Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 17 Mei 2014 10:55 WITA ·

Tradisi “Siat Sampian” di Pura Samuantiga, Begini Prosesi dan Maknanya


					Tradisi “Siat Sampian” di Pura Samuantiga, Begini Prosesi dan Maknanya Perbesar

Teks dan Foto: I Made Sujaya


Sabtu (17/5), tiga hari setelah puncak karya pujawali di Pura Samuantiga digelar suatu tradisi unik. Namanya, Siat Sampian atau perang sampian. Tradisi ini kerap menarik perhatian orang, termasuk tetamu asing. 


Seperti namanya, Siat Sampian memang berwujud laksana perang dengan menggunakan sampian. Pelaku ritual ini adalah para parekan(sebutan untuk pengayah laki-laki) dan permas(pengayah perempuan). 


Prosesi Siat Sampian diawali dengan nampyog yakni para permasyang berjalan beriringan mengelilingi halaman madya mandala pura. Para permas ini berjalan sembari menari-nari dengan gerakan sederhana. Krama Bedulu lazim menyebutnya sebagai tari Sutri. Di tangan kanan sang permas terselip dupa dengan asap mengepul. 

Nampyogdilakukan selama tiga kali. Setiap tiga kali berkeliling, gerakannya berubah lagi,” tutur Ketua Paruman Pura Samuan Tiga, I Wayan Patera. Dari prosesi nampyog ini, ada prosesi yang dikenal dengan nama ngober nyambung. Dalam prosesi ini, pada pinggang permasdiikatkan selembar selendang putih. Seledang ini pula yang dikibarkan secara sambung menyambung oleh para permasdi barisan berikutnya. 

Usai prosesi ngober nyambung, barulah disusul dengan maombak-ombakan. Saat ini, para parekan saling berpegangan satu sama lain mengelilingi halaman pura. Ini tergolong bagian menarik. Pasalnya, parekan yang saling berpegangan ini berputar selama tiga kali disertai dengan teriakan-teriakan seperti orang kesurupan. Mereka pun berusaha agar dapat memegangi bangunan suci yang ada di pura. Biasanya, prosesi ini disertai dengan tetabuhan yang rancak. Puncaknya, para parekan saling lempar sampianyang sudah disiapkan. 

Siat Sampian sendiri dimaknai Patera sebagai visualisasi pertarungan antara dua kekuatan yang berbeda yakni subha (kebaikan) dan asubha karma (keburukan) yang kerap terjadi di dalam kehidupan ini. Manusia pun sangat lekat dengan pertentangan antara kedua sifat ini di dalam dirinya. Yang menang pada akhirnya adalah kekuatan satya(kebenaran). Secara konkret ini disimboliskan dengan kelompok parekan yang ada di bagian pelataran atas. 


“Usai Siat Sampian, seluruh parekan masiram di beji. Ini maknanya penyucian diri,” kata Patera. 


Siat Sampian sendiri hanya boleh diikuti oleh parekan dan permas. Sehari sebelum pujawali, permas dan parekan ini melaksanakan pekalahyanganuntuk menyucikan diri serta mulai mengabdikan diri ke hadapan Ida Batara selama karya berlangsung. 

Dipilihnya sampianuntuk sarana Siat Sampian, menurut Patera, karena sampian merupakan bagian ujung dari dangsil yang dipersembahkan para parekan. Dangsilmerupakan wujud fisik dari bakti parekan ke hadapan Ida Batara. “Muncuk (ujung) bakti itulah yang dihaturkan secara tulus ikhlas ke hadapan Ida Batara,” kata Patera. 

Selain itu, bentuk sampianpun bundar menyerupai cakra. Cakra merupakan senjata Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan sebagai pemelihara. Cakra sendiri melambangkan perputaran hidup sekaligus juga kesejahteraan. 

Namun, sejak kapan ritual Siat Sampian mulai dilaksanakan di Pura Samuan Tiga, Patera tidak tahu secara pasti. “Kami sudah nami seperti ini,” kata Patera. 

Hanya, menurut penuturan tetua-tetua Desa Bedulu, dulu ritual Siat Sampian disertai atraksi ngamuk baa seperti lazimnya pada Tari Sanghyang. Entah kenapa, atraksi ini tidak lagi muncul. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 459 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi