Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Iloe · 18 Apr 2015 23:41 WITA ·

Asal-usul Kota Gianyar (2): Dari Beng ke Geriya Anyar


					Dewa Gde Raka, Raja Gianyar 1896-1912 (balisaja.com: repro buku Bali Pada Abad XIX) Perbesar

Dewa Gde Raka, Raja Gianyar 1896-1912 (balisaja.com: repro buku Bali Pada Abad XIX)

Kabar keberanian Dewa Manggis Kuning pun tercium ke seantero Bali. Penguasa Buleleng, Gusti Panji Sakti terusik dengan berita ini karena khawatir kehebatannya tersaingi. Panji Sakti pun menyerang Bengkel.

Namun, serangan ini bisa dipatahkan Dewa Manggis Kuning yang memiliki senjata bertuah berupa tombak. Untuk mengenang peristiwa itu, tombak bertuah itu pun diberi nama “Baru Alis”. Inilah yang kemudian menjadi pusaka utama raja-raja Gianyar keturunan Dewa Manggis Kuning.

Keberhasilan Dewa Manggis Kuning pun menjadi buah bibir. Dia pun mulai termahsyur sebagai pemimpin yang cakap, berani dan memiliki senjata bertuah. Sejak itu pemondokan tempatnya tinggal bersama 40 pengikutnya di hutan Bengkel berkembang menjadi sebuah desa. Orang-orang menyebutnya Desa Beng.

Setelah meninggal, Dewa Manggis Kuning digantikan putranya, Dewa Manggis Pahang. Dewa Manggis Pahang kemudian digantikan putranya, Dewa Manggis Bengkel. Cucu Dewa Manggis Kuning ini menikahi seorang putri Raja Taman Bali, yang ketika itu tersohor sebagai kerajaan hebat di Bali. Dari perkawinan ini lahir beberapa orang putra, yang tertua bernama Dewa Manggis Jorog.

Dewa Manggis Jorog inilah yang memainkan peranan penting dalam kelahiran Kerajaan Gianyar. Atas desakan Raja Taman Bali, Dewa Manggis Jorog memindahkan tempat kediamannya ke salah satu tempat yang jaraknya sekitar dua kilometer sebelah selatan Desa Beng.

Atas bantuan Raja Taman Bali, sekitar tahun 1770 dibangun sebuah istana dan diberi nama Geriya Anyar yang berarti ‘tempat kediaman baru’. Desa yang muncul di sekitar istana baru itu kemudian terkenal dengan nama Gianyar.

Secara resmi, pemindahan Dewa Manggis Jorog ke istana baru di Gianyar dilakukan pada tahun 1771. Sejak itu pula, Gianyar bisa memperluas wilayah kekuasaannya dan menjadi kerajaan yang berwibawa dan diperhitungkan di Bali. Berkat kesuksesannya, Dewa Manggis Jorog dijuluki Dewa Manggis Sakti serta dianggap sebagai pendiri Kerajaan dan Kota Gianyar.

Tim peneliti yang berasal dari Fakultas Sastra Unud, di antaranya sejarawan Ida Bagus Sidemen dan Anak Agung Bagus Wirawan, merujuk sebuah pustaka, yakni Besrijving van de Poeri Agoeng te Gianyar yang menyebutkan hari patoyan/pemungkah di Merajan Agung Puri Agung Gianyar jatuh pada hari Sukra Wage, wuku Krulut, Sasih Kadasa. Tradisi upacara petoyan ini masih dilaksanakan hingga sekarang.

Setelah ditelusuri menggunakan pendekatan tradisi wariga dari beberapa ahli wariga dan mensikronkan dengan program komputer, diketahui upacara pamlaspas atau pamungkah (semacam upacara peresmian secara tradisional sebuah tempat atau bangunan baru) Puri Gianyar pada tanggal 19 April 1771. Karena itu, HUT Kota Gianyar ditetapkan pada 19 April.

AA Bagus Wirawan menyatakan dipilihnya tonggak upacara pamlaspas, pamungkah atau patoyan Puri Gianyar sebagai tonggak kelahiran kota dilandasi konsep kota keraton (puri). Menurutnya, puri merupakan pusat pemerintahan negara kerajaan dengan seluruh bagian-bagian, baik dalam struktur fisik maupun pengembangannya. (b.)

  • Penulis: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 403 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

25 Mei 2022 - 19:50 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930

Virus Korona dan Jejak “Grubug” di Tanah Bali

28 Januari 2020 - 00:01 WITA

Hari Ini 167 Tahun Silam, Klungkung Permalukan Belanda di Kusamba

24 Mei 2016 - 22:01 WITA

Trending di Bali Iloe