Jumat, 28 Maret 2025, sudah sejak subuh, Ni Ketut Taman menyiapkan aneka sesaji yang akan dipersembahkan saat upacara pacaruan Sasih Kasanga yang dilaksanakan sore hari. Di antara berbagai sesaji itu, sesayut yang dilengkapi dengan tipat (ketupat) menjadi paling istimewa. Pasalnya, Taman mesti menyiapkan cukup banyak sesayut, sebanyak anggota keluarganya. Ada sesayut untuk anak, menantu, dan cucu-cucunya.
“Usai macaru dan ngrupuk, semua anggota keluarga kami akan natab banten sayut. Kami biasa menyebutnya masayut tipat,” tutur warga Desa Dapdap Putih, Busungbiu, Buleleng ini.
Yang menarik, tiap-tiap banten sesayut itu dilengkapi ketupat yang jumlahnya berbeda-beda. Ada yang berisi tiga buah ketupat, ada empat buat ketupat, ada pula yang berisi tujuh ketupat.
“Jumlah tipat itu berbeda-beda berdasarkab urip hari kelahiran yang akan natab,” imbuh Taman.
Urip kelahiran itu merujuk pada perhitungan wewaran, khususnya saptawara. Yang lahir hari Minggu, urip-nya 5 sehingga ketupatnya juga 5 buah. Mereka yang lahir hari Senin, urip kelahirannya 4, sehingga ketupatnya juga 4 buah.
Usai natab, imbuh Taman, semua anggota keluarga akan bersantap bersama menghabiskan ketupat yang tadi dipersembahkan dalam banten sesayut.
Taman menuturkan, tradisi ini sudah diwarisi keluarganya secara turun-temurun sejak masih tinggal di Desa Badeg, Karangasem. Hingga kini, tradisi itu tetap dilaksanakan. “Pesan orang tua kami, tradisi ini harus kami lanjutkan,” imbuh Putu Suryadi, sang anak.
Tradisi masayut tipat ternyata tak hanya dilakoni keluarga Ni Ketut Taman di Dapdap Putih. Tradisi serupa juga dilaksanakan keluarga I Made Tunas, warga Denpasar yang berasal dari Desa Budakeling, Karangasem. Tunas yang tinggal di Peguyangan Kangin masih tetap mempertahankan tradisi natab sesayut tipat saat Tilem Kasanga, meskipun sudah tinggal di kota.
“Kadang-kadang, kami natab sayut sebelum menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Kadang-kadang juga natabnya setelah selesai nonton pawai ogoh-ogoh. Tergantung anak-anak di rumah. Yang penting tetap harus natab sayut tipat usai macaru dan ngerupuk di rumah” kata Tunas.
Seperti halnya keluarga Ni Ketut Taman di Dapdap Putih, sesayut tipat yang dipersembahkan keluarga Tunas juga dilengkapi ketupat yang jumlahnya disesuaikan dengan urip hari kelahiran yang natab.
Suryadi dan Tunas meyakini natab sesayut tipat saat Tilem Kasanga sebagai ungkapan syukur sekaligus doa pengharapan agar mendapat keselamatan menyongsong tahun baru Saka. Tahun baru Saka, kata Tunas, sama halnya dengan sebuah era baru yang mesti disambut dengan hati yang bersih dan suci.
Suryadi menambahkan, masayut tipat sejatinya sebuah penyucian bhuwana alit (mikrokosmos) atau diri sendiri setelah melaksanakan penyucian bhuwana agung (makrokosmos) melalui tawur kasanga atau pacaruan kasanga. “Jadi, ini semacam penyiapan diri menyambut tahun baru Saka dengan kesucian lahir dan batin,” kata Suryadi.
Tradisi masayut tipat ternyata tidak hanya dilaksanakan saat Tilem Kasanga. Di Desa Pakraman Kawan Bangli adalah tradisi ini dilaksanakan saban Sasih Kawulu. Menurut penelitian I Nyoman Mudana dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, tradisi masayut tipat saat Sasih Kawulu dilakukan pada masing-masing keluarga dengan cara dipersembahkan sebagai sesajen ke hadapan Dewa Hyang dan juga dipakai ayaban kepada masing-masing umat Hindu di Desa Pakraman Kawan Bangli. Upacara masayut tipat Sasih Kawulu berfungsi sebagai sarana untuk mengucapkan terima kasih, serta memohon keselamatan, kerahayuan kepada Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. Selain itu, menurut Mudana, upacara masayut tipat Sasih Kawulu sebagai pengintegrasi sosial keluarga.
Menghalau Kemalangan
Sesayut memang merupakan salah satu jenis banten penting dalam ritual Hindu di Bali. Menurut Zoetmoelder (2006), sesayut adalah sesaji yang dipersembahkan sebagai pengharapan untuk menghalau kemalangan atau penyakit. Dalam tradisi Jawa Kuno, memang dikenal kata (m)asayut atau pasayut berarti ‘mengendalikan’ atau ‘mencegah’. Karena itu, sesayut dimaknai sebagai sesaji simbol pengharapan untuk menahan, mencegah orang agar terhindar dari mala atau gangguan yang merusak, kemalangan dan penyakit.
Namun, Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda dalam buku Tetandingan Lan Sorohan Banten (2003) menjelaskan bahwa banten sesayut berasal dari kata sayut atau nyayut yang diartikan mempersilakan atau mensthanakan. Menurut Ida Pandita, sayut sebagai simbol atau lingga dari Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Berbeda lagi tafsir Ketut Wiana dalam buku Suksmaning Banten (2009). Wiana menguraikan, sesayut berasal dari kata ayu yang berarti ‘selamat’ atau ‘rahayu’. Kata ayu mendapat pangater dwi purwa lalu menjadi sasayu, kemudian mendapat reduplikasi “t” menjadi sesayut yang artinya menuju ‘kerahayuan’. Karena itu, menurut Wiana, sesayut sebagai simbol permohonan kerahayuan, keselamatan.
- Laporan: I Ketut Jagra
- Foto: Istimewa
- Penyunting: I Made Sujaya







