Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Segara Giri · 26 Nov 2013 22:10 WITA ·

Jejak Mpu Kuturan di Pura Silayukti


					Jejak Mpu Kuturan di Pura Silayukti Perbesar

Hari ini, bertepatan dengan Buda Kliwon Pahang, Rabu (27/11) di Pura Silayukti, Padangbai, Karangasem dilaksanakan pujawali. Di pura ini, jejak spiritual Mpu Kuturan bisa ditelusuri. Pura ini diyakini sebagai pasraman Mpu Kuturan pada sekitar abad ke-11.
Sejarah peradaban Bali memang berutang besar kepada Mpu Kuturan. Dialah yang menjadi arsitek penting konsep desa pakraman, kahyangan tiga  serta bangunan suci berbentuk meru yang kini mewarnai wajah Bali. Terbukti kini, pemikiran visioner-cemerlang sang empu menjadikan Bali sebagai pulau mungil yang bernuansa sosial-religius kental.
Menyebut Mpu Kuturan, kita juga tak bisa mengabaikan keberadaan Pura Silayukti di Teluk Padang yang kini dikenal dengan nama Padangbai. Di kawasan bukit yang oleh orang-orang Padangbai dikenal dengan nama Gunung Luhur itulah pernah menjadi pasraman Mpu Kuturan. Boleh jadi, perenungan mendalam sembari menyambut kehangatan sang mahacahaya di pagi hari di tempat inilah yang membuahkan konsep visioner Mpu Kuturan dalam menata Bali.

IB Gde Agastia dalam buku Wija Kasawurmenyebut silayukti berarti ‘tingkah laku yang benar dan baik’. Dan memang, di Gunung Luhur itulah Mpu Kuturan melakoni perilaku hidup mendasar yang mulia dan benar.
Dalam Dwijendra Tattwa disebut-sebut Raja Gelgel, Dhalem Waturenggong memerintahkan Ki Gusti Penyarikan untuk mengantarkan Danghyang Nirartha beristirahat di pasraman Mpu Kuturan di Silayukti. Sejarah kemudian mencatat, selain sebagai purohita kerajaan Gelgel, Danghyang Nirartha juga menjadi arsitek bangunan suci padmasana sebagai tempat pemujaan keesaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Konsep ini sejatinya sudah termaktub dalam konsep trimurthi rekaan Mpu Kuturan.
Pura Silayukti hingga tahun 1931 masih berupa satu bangunan suci bebaturan. Baru setelah pemerintahan kolonial Belanda, pelinggihuntuk memuja Mpu Kuturan diganti denganmeru tumpang tiga yang masih terjaga sampai sekarang. Selain itu juga dibangun sejumlah pelinggih pesimpanganseperti pasimpangan Batara Lempuyang Luhur (Iswara), pasimpangan Batara Pura Dasar Bhuwana Gelgel, pesimpangan Batara di Besakih (Putranjaya/ Siwa-Mahadewa), penyawanganke Pura Lempuyang Madya, pesimpanganBatara di Andakasa serta gedong sthana Batara Mahadewa. Bangunan suci lainnya, manjangan sakaluang sebagai peninggalan Mpu Kuturan, gedong rong dua(kamimitan Empu Pascika), padmasana, serta gedong betel (Batara Manik Angkeran) serta meru tumpang dua(Ratu Pasek). Belakangan, Pura Silayukti juga mengalami pembenahan, terutama pada bagian tembok penyengker serta candi bentar yang tampak lebih megah dari sebelumnya.
Di dalam kawasan Bukit Silayukti juga terdapat Pura Tanjung Sari serta Pura Telaga Mas. Pura Tanjung Sari terletak di ujung selatan kaki bukit, agak menjorok ke laut, sekitar 100 meter dari Pura Silayukti. Pura ini diyakini sebagai tempat pemujaan Mpu Baradah.
Memang, Mpu Baradah pernah datang ke Bali sebagai utusan Raja Airlangga untuk bertemu Mpu Kuturan. Raja Airlangga meminta agar salah seorang putranya bisa diangkat menjadi raja di Bali. Permintaan ini ditolak oleh Mpu Kuturan dengan alasan Bali mesti tetap diperintah dari dinasti Warmadewa yakni Anak Wungsu yang juga masih merupakan adik bungu Airlangga. Kedatangan Mpu Baradah ke Bali dikenang dengan piodalan di Pura Tanjung Sari saban Buda Kliwon Wuku Matal.
Sementara Pura Telaga Mas berada di sisi utara, bersebelahan dengan Pura Silayukti. Pura ini diyakini sebagai tempat permandian Mpu Kuturan. Di sini hanya terdapat bangunan gedong dan bebaturan. Pangempon pura ini kini Desa Adat Padangbai yang memiliki tiga banjar dengan sekitar 700-an kepala keluarga (KK). (b.)

___________________________ 

Penulis: I Made Sujaya 
Foto: I Made Sujaya 
Penyunting: Ketut Jagra
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 202 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyegara Gunung di Gunung Payung

7 November 2022 - 06:58 WITA

Setelah Dua Kali Ngayeng, Pujawali di Pura Silayukti Kembali Nyejer Tiga Hari

17 Mei 2021 - 22:11 WITA

Usabha Pitra di Pura Dalem Puri Kembali Digelar, Begini Rangkaian Upacara dan Maknanya

24 Januari 2020 - 07:32 WITA

Inilah Sejumlah Pura yang Melaksanakan Pujawali Pada Hari Raya Kuningan

31 Mei 2014 - 02:54 WITA

Bali Bersatu di Pura Dasar Bhuana

26 Mei 2014 - 08:32 WITA

Pura Samuantiga, Cikal Bakal Kahyangan Tiga Desa Pakraman di Bali

11 Mei 2014 - 22:24 WITA

Trending di Segara Giri