Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Puisi · 26 Mei 2021 10:31 WITA ·

Dari Puncak Purnama [Sajak-sajak IBG Parwita]


					Dari Puncak Purnama [Sajak-sajak IBG Parwita] Perbesar

Dari Puncak Purnama

 

Laut masih menyisakan bayangan

diantara kerlip mercusuar di atas pelabuhan

geliat ombak tertahan sunyi bebatuan

memanggil tiada henti

 

wajah bulan masih menyimpan sisa kenangan

diantara dingin gelombang yang mengalir perlahan

meneduhkan puncak meru dalam kesunyian berhari hari

 

ada yang tak dapat terlupa

menyayat lukisan purnama dalam gerimis berembun

mengalirkan kesunyian dingin di larut waktu

 

hening sukma menjemput tarian dewa – dewa

dalam bayangan bulan di keheningan lautan

riak yang mengusap tepian mengisyaratkan kepasrahan

ataukah rindu telah berlabuh dalam kesunyian abadi

 

(7–2013)

 

Kidung Purnama

 

Jejak terdampar sepanjang sunyi

ketika gerimis lelah

menutup guguran daun daun

bersama derai ombak

mengusap tepian

 

Ada jarak yang tak tampak

mengantar angin

menyusuri gerbang kelam

 

Bayang bayang selalu menari dalam kesunyian

lalu melukis wajah dalam pemujaan

 

Saat purnama datang

memeluk keheningan

keteduhan jatuh

menyatu

suara hati

 

Lagu Purnama

 

Sunyi mengalir perlahan

di bawah bayang bayang bulan

lalu angin luruh

terpejam dalam dingin malam

 

Adalah kerinduan kita

yang tak pernah berhenti

bagai irama keabadian

selalu berlayar

menuju pusat semesta

 

Bentangan purnama yang purba

berdatangan

menuruni kesenyapan

menabuhnya jadi suara suara kelam

berloncatan dari waktu ke waktu

 

Langit di atas purnama

hening cahayanya

dingin

menyusupi pedusunan

 

1987

 

Lukisan Purnama (1)

 

Gerimis mulai turun menutup malam

saat bayang bayang berguguran

menyusuri isak burung burung

yang tersesat sepanjang hari

 

angin luruh berlabuh

mengikuti arus pandangmu

yang tersisa

hanya riak kecil

lukisan kabut

 

derai ombak makin jauh

mengubur teduh purnama

bersama sisa kesenyapan

yang terus mengalir

ke puncak semesta

 

dalam kesunyian yang makin larut

menelan bisu perbatasan

gerimis masih mengalir

perlahan

hingga malam berpeluk

meluruh bumi

 

 

Januari, 1996

 

Lukisan Purnama (2)

 

Ada yang selalu terjaga dalam kesunyian

saat gerimis turun

meneduhkan senja hari

 

Angin bertiup ke dermaga

menelan sepi daun daun

mengikuti arus pandangmu

 

Bulan dan bintang berjatuhan

menghias malam yang makin jauh

menyusuri purnama

 

Derai ombak mengusap tepian

melukis segala kenangan

dalam keheningan

yang tak sanggup terucap

 

Ada yang tertinggal

dalam lukisan purnama

hingga gerimis mengalir

mengabadikannya dalam irama hati

  

  • IDA BAGUS GDE PARWITA dilahirkan di Desa Tihingan, Klungkung, 19 November 1960. Menulis karya sastra berbahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Mulai tahun 1982, karya-karyanya berupa puisi dan catatan kebudayaan menghiasi media cetak lokal dan nasional. Tahun 2009 menerima penghargaan Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali untuk buku kumpulan puisi berbahasa Bali, Wayang. Akhir tahun 2020, buku antologi puisi berbahasa Indonesia karyanya terbit dengan judul Luka Purnama. Kini menjadi Kepala SMA Pariwisata PGRI Dawan, Klungkung atau dikenal dengan sebutan SMA Paris
Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Tonya Dadi Pedanda”: Penampilan Bisa Menipu

22 Mei 2022 - 21:51 WITA

Ketu Pedanda

Terang Bulan Pemberian [Cerpen I Made Ariyana]

18 Juni 2021 - 21:17 WITA

Humanisme dalam Balutan Budaya Bali: Membaca Kumpulan Cerpen “Tanah” IDK Raka Kusuma

7 Juni 2021 - 01:08 WITA

Lirikan Mata Perempuanku [Cerpen IBW Widiasa Keniten]

1 Juni 2021 - 22:55 WITA

Ritual Jarak [Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara]

31 Mei 2021 - 08:42 WITA

Dongeng Purba I Wayan Suartha dalam “Buku Harian Ibu belum Selesai”

27 Mei 2021 - 23:58 WITA

Trending di Sloka Bali