Menu

Mode Gelap
Kebun Jagung di Beranda Kelas: Catatan dari Pelatihan Menulis bagi Guru dan Siswa SMKN 1 Petang Digelar 23-25 Juli 2024, Rare Bali Festival Usung Tema “Tribute to Made Taro” Mengenang Kembali Dedikasi Maestro I Gusti Nyoman Lempad Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

Bale Bengong · 7 Jul 2024 22:51 WITA ·

Kebun Jagung di Beranda Kelas: Catatan dari Pelatihan Menulis bagi Guru dan Siswa SMKN 1 Petang


					Kebun Jagung di Beranda Kelas: Catatan dari Pelatihan Menulis bagi Guru dan Siswa SMKN 1 Petang Perbesar

Oleh I Wayan Artika

Berbagai pengalaman memberikan pelatihan menulis, khususnya di beberapa sekolah menengah kejuruan dengan program SMKPK atau SMK sebagai pusat keunggulan; menunjukkan bahwa pengalaman menulis itu adalah hal yang paling langka dibandingkan dengan membaca, menyimak, dan terutama adalah berbicara. Salah satu program SMKPK  adalah menulis dan menerbitkan buku. Jumlahnya sendiri cukup banyak (25 judul) apalagi jika dibandingkan dengan pengalaman penulis buku. Menulis buku adalah hal yang sangat jarang di masyarakat dan demikian pula di dalam lingkungan sekolah. Dalam kondisi seperti ini, program menulis buku muncul dan dibutuhkan satu usaha atau kerja keras untuk mewujudkannya.

Suasana pelatihan menulis di SMKN 1 Petang, 5 Juli 2024.

Namun demikian, salah sebuah sekolah menengah kejuruan pusat keunggulan (PK) yaitu SMKN 1 Petang, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, tentu tidak mau menyerah. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah, I Wayan Yudana S.Pd., M.Pd., bersama guru dan tim, bekerja keras mewujudkan penerbitan 25 judul buku pada tahun 2024, baik yang penulisnya berasal dari siswa, guru, maupun kolaborasi keduanya. Pada tanggal 5 Juli 2024, sekolah ini menyelenggarakan serangkaian kegiatan seperti sosialisasi tes UKBI yang diisi oleh Balai Bahasa Provinsi Bali dan serangkaian ini pula disampaikan berbagi pengalaman praktik baik dalam penyelenggaraan dan pemanfaatan tes UKBI yang narasumbernya berasal dari Ketua Jurusan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni,  Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Jurusan ini sudah sejak 7 tahun yang lalu menyelenggarakan tes UKBI bagi para mahasiswa calon sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang akan bekerja sebagai guru di sekolah menengah. Program ini sudah berlangsung sejak awal tes UKBI diluncurkan, ketika tesnya masih manual hingga saat ini tesnya secara daring dan berbayar.

Dari pengalaman-pengalaman menyampaikan materi menulis buku bagi pemula, dapat disimpulkan bahwa pengalaman menulis buku bagi pemula memang terasa sangat berat. Walaupun di sekolah ini tercatat beberapa orang guru telah menerbitkan buku termasuk kepala sekolah. Di samping itu juga telah diterbitkan sejumlah artikel.

Untuk ini pelatihan menulis harus benar-benar dimulai dengan hal yang sangat mendasar. Bagian terberat ini adalah berupa minimnya atau sama sekali para peserta tidak memiliki pengalaman menulis selama hidupnya. Artinya mereka semuanya adalah tipe dari keadaan masyarakat lisan. Sebagian hidup mereka dan hampir seluruhnya selalu berhubungan dengan aktivitas lisan.

Mereka sangat sedikit menggeluti kegiatan tulis-menulis dan membaca. Hal ini juga sering nantinya dikaitkan dengan rendahnya literasi karena pengertian literasi masih menganut paradigma yang salah. Literasi disamakan dengan aktivitas membaca. Mengingat betapa beratnya menulis bagi pemula sebagaimana tampak dalam kelas pelatihan menulis di SMKN 1 Petang, maka yang pertama dikenalkan atau disadarkan untuk para peserta adalah memberikan pemahaman konsep menulis. Ini bukan konsep teoretis apalagi teknis tetapi adalah hal yang paling mendasar dari adanya relasi yang mungkin sangat dikotomik antara menulis dan lisan. Dalam pelatihan ini dikenalkan bahwa menulis itu adalah hal yang berlawanan dengan hal yang lisan.

Untuk ini peserta melakukan kegiatan menulis yang terbimbing. Dimulai dari hal yang sangat sederhana. Langkah ini mengandung tujuan bahwa peserta harus menyadari bahwa ada perbedaan teknis dan motorik antara dunia menulis dan dunia lisan. Teknik ini dilakukan dengan praktis.

Agar peserta mudah mengikuti, misalnya dengan cara mengingat buku yang pernah dibaca. Ketika peserta sampai pada tahap awal ini, dari beberapa kegiatan pelatihan sejenis dan dijumpai juga di SMKN 1 Petang, pada umumnya para peserta sangat jarang membaca buku. Maksud langkah ini adalah agar peserta mengingat beberapa bagian dari buku atau hanya sebagian kecil dari buku yang pernah dibacanya lalu bagian itu ditulis.

Ini adalah langkah yang mendasar bahwa menulis adalah memindahkan sesuatu yang belum terwujud menjadi terwujud sebagai tulisan. Sesuatu yang belum terwujud itu semula ada di dalam pikiran atau di dalam bayangan atau di dalam angan-angan. Setelah ditulis baik menggunakan kertas alat tulis maupun menggunakan perangkat gawai maka teks yang ada di dalam ingatan atau di dalam bayangan pun menjadi nyata berupa tulisan.

Syukurnya di SMKN 1 Petang ada cukup banyak siswa dan guru yang sudah membaca buku. Jadi, mereka bisa mengikuti langkah ini dengan benar. Lantas bagaimana halnya bagi peserta lain yang tidak membaca buku? Mereka diarahkan untuk mengingat lagu favoritnya, baik lagu favorit berbahasa Indonesia maupun berbahasa Bali. Asumsinya, lagu adalah teks yang cukup sering mereka dengarkan. Kelompok siswa ini diminta kemudian mengingat bagian-bagian awal dari larik lagu tersebut.

Langkah selanjutnya adalah meminta peserta seluruhnya, baik yang telah membaca buku maupun menikmati lagunya untuk menulis apa yang mereka ingat dari lagu tersebut atau dari buku yang telah mereka baca. Tahap kegiatan ini berikutnya adalah mengajak peserta membaca apa yang baru saja mereka tulis. Bagian ini kemudian ditegaskan dengan bahwa menulis itu adalah apa yang baru saja mereka lakukan. Menulis harus mereka pahami sebagai sebuah kegiatan berbahasa tidak menggunakan alat ucap tetapi menggunakan bantuan alat tulis baik yang manual maupun yang digital.

Biasanya langkah ini memakan waktu cukup lama namun langkah ini bisa berjalan cukup lancar di kalangan SMKN 1 Petang karena mereka tampaknya telah memahami apa yang dipelajari yaitu menulis adalah tindakan yang dapat dilakukan secara praktis menggunakan peralatan atau peralatan tulis. Kemudian, menegaskan kembali bahwa menulis adalah kegiatan yang diam. Dalam artian bahwa tidak melibatkan suara.

Yang sangat penting dari kegiatan pelatihan menulis dasar ini bagi para penulis pemula adalah mengenalkan mereka pada tahapan menulis yang sangat sederhana. Tahapan menulis ini dimulai bukan dari pengertian tema tetapi dimulai dari konsep “riset”. Menulis adalah mengumpulkan bahan-bahan pengetahuan. Untuk mengumpulkan pengetahuan ini seseorang harus mengajukan beberapa pertanyaan dari hal yang akan mereka tulis. Pertanyaan ini dapat menggunakan metode yang umum yaitu 5W + 1H.  Bisa pula menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terbuka dan bebas sesuai dengan pengetahuan-pengetahuan yang ingin dikumpulkan untuk ditulis.

Pada pelatihan di SMKN 1 Petang, materi pengetahuan yang ditulis oleh peserta adalah infrastruktur jembatan Tukad Bangkung. Hal ini dipilih mengingat jembatan ini sudah menjadi pengetahuan bersama tidak hanya bagi masyarakat di desa Plaga dan Belok Sidan, dua desa yang dihubungkan oleh jembatan tersebut; demikian pula karena jembatan ini tentu sudah menjadi pengetahuan bersama bagi kalangan siswa SMKN 1 Petang.

Pertanyaan-pertanyaan riset untuk mengumpulkan bahan tulisan mengenai jembatan Tukad Bangkung adalah: kapan jembatan ini dibangun; menghadap ke mana jembatan ini; desa-desa mana yang dihubungkan; berapa ketinggian jembatan ini dari dasar jurang; berapa lebar dan berapa panjang jembatan ini; pedagang-pedagang apa saja yang ada di kedua sisi jembatan, baik di sisi barat maupun di sisi timur.

Setelah langkah ini selesai dan biasanya mereka bisa berdiskusi dengan temannya atau mereka bisa mengingat kembali pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki maka selanjutnya adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam bentuk kalimat yang lengkap strukturnya yaitu kalimat yang terdiri atas subjek predikat dan objek.

Bagian ini juga sangat memakan waktu. Hal yang harus dimaklumi karena mereka baru pertama kali menuliskan pengetahuan yang dekat dengan kehidupan mereka. Jadi, pada tahap ini sebenarnya mereka sudah memasuki alam menulis yang memang terasa sangat berbeda dan asing dari pengalaman lisan.

Pelatihan menulis adalah membebaskan para peserta pemula dari perasaan asing tersebut dan memasukkan mereka ke lingkungan baru yaitu lingkungan tulisan yang senyap.

Setelah peserta mengumpulkan materi-materi mengenai jembatan Tukad Bangkung, dilanjutkan dengan menyusun kalimat-kalimat jawaban yang baik. Kalimat-kalimat itu kemudian disampaikan atau dibacakan di hadapan peserta lain dan instruktur memberikan perbaikan atau pujian untuk menguatkan. Perbaikan sebenarnya tidak dibutuhkan sepanjang itu tidak terlalu mendasar agar peserta nyaman dengan apa yang mereka tulis.

Tahap selanjutnya setelah peserta menyampaikan kalimat-kalimat jawaban mereka yang memuat sejumlah informasi mengenai infrastruktur jembatan Tukad Bangkung adalah mereka kembali menyusun tulisan dari kalimat-kalimat jawaban tersebut. Mereka menyusun kalimat-kalimat jawaban tersebut dan akan diperoleh satu teks yang lengkap dan selesai. Teks yang mereka dapat tentu saja sangat pendek namun demikian ini adalah sebuah pencapaian pengalaman baru di dunia awal menulis. Hal ini bagian yang paling sulit yang sudah bisa diatasi oleh peserta. Bagian ini  hal yang paling sulit pula bagi seorang instruktur menulis di hadapan para peserta awam dan pemula, apalagi waktu yang tersedia sangat terbatas.

Karena itu, seorang instruktur menulis bagi pemula akan menghadapi hambatan yang sangat besar, yaitu penolakan atau rasa bosan para peserta. Namun, dengan trik yang menarik dan metode mengajar yang mudah dipahami dan adaptif sebagaimana yang dilakukan di SMKN 1 Petang, maka bagian yang tersulit ini bisa diatasi bersama. Para peserta pun pada akhirnya, setelah dengan susah payah dan walaupun lambat, dapat menghasilkan sebuah paragraf pendek mengenai infrastruktur jembatan Tukad Bangkung.

Pada bagian akhir pembacaan kalimat-kalimat yang sudah disusun berurutan sebagaimana jawaban dari pertanyaan-pertanyaan “riset” pada langkah sebelumnya adalah saatnya yang paling mendebarkan yaitu memberikan judul dan memberikan nama penulis. Judul diberikan oleh para peserta untuk tulisan mereka masing-masing. Teknik membuat judul dengan meminta peserta masing-masing menanyakan apa yang paling penting dari informasi di dalam paragraf pendek mereka. Hal yang paling penting ini kemudian dirumuskan secara sederhana, lebih singkat dan padat.

Hal yang menarik dan sangat penting dalam pelatihan ini adalah memberikan mereka motivasi bahwa menulis itu adalah hal yang sangat mudah dilakukan tetapi untuk mencapai tahapan kemudahan ini seorang peserta pemula mengalami perasaan yang sangat berat yaitu melakukan transformasi dari dunia lisan ke dunia tulis. Hambatan peserta menulis awal adalah mereka merasa bosan.

Dengan teknik yang mudah mereka ikuti maka pelatihan menulis akan membantu mereka memasuki dunia baru. Dengan pendekatan ini para peserta pelatihan menulis buku bagi pemula di SMKN 1 Petang berjalan baik dengan dukungan kepala sekolah, ketua panitia, dan para guru. Mereka akan menghasilkan buku pertama yang sederhana namun penuh makna. Lewat karya ini mereka telah memasuki dunia menulis, dunia yang semula asing. Karya awal ini tentu akan menjadi modal bagi mereka untuk menuliskan pengalaman-pengalaman kerja dan pengalaman-pengalaman hidup mereka.  Atau pengalaman-pengalaman belajar mereka di sebuah SMK berhawa dingin di lereng gunung dengan kebun jagung di beranda kelas yang selalu disinggahi kabut.

 

  • Penulis adalah dosen Undiksha, pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali.
Artikel ini telah dibaca 76 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur

2 Mei 2024 - 05:35 WITA

Konservasi Pemikiran dan Budaya Melalui Gerakan Literasi Akar Rumput

21 Desember 2023 - 05:06 WITA

Bertapa Kata-kata di Era Media Sosial [Renungan Hari Saraswati]

20 Mei 2023 - 06:10 WITA

Literasi di Tengah Tantangan Ekonomi Orang Tua Siswa: Catatan Safari Literasi Akar Rumput di Jembrana

14 Mei 2023 - 11:40 WITA

Menguak Hegemoni Teks Ilmiah di Kampus: Catatan Safari Literasi di UPMI Bali

25 Maret 2023 - 09:17 WITA

Menggiring Bebek: Catatan dari Sebuah Lomba Menulis Esai

12 Desember 2022 - 18:39 WITA

Trending di Bale Bengong