Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 28 Sep 2015 14:55 WITA ·

Padang Luwih Tetap Pertahankan Tradisi “Siat Tipat”


					Padang Luwih Tetap Pertahankan Tradisi “Siat Tipat” Perbesar

Tradisi Siat Tipat (Perang Ketupat) tak hanya ditemukan di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, tetapi juga di Desa Adat Padang Luwih, Dalung, Kuta Utara, Badung. Tradisi dalam bentuk saling lempar ketupat dan jajan bantal ini dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat, Senin (28/9).
Bendesa Adat Padang Luwih, I Gusti Ketut Suparta, menuturkan, tradisi tahunan ini melibatkan ratusan kepala keluarga di Desa Padang Luwih. Tradisi ini sebagai bentuk syukur atas melimpahnya hasil panen.
“Dulu, masyarakat Padang Luwih dominan menjadi petani, panen selalu melimpah. Karenanya sebagai bentuk syukur dan terima kasih, digelarlah perang ketupat ini dan berlanjut hingga saat ini,” jelasnya.

Suasana Siat Tipat di Padang Luwih (balisaja.com/istimewa)
Tradisi perang ketupat, lanjut Gusti Suparta, diawali persembahyangan bersama di Pura Desa Adat Padang Luwih. Setelah itu, para peserta perang ketupat  akan makan bersama. “Sebelumnya ada kegiatan makan bersama dan sembahyang bersama. Ini ditujukan untuk Sang Hyang Rare Angon,” jelasnya.
Setelah sembahyang dan makan bersama, warga yang turut dalam tradisi tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yakni di sebelah utara dan sebelah selatan pura desa.  “Pembagian kelompok ini berdasarkan letak banjar masing-masing. Setelah dibagi dua kelompok, mereka saling lempar ketupat layaknya perang,” terangnya.
Dijelaskan Suparta, enam banjar adat yang terlibat dalam ritual perang ketupat adalah Banjar Tegal Jaya, Banjar Celuk, Banjar Jeroan, Banjar Pendem, Banjar Gaji dan Banjar Kuanji. Banjar tersebut terdiri dari 530 KK dengan jumlah warga 2.433 jiwa. Menurut Suparta, warga yang dominan ikut dalam perang tersebut adalah kalangan pemuda, sementara prajuru desa hanya mengawasi saja.
Meski hanya berlangsung sebentar, namun warga terlihat sumringah. Usai perang ketupat, warga langsung membubarkan diri. Akses jalan di sekitar Pura Desa Adat Padang Luwih juga sempat dialihkan sementara terkait pelaksanaan ritual tersebut.
Tradisi “Perang Tipat” di Desa Padangluwih, Dalung, Kuta Utara berakar pada sebuah mitos atau cerita rakyat yang berkembang di desa itu. I Nyoman Gede Riantha dalam skripsinya di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) tahun 1986 berjudul “Perang Ketipat di Pura Desa Adat Padang Luwih Ditinjau dari Segi Pendidikan Agama Hindu”, menulis tradisi “Perang Tipat” yang juga dikenal dengan sebutan Timpug Tipat-Bantal berkaitan dengan kisah Rare Angon.
Diceritakan, di masa lalu warga Padang Luwih sempat mengalami paceklik dan masa yang sangat sulit. Tanaman di sawah tiada berbuah dan binatang piaraan tidak pernah berhasil.
Akhirnya warga menyepakati untuk bersembahyang ke Pura Desa pada Purnama Kapat guna memohon keselamatan tanaman di sawah dan binatang piaraan. Ternyata, di Pura Desa terlihat dua orang sedang bersenggama. Ketika ditanya, orang itu menjawab, “Aku adalah Dewa Rare Angon yang akan memberikan keselamatan bagi binatang piaraan”. Sementara yang wanita berujar, “Aku adalah Dewi Hyang Nini Bhagawati yang akan memberikan keselamatan terhadap tanaman  di sawah”. Selesai berucap, kedua orang itu pun menghilang.
Ajaib, memang. Sesudahnya tanaman dan binatang piaraan warga menjadi berhasil baik. Untuk mengenang kejadian itulah tiap Purnama Kapat dilaksanakan ngusaba disertai dengan ritual Timpug Tipat-Bantal. Tipat merupakan simbol Dewa Rare Angon dan bantal merupakan simbol Dewi Hyang Nini Bhagawati. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 396 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi