; dan bagi martabat manusia itu sendiri. Bagaimana memahami keberadaan Dewi Saraswati, sama dengan keberadaan ilmu pengetahuan yang berbagai jenis diajarkan di sekolah-sekolah yang telah diformalkan dalam buku-buku kurikulum serta bagaimana hubungan antara Dewi Saraswati dengan filsafat ilmu.  Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa pengetahuan yang diajarkan di sekolah tidak seimbang ditinjau dari segi filsafat ilmu.

Siswa dan guru hanya berada pada wilayah ontologi ilmu sebagaimana hal itu tampak pada mata pelajaran dan sudah jelas mata pelajaran-mata pelajaran apa pun itu di sekolah-sekolah menyentuh pada aspek ontologi atau apa yang dipelajari dalam ilmu atau suatu ilmu tentang apa; siswa tidak pernah diajari bagaimana metodologi keilmuan itu sendiri. Bagaimana ilmu ekonomi itu bisa berkembang dan dikembangkan; dengan cara apa para ahli bahasa atau ahli linguistik membangun data bahasa dan meramalkan bahasa-bahasa yang punah. Semua ilmu memiliki metodologi tersendiri.

Untuk mengembangkan diri, semua ilmu memiliki patokan-patokan metodologis yang teruji, terbuka, dan di sanalah para ilmuwan bekerja untuk mengembangkan ilmu itu sendiri. Jika ilmu itu berkembang dengan baik maka ilmu itu dipastikan memiliki nilai yang sangat tinggi dan bermanfaat besar kepada kesejahteraan manusia. Tapi di sekolah, guru dan siswa hanya sampai kepada hal yang dangkal dari ilmu itu; tentang apa; dan ini terkait dengan ranah kognitif yang menjadi superdominasi tujuan pembelajaran di sekolah.

Walaupun di sekolah dikenal dengan pendekatan saintifik, memahami bagaimana seorang ilmuwan bekerja; yang hendak diterapkan di sekolah sebagai satu metode belajar; namun guru sering lebih asyik memilih jalan pintas. Bukan berproses dalam menyampaikan pengetahuan karena ini jalan yang panjang dan membutuhkan waktu serta kesabaran. Akhirnya jalan yang dipilih adalah ilmu tidak disampaikan secara metodologis tetapi ilmu dijadikan barang atau materi yang dikirim dari satu tempat ke tempat lain.

Akibatnya, siswa berperan sebagai objek penerima dan guru sedemikian hina hanya sebagai perantara. Tampaklah dengan jelas secara ontologis pemahaman siswa, guru dan praktik pengajaran ilmu di sekolah tidak sampai kepada aspek epistemologinya yang mana aspek epistemologi ini sebenarnya bisa dijadikan metode-metode belajar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Guru tidak pernah mengajak siswa mengenal cara kerja ilmu. Guru tidak pernah menjelaskan bagaimana ilmu itu berkembang dan perkembangan ini adalah sumbangsih kerja para ilmuwan dalam bingkai epistemologi yang ia tekuni dan kembangkan.

Ketimpangan berikutnya adalah siswa tidak pernah diberitahu dengan meyakinkan, baik oleh kurikulum maupun oleh guru sendiri, apa manfaat ilmu yang dipelajari bagi kehidupan. Guru masuk kelas dan hanya datang dengan keyakinan serta rasa percaya diri bahwa dia hanya cukup akan menyampaikan ilmu mata pelajaran secara ontologism. Siswa pun pada akhirnya digiring untuk hanya mampu sampai kepada aspek kognitif.

Usaha-usaha untuk menggeser tujuan pendidikan ke arah afeksi dan psikomotor selalu gagal. Akhirnya pendidikan di sekolah adalah pendidikan ontologi dan pendidikan di sekolah, dari aspek keilmuan, tidak pernah sampai kepada epistemologi dan lebih-lebih aksiologi.

Apa akibat kondisi yang timpang dari dimensi filsafat ilmu? Tiada lain adalah siswa tidak mampu menemukan manfaat belajar di sekolah. Manfaat ini baru terasa setelah dia bekerja karena baru dibangun dari kesadarannya. Barulah mereka melakukan nostalgia epistemologis dan aksiologis ke masa silam ke masa-masa ia menjadi siswa SD, SMP, dan sekolah menengah.

Karena itu siswa tidak pernah bisa menemukan hubungan nyata antara ilmu yang dipelajari dan hidupnya atau perilakunya sehari-hari. Masih membutuhkan dua lagi, yakni dimensi epistemologi dan dimensi aksiologi. Pada keseluruhan rangkaian itulah ilmu menjadi realitas dalam kehidupan manusia karena ilmu itu tidak hanya ada secara ontologi tetapi juga epistemologi; yang terutama paling menyentuh kehidupan manusia adalah aksiologi karena aksiologi berbicara mengenai untuk apa ilmu dikembangkan dan untuk apa ilmu itu ada.

Ketimpangan filosofis pengajaran ilmu atau mata pelajaran di sekolah menyebabkan siswa tidak pernah mampu memaknai apa yang dia pelajari. Seakan-akan segala pengorbanan orang tua dan susah payah siswa belajar semata hanya untuk ujian. Para ahli, para peneliti, para ilmuwan besar mengembangkan cabang-cabang ilmu bukan untuk menyiapkan pelajaran di sekolah yang indah dalam hafalan dan akan dijadikan bahan kuis dalam evaluasi, ujian, asesmen tetapi ilmu dikembangkan di laboratorium-laboratorium yang sunyi dan dingin adalah untuk membantu manusia mengatasi persoalan; memudahkan hidupnya; meningkatkan kebudayaan dan martabatnya sebagai manusia yang menghormati alam dan binatang serta berbagai sumber daya bumi.

  • Penulis bernama lengkap Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. Kini tercatat sebagai dosen di Univesitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Selain mengajar, Artika juga sebagai pegiat literasi akar rumput di Komunitas Desa Belajar Bali di kampungnya di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Tabanan.
Artikel ini telah dibaca 92 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur

2 Mei 2024 - 05:35 WITA

Konservasi Pemikiran dan Budaya Melalui Gerakan Literasi Akar Rumput

21 Desember 2023 - 05:06 WITA

Bertapa Kata-kata di Era Media Sosial [Renungan Hari Saraswati]

20 Mei 2023 - 06:10 WITA

Literasi di Tengah Tantangan Ekonomi Orang Tua Siswa: Catatan Safari Literasi Akar Rumput di Jembrana

14 Mei 2023 - 11:40 WITA

Menguak Hegemoni Teks Ilmiah di Kampus: Catatan Safari Literasi di UPMI Bali

25 Maret 2023 - 09:17 WITA

Menggiring Bebek: Catatan dari Sebuah Lomba Menulis Esai

12 Desember 2022 - 18:39 WITA

Trending di Bale Bengong