Menu

Mode Gelap
Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih “Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

Segara Giri · 16 Apr 2013 11:14 WITA ·

Pura Uluwatu: Hening Suci di Kaki Bali


					Pura Uluwatu: Hening Suci di Kaki Bali Perbesar

Oleh: I MADE SUJAYA


Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu pura penyungsungan jagat (pura umum) dengan status pura sad kahyangan (enam pura penting) yang menawarkan vibrasi kesucian dan keindahan tersendiri. Letaknya di ujung bukit Pecatu menggambarkan adanya pertemuan gunung dan laut. Di sinilah, masyarakat Pecatu dan Bali pada umumnya meyakini tempat jejak terakhir Danghyang Dwijendra sebelum akhirnya moksa mencapai surga.


Diceritakan pada suatu hari yakni pada Anggara Kliwon, Wuku Medangsia, Danghyang Dwijendra menerima wahyu sabda Tuhan  bahwa ia pada hari itu mesti berangkat ke sorga. Pendeta Hindu asal Jawa Timur yang juga menjadi bhagawanta (pendeta kerajan) Gelgel pada masa keemasan Dalem Waturenggong sekitar 1460-1550, merasa bahagia karena saat yang dinanti-nantikannya telah tiba. Namun, pendeta yang juga memiliki nama Danghyang Nirartha itu masih menyimpan satu pusataka yang bakal diberikan kepada putranya.

Di bawah ujung Pura Uluwatu, tampak seorang nelayan bernama Ki Pasek Nambangan. Danghyang Dwijendra meminta agar Ki Pasek Nambangan mau menyampikan kepada anaknya, Empus Mas di desa Mas bahwa Danghyang Dwijendra menaruh sebuah pustaka di Pura Luhur Uluwatu.

Ki Pasek Nambangan pun memenuhi permintaan Danghyang Nirartha. Sementra Ki Pasek Nambangan pergi, Danghyang Dwijendra melakukan yoga samadhi. Akhirnya, sang maharsi pun moksa ngeluhur, cepat sebagai kilat terbang ke angkasa. Ki Pasek Nambangan hanya melihat cahaya cemerlang mengangkasa.

Begitulah sekelumit kisah yang tertera dalam Lontar Dwijendra Tatwa seperti ditulis IGB Sugriwa dalam bukunya berjudul Dwijendra Tatwa (1991). Kitab ini memang menceritakan perjalanan suci Danghyang Dwijendra hingga ia moksa di Pura Luhur Uluwatu. Kisah dalam lontar inilah yang mendasari keyakinan warga Desa Pecatu maupun masyarakat Bali perihal moksa-nya Danghyang Dwijendra di pura ini. Saat moksanya Danghyang Dwijendra diperingati sebagai pujawali di Pura Goa Lawah, yakni saban Anggarakasih Medangsia

Tidak diketahui secara jelas kapan pura yang berada di ujung selatan bukit Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung didirikan. Jro Mangku Gde Ktut Soebandi memang menyebut pura ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakreta pada masa pemerintahan suami-istri Sri Msula-Masuli pada sekitar abad XI. Hal ini, menurut Jero Mangku Soebandi seperti ditulis dalam buku Sejarah Pembangunan Pura-pura di Bali(1983) termuat dalam lontar Usana Bali.

Namun, ada fakta menarik dari tinggalan historis di Pura Luhur Uluwatu. Tinggalan kuno di pura ini berupa candi kurung atau kori gelung agung yang menjulang megah membatasi areal jaba tengah dengan jeroan pura, diprediksi pura ini sudah ada sejak abad ke-8. Candi kuno itu menatahkan hitungan tahun Isaka dengan candrasangkala gana sawang gana yang berarti tahun Isaka 808 atau sekitar 886 Masehi. Jadi, sebelum datangnya Mpu Kuturan ke Bali.

Yang pasti, Pura Luhur Uluwatu hingga kini memegang peranan penting sebagai istadewata di Bali. Dalam padma bhuwana Bali, pura ini berada di arah Barat Daya (nriti), tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dealam manifestasi Rudra. Tradisi di Pecatu menyebut dengan nama Ida Bhatara Lingsir.

Pura ini juga kerap dipilih sebagai tempat melaksanakan upacara nyegara gunung, maajar-ajar, seusai upacara mamukur atau pun piodalan besar di desa. Hal ini dikarenakan posisi geografis pura ini yang mengisyaratkan pertemuan antara gunung dan laut secara langsung seperti halnya Pura Goa Lawah di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung.

Selain posisi geografis, keunikan lain dari Pura Luhur Uluwatu adalah arah pemujaan yang menuju Barat Daya. Lazimnya, di parhyangan-parhyangan lainnya, arah pemujaan menuju Timur atau Utara. Pelinggih-nya juga tidak begitu banyak. Di jeroan hanya ada meru tumpang tiga (bertingkat tiga) menghadap ke timur laut, di depannya berdiri dua pengapit. Bagian jeroanini dibatasi kori gelung agung berarsitektur kuno yang juga menjadi ciri khas pura ini.

Di areal jaba tengah berdiri Pura Luhur tempat berstananya Ida Batara Lingsir Siwa-Rudra. Di luar pagar pembatas sebelah kiri berdiri Pura Tirtha. Di jaba sisi, sebelah kiri pintu masuk barulah terdapat Pura Jurit. Di tempat inilah diyakini Danghyang Dwijendra mencapai moksa. (b.)
______________________________________ 
Penyunting: I KETUT JAGRA
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan

Kancan Roras, Kepemimpinan Ulu Apad di Penglipuran

31 Mei 2021 - 21:53 WITA

Angkul-angkul Penglipuran
Trending di Desa Mawacara