Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Segara Giri · 16 Nov 2013 21:55 WITA ·

Jejak Kuno Batu “Makocok” di Pura Watu Klotok


					Jejak Kuno Batu “Makocok” di Pura Watu Klotok Perbesar

Hari Ini, Digelar “Ngusaba” Purnama Kalima

Oleh: I MADE SUJAYA


Pura Watu Klotok. (balisaja.com/repro: balipost.com)

Hari ini, Minggu, 17 November 2013 merupakan hari istimewa bagi orang Bali karena bulan kembali bulat penuh. Inilah purnama di bulan kelima dalam tradisi penanggalan Bali. Tiap kali Purnama Kalima datang, umat Hindu dari berbagai pelosok Bali bakal datang berduyun-duyun ke sejumlah pura penting. Salah satunya Pura Watu Klotok yang berlokasi di Tojan, Klungkung. Di sini mereka duduk bersimpuh, memohon kesuburan semesta alam.

Memang, saban Purnama Kalima dilaksanakan ngusabadi Pura Watu Klotok. Subak-subak di Klungkung yang mendapat aliran air langsung dari Gunung Agung seperti Subak Yeh Jinah, Gelgel dan Kusamba menjadi penaggung jawab dari pelaksanaan ritual ini. Selain Ngusaba Kelima, saban 210 hari sekali juga dihaturkan aci yang tingkatannya alit yakni saat Anggarakasih Julungwangi, sekitar satu setengah bulan lalu.

Pura Watu Klotok memang memiliki arti penting dalam peta kosmologi Bali. Pura Watu Klotok dengan pantainya memiliki kaitan yang erat dengan Pura Besakih. Bila dilaksanakan upacara penting di Pura Besakih, di Watu Klotok juga bakal dilaksanakan ritual setingkat.

Dalam lontar Raja Purana Besakih disuratkan setiap sepuluh tahun sekali, menjelang Tilem Kesanga, Ida Bhatara semua akekobok (bersuci) ke Pantai Watu Klotok. Sedangkan saban limatahun saat Purnama Kadasa Ida Batara semua diiringkan ke Yeh Sah. Khusus untuk empat tahun sekali pada Purnama Margasirsa (Kalima) Ida Bhatara diiringkan mesucian ke Tegal Suci.

Keterkaitan antara Pura Watu Klotok dengan Pura Besakih akan makin kentara manakala dilaksanakan Ngusaba Kalima. Sebelum upacara dilaksanakan, warga pengamong Pura Watu Klotok akan matur piuning ke Pura Besakih dan Ulun Danu Batur, selain ke Pura Dasar Gelgel, Pura Goa Lawah dan Kentel Gumi sebagai Kahyangan Jagat di wilayah Kabupaten Klungkung. Secara fisik, di Pura Watu Klotok juga terdapat pelinggih Ida Bhatara Besakih berupa meru tingkat lima.

Yang jelas, di Pura Watu Klotok dipuja Ida Sang Hyang Widhi sebagai penganugerah kesuburan. Karena itulah, dalam tradisi masyarakat di sekitarnya, bila terjadi hama yang menyerang tetanaman di sawah, petani bakal memohon keselamatan ke Pura Watu Klotok.

Demikian penting arti Pura Watu Klotok, tetapi hingga kini belum terang benar kapan sesungguhnya pura ini mulai berdiri. Menurut cerita lisan yang berkembang di kalangan warga Desa Tojan, Pura Watu Klotok bermula dari sebuah batu makocel atau batu makocok. Diceritakan, pada zaman dahulu, seorang petani menemukan batu ajaib di sawahnya saat mencangkul tanah. Keajaiban batu itu, karena setiap kali dikocok, muncul bunyi beradu dari dalam batu itu. Karena dinilai ajaib, batu tersebut kemudian menjadi sungsungansubak dan berkembang menjadi Pura Watu Klotok.

Hingga kini, batu makocok itu memang masih tersimpan di Pura Watu Klotok. Bentuknya lonjong dan lumayan besar dengan posisi berdiri. Warga sekitarnya meyakini batu makocok itu sangat bertuah. Wangsuhpada atau air basuhan dari batu itu kerap dimanfaatkan petani untuk melindungi tanamannya di sawah dari hamadan penyakit.

Dari tinggalan kuno berupa batu makocokinilah, muncul dugaan tempat suci ini berasal dari zaman kuno megalitikum. Dalam majalah Sarad No. 43, November 2003 disebutkan, pada zaman megalitikum, manusia memang lazim menjadikan batu besar berdiri sebagai tempat pemujaan. Batu besar itu menjadi simbol pemujaan terhadap kekuatan mahadahsyat sebagai mahasumber hidup.

Namun, ada juga sumber yang menyebutkan Pura Watu Klotok didirikan oleh Mpu Rajakerta atau Mpu Kuturan. Ini tersurat dalam lontar Dewa Purana Bangsul. Mpu Kuturan memang merupakan orang suci dari tanah Jawa yang kemudian menjadi pendeta penting di Balipada masa pemerintahan Raja Udayana sekitar abad ke-11. (b.)

____________________________ 


Penyunting: NYOMAN SAMBA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Setelah Dua Kali Ngayeng, Pujawali di Pura Silayukti Kembali Nyejer Tiga Hari

17 Mei 2021 - 22:11 WITA

Inilah Sejumlah Pura yang Melaksanakan Pujawali Pada Hari Raya Kuningan

31 Mei 2014 - 02:54 WITA

Bali Bersatu di Pura Dasar Bhuana

26 Mei 2014 - 08:32 WITA

Pura Samuantiga, Cikal Bakal Kahyangan Tiga Desa Pakraman di Bali

11 Mei 2014 - 22:24 WITA

Pura Bukit Sari, Energi Spiritual Hutan Pala Sangeh

6 Mei 2014 - 21:39 WITA

Pura Batu Bolong: Mata Air Tawar di Tengah Laut

21 Januari 2014 - 21:52 WITA

Trending di Segara Giri