Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Spiritual · 31 Mei 2014 02:54 WITA ·

Inilah Sejumlah Pura yang Melaksanakan Pujawali Pada Hari Raya Kuningan


					Pura Sakenan saat hari raya Kuningan. (balisaja.com/Suryawan) Perbesar

Pura Sakenan saat hari raya Kuningan. (balisaja.com/Suryawan)

Hari raya Kuningan yang jatuh pada hari ini, Sabtu, 31 Mei 2014 bertepatan dengan Saniscara Kliwon wuku Kuningan tak hanya diisi dengan persembahyangan di sanggah/merajan atau tempat suci keluarga, melainkan juga ber-tirtha yatra (melaksanakan perjalanan suci) ke sejumlah pura penting yang menjadi sungsungan umat. Pada hari raya Kuningan ini, ada sejumlah pura penting yang melaksanakan pujawali sehingga patut dimasukkan dalam daftar pura yang dituju untuk tirtha yatra.

Pura Sakenan, Serangan, Denpasar

Pura Sakenan menjadi pura paling populer saat hari raya Kuningan. Pura yang terletak di Pulau Serangan, sekitar 10 km arah selatan Kota Denpasar ini selalu padat dengan pamedek (umat) saban pujawali saat hari raya Kuningan. Di masa lalu, perjalanan menuju Pura Sakenan menjadi pengalaman amat menarik. Kala itu, sebelum dilakukan reklamasi, umat yang hendak tangkil mesti menggunakan perahu dan kerap kali harus bersiasat dengan pasang surut air laut.

Belum diketahui secara pasti kapan Pura Sakenan didirikan. Penekun sastra, IBG Agastya memperkirakan tinggalan di Pura Sakenan sezaman dengan tinggalan di Pura Luhur Uluwatu, Pecatu. Ada dugaan kuat pura ini sudah ada sekitar abad ke-10 Masehi. Penekun babad, Jro Mangku Ketut Soebandi menduga Pura Sakenan didirikan Mpu Kuturan pada masa pemerintahan Sri Masula-Masuli.

Secara tradisional, Pura Sakenan dikaitkan dengan perjalanan suci Danghyang Nirartha. Di tempat ini, Danghyang Nirartha mencapai kelangenan sebagai kawi-wiku sehingga bisa melahirkan Kekawin Anyang Nirartha. Karena itu, di sini Danghyang Nirartha membangun palinggih.

Perihal nama Sakenan, menurut Jro Mangku Ketut Soebandi, diambil dari kata sakya yang berarti ‘langsung dapat menyatukan pikiran’. Kata sakya ini mengingatkan tentang konsep sakya dalam agama Budha. Karena itu barangkali bisa dimaklumi Pura Sakenan kerap dikaitkan dengan jejak Siwa-Budha di tanah Bali.

Pura Sada, Kapal, Badung

Pura Sada di Desa Kapal, Badung. (balisaja.com/sujaya)

Pura Sada terletak di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 14 km arah barat dari pusat kota Denpasar. Pura Sada juga menggelar pujawali pada hari raya Kuningan ini. Umat dari Badung dan Denpasar biasanya datang mengarus ke pura ini saat hari raya Kuningan. Belakangan, umat dari berbagai daerah di Bali juga semakin kerap tangkil ke pura ini.

Pura Sada memiliki keunikan. Palinggih utama di pura ini berupa sebuah candi atau prasada. Itu sebabnya, pura ini disebut Pura Sada. Tokoh masyarakat Kapal yang juga penekun sastra, I Ketut Sudarsana menyatakan nama Pura Sada sebetulnya memang Pura Prasada, tetapi lebih akrab di kalangan masyarakat sebagai Pura Sada.

Pura Sada diperkirakan berdiri sekitar abad ke-10. Itu sebabnya, Pura Sada Kapal menjadi salah satu jejak sejarah Bali, terutama pengaruh Jawa (Majapahit) terhadap Bali.

Pura Luhur Pekendungan, Kediri, Tabanan

Pura Luhur Pekendungan, Tabanan.

Pura Luhur Pekendungan terdapat di kawasan wisata Tanah Lot, Desa Beraban, Kediri, Tabanan, sekitar 20 km arah barat Kota Denpasar. Diperkirakan pura ini dibangun sekitar abad ke-15, sekitar tahun 1330 Saka atau 1408 Masehi. Hal ini tersurat dalam Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul (Pura Luhur Pekendungan).

Sejarah pura ini berkaitan erat dengan perjalanan Sri Maharaja Dalem Anom Sukaranti. Pura ini diyakini sebagai stana Hyang Sadhana Tra. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan

Kancan Roras, Kepemimpinan Ulu Apad di Penglipuran

31 Mei 2021 - 21:53 WITA

Angkul-angkul Penglipuran
Trending di Desa Mawacara