Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 8 Okt 2014 13:07 WITA ·

Begini Ramalan Gerhana Bulan Malam Ini Menurut Kepercayaan Orang Bali


					Begini Ramalan Gerhana Bulan Malam Ini Menurut Kepercayaan Orang Bali Perbesar

Rabu (8/10) sore hingga malam tadi, masyarakat Indonesia, termasuk di Bali menyaksikan sebuah fenomena alam gerhana bulan total. Banyak warga yang tak melewatkan momen langka ini dengan cara mengabadikan bulan yang tampak berwarna merah darah. Bagi orang Bali, gerhana bulan malam ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan perayaan hari Pagerwesi sekaligus Purnama Kapat. 
Dalam tradisi Bali, Pagerwesi merupakan hari pemujaan Sanghyang Pramesti Guru, Tuhan dalam manifestasi sebagai guru alam semesta. (Baca: Pagerwesi, Hari Guru ala Bali) Sementara Purnama Kapat dinilai sebagai bulan paling benderang dan diyakini sebagai hari baik. Sasih Kapat kerap dimaknai orang Bali sebagai masa tumbuhan berbunga dan bulan penuh berkah. Itu sebabnya, banyak pura yang melaksanakan pujawali atau desa yang menggelar ngusaba ada Purnama Kapat. (Baca: Sasih Kapat, Saat Tepat Merayakan Cinta)

Namun, kemunculan gerhana bulan total tepat di Sasih Kapat membiaskan kecemasan. Pasalnya, menurut tradisi Bali, gerhana bulan yang terjadi pada Sasih Kapat dan hari Rabu dipercaya sebagai pertanda buruk. Dalam buku Pelajaran Wariga (Dewasa) yang disusun Wayan Simpem AB disebutkan gerhana yang terjadi pada Sasih Kapat merupakan pertanda akan terjadi banyak angin ribut, jarang hujan, jarang ada padi dan beras. 
Bukan hanya itu, gerhana bulan malam ini terjadi pada hari Rabu (Buda). Menurut ramalam,  jika gerhana bulan terjadi pada hari Rabu, dipercaya sebagai pertanda ternak yang banyak sakit dan pemerintah kesusahan. 
(Lebih lengkap mengenai ramalan gerhana di Bali, baca: Ini Makna Gerhana Matahari dan Bulan Menurut Tradisi Bali)

Seorang warga Denpasar, Nengah Sumiarta meyakini betul ramalan yang tertuang dalam lontar-lontar tradisional Bali itu. Menurut Sumiarta, saat ini Bali sudah mengalami kekeringan.

“Kalau dari sisi politik, sekarang pemerintahan baru, sebelum dilantik sudah dikepung koalisi lawannya. Ini artinya orang baik sedang ditutupi oleh orang-orang yang berniat buruk. Tapi Tuhan tidak tidur. Sang Hyang Widhi Wasa pasti akan melindungi dan memenangkan orang baik. Jadi tetap sabar dan jangan berpaling dari kebajikan, pasti akan menang,” kata Sumiarta yang sehari-hari sebagai pedagang keliling.
Namun, menurut Sumiarta, masyarakat tidak perlu cemas. Yang terpenting tetap berdoa ke hadapan Sang Pencipta agar seluruh semesta dilindungi. “Intinya jangan berpaling dari kebajikan,” tandas Sumiarta yang juga penekun spiritual.  (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 240 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi