Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 20 Okt 2013 13:42 WITA ·

Mapatung, Sarana Mempererat Ikatan Sosial


					Mapatung, Sarana Mempererat Ikatan Sosial Perbesar

Teks: I Made Sujaya
Mapatung atau juga disebut mapayon merupakan media untuk mempererat kekerabatan, kekeluargaan dan kebersamaan di antara krama. Melalui tradisi mapatung, krama bisa bertemu dengan kerabat, keluarga atau sahabat-sahabatnya. Di sanalah terjadi interaksi sosial, saling berbagi rasa. Di sanalah terdengar tawa, terbetik aneka cerita.
Tradisi mapatung (Foto: Wiadnyana)
Menurut peneliti adat Bali, Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.H., sejatinya apa yang disebut sebagai mapatung itu adalah mapayon. Yang dinamakan mapatung adalah orang yang menyertai tradisi mapayon. Tradisinya sendiri bernama mapayon. “Namun, kebanyakan memang orang lantas menyebut tradisi itu mapatung,” kata Windia.
Menurut Windia, mapatung atau mapayon merupakan media untuk mempererat kekerabatan, kekeluargaan dan kebersamaan di antara krama. Melalui tradisi mapatung, krama bisa bertemu dengan kerabat, keluarga atau sahabat-sahabatnya. Di sanalah terjadi interaksi sosial, saling berbagi rasa. Di sanalah terdengar tawa, terbetik aneka cerita.
“Itu yang sesungguhnya menjadi hakikat atau makna dari tradisi mapatung. Kalau dicari gampangnya, jauh lebih praktis membeli daging babi di pasar saja, tak perlu repot-repot begadang menyembelih babi. Namun, kalau membeli kita kehilangan interaksi, kehilangan kesempatan saling berbagi. Pada tradisi mapatung itulah kita menemukan semua itu,” kata Windia yang juga Ketua Bali Shanti Unud.
Wayan P. Windia (Foto: Dokumen Pribadi)
Namun, Wayan Windia menambahkan, jika dicermati baik-baik, pelaksanaan tradisi mapatung atau mapayon sesungguhnya sangat bermanfaat. Pasalnya, daging babi yang didapat jauh lebih murah harganya tinimbang jika membeli di pasar.
Yang jadi kelian sekaa mapatung (ketua kelompok mapatung) biasanya tidak akan mencari keuntungan. Dia hanya mendapat bagian yang sedikit lebih banyak dari anggota sekaa. Namanya, penengahan.
“Kalau membeli di pasar tentu lebih mahal harganya karena yang menjual mencari keuntungan,” jelas Windia.
Selain itu, keuntungan lain dari mapatungyakni daging babi yang didapat relatif lengkap. Orang yang ikut mapatung akan mendapat bagian yang sama, baik balung, kulit, jeroan, darah dan lainnya. Kalau membeli daging babi di pasar, belum tentu semua bagian tubuh babi bisa didapat. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 104 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi