Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Iloe · 18 Apr 2015 23:28 WITA ·

Asal-usul Kota Gianyar (1): Dewa Manggis Kuning Sang Pembuka


					Puri Gianyar akhir abad XIX (balisaja.com: repro buku Bali Pada Abad XIX) Perbesar

Puri Gianyar akhir abad XIX (balisaja.com: repro buku Bali Pada Abad XIX)

Hari ini, Minggu, 19 April 2015, masyarakat Gianyar kini tengah merayakan hari jadi kotanya. Tahun ini, Kota Gianyar merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-244. Perayaan ini merujuk Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Gianyar No. 9 tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang Hari Jadi Kota Gianyar yang ditetapkan pada 19 April 1771. Seperti apa sejarah kelahiran Kota Gianyar?

Dalam sumber-sumber teks tradisional babad disebutkan, kelahiran Kota Gianyar berkaitan dengan kisah cinta Raja Gelgel, Dhalem Sagening dengan seorang putri cantik dari Desa Manggis. Hubungan asmara itu melahirkan seorang putra yang kemudian diasuh di Istana Gelgel.

Sang putra raja pun tumbuh menjadi seorang pemuda tampan. Penguasa Kerajaan Badung, Gusti Tegeh Kuri tertarik dengan sang pemuda dan memohon kepada Raja Gelgel agar diizinkan mengajaknya ke Badung. Gusti Tegeh Kuri berharap sang putra Raja Gelgel akan menggantikan dirinya bila wafat nanti. Raja Gelgel pun menerima permintaan itu.

Saat tinggal di Badung, ketampanan sang putra raja memikat istri-istri Gusti Tegeh Kuri. Hal ini membuat khawatir sang penguasa Kerajaan Badung. Apalagi kemudian diketahui sang pemuda menjalin hubungan dengan salah seorang istri Gusti Tegeh Kuri. Raja Badung itu pun murka lalu memerintahkan untuk membunuh sang pemuda. Namun, putra Raja Gelgel itu berhasil melarikan diri ke Penatih dan bersembunyi di rumah Gusti Pahang Penatih.

Penguasa Penatih bersimpati dengan nasib sang putra Raja Gelgel itu. Dia pun menyerahkan putrinya, Gusti Ayu Pahang kepada sang pemuda. Putri Gusti Pahang Penatih inilah yang menemani pemuda itu menuju arah timur. Tiba di hutan Bengkel, pasangan ini membangun sebuah pondok. Peristiwa ini diduga terjadi sekitar tahun 1640.

Kemampuan bersosialisasi yang baik membuat sang pemuda dan istrinya disukai dan memiliki pengikut. Mula pertama, pengikutnya sebanyak 40 orang, berasal dari para pengalu, pedagang yang mengangkut dagangannya dengan kuda. Sang putra Raja Gelgel dianggap sebagai pemimpin mereka. Karena beribu seorang putri dari Manggis, dia pun disebut dengan nama Dewa Manggis. Dalam sejarah, Dewa Manggis kemudian dikenal dengan nama Dewa Manggis Kuning.

Tatkala terjadi pemberontakan Patih Agung Gusti Agung Marutidi Gelgel, Dewa Manggis ikut membantu Dewa Agung Jambe, kemenakannya, untuk mengembalikan kekuasaan Gelgel. Dengan pasukan 40 orang bekas pengalu yang bersamanya di hutan Bengkel, Dewa Manggis memperlihatkan keberaniannya mengusir musuh.

Namun, keperwiraan Dewa Manggis Kuning justru membuatnya diserang penguasa Buleleng, Panji Sakti. Apa penyebabnya? Bagaimana hasil pertempuran Dewa Manggis Kuning dengan Panji Sakti? Lanjutkan baca kisahnya pada bagian berikutnya di sini! (b.)

Penulis: I Made Sujaya

Artikel ini telah dibaca 314 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

25 Mei 2022 - 19:50 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930

Virus Korona dan Jejak “Grubug” di Tanah Bali

28 Januari 2020 - 00:01 WITA

Hari Ini 167 Tahun Silam, Klungkung Permalukan Belanda di Kusamba

24 Mei 2016 - 22:01 WITA

Trending di Bali Iloe