Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 22 Des 2017 02:25 WITA ·

Memuliakan Ibu, Memuliakan Kehidupan


					Memuliakan Ibu, Memuliakan Kehidupan Perbesar

Tradisi Bali menempatkan Ibu begitu mulia. Dalam teks-teks tradisional Bali, Ibu  disebut sebagai penjaga kehidupan yang lebih mulia dari bumi ini. Ibu adalah penjaga nafas kehidupan. Karena itu, memuliakan ibu, sama artinya dengan memuliakan kehidupan.
Tradisi Bali menyebut bumi ini sebagai Ibu Perthii, sebuah cermin pemuliaan Ibu. Manusia Bali sudah sejak lama diingatkan tentang betapa besarnya cinta, kasih dan sayang Ibu Bumi. Karenanya, manusia Bali senantiasa pula diingatkan untuk menjaga dan merawat Ibu Bumi dengan penuh ketulusan dan kejujuran.

Dalam tradisi Bali, jasa Ibu Bumi sangatlah besar, setara dengan jasa sang Ibu biologis. Ibu Bumilah yang menopang hidup dan kehidupan ini. Ibu Bumi juga begitu sabar melayani segala keinginan-keinginan manusia.
Karena itulah, manusia Bali diajarkan untuk berterima kasih secara tulus kepada Ibu Bumi. Hari suci Tumpek Pengatag dan Tumpek Kandang merupakan ungkapan rasa terima kasih manusia Bali kepada Ibu Bumi. Sungguh manusia tidak bisa hidup tanpa ditopang oleh tetumbuhan dan hewan. Dengan adanya tumbuh-tumbuhan dan binatanglah, manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya baik sandang, papan maupun pangan.
Dalam Mahabharata terdapat episode Yudistira meratapi jazad saudara-saudaranya: Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang meninggal setelah meminum air telaga. Yudistira memohon agar saudara-saudaranya bisa dihidupkan kembali lalu Yaksa mensyaratkan Yudistira mesti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Sebuah pertanyaan diajukan Yaksa: Apakah yang mampu menghidupi dan membesarkan lebih mulia daripada bumi ini?” Begitu selarik tanya dari Yaksa yang gaib kepada Yudistira tatkala berada di tepian sebuah telaga.
“Ibu. Beliaulah yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini.” Begitu jawaban Yudistira yang ternyata dibenarkan Yaksa.
Percakapan antara Yudistira dan Yaksa ini kerap kali disodorkan ketika membincang kemuliaan Ibu. Bahwa kemulian seorang Ibu tiada bandingannya. Bahkan jika orang menyebut teramat mulianya bumi ini untuk merawat kehidupan, kemuliaan seorang Ibu melampaui hal itu.
Seorang Ibu memang sangat dekat dengan sifat tulus memelihara, ikhlas merawat, tegar menjaga serta tanpa pamrih melindungi. Seorang Ibu akan merasa berdosa kepada anaknya jika tak mampu melaksanakan kewajiban mulianya itu.
Karena itu, bisa dipahami kemudian mengapa seorang Kunti dikejar-kejar perasaan berdosa sepanjang hidupnya karena telah membuang putra pertamanya, Karna. Kunti pun akhirnya menjalani “hukumannya” sepanjang hayat. Batinnya tersiksa, hatinya teriris-iris. Puncaknya, dia akhirnya harus kehilangan putra yang sejak lama dirindukannya itu. Tragisnya, Karna meninggal oleh anak panah adiknya sendiri, Arjuna. Mereka lahir dari rahim yang sama, rahim Kunti.  
Bagi seorang anak, memiliki Ibu adalah sebuah karunia sejati dalam hidup. Ibulah yang menjadikannya ada. Ibulah yang kemudian merawatnya dengan tulus hingga bisa menatap matahari dengan wajah tegak.
Maka, sepanjang hidupnya, seorang Karna yang agung senantiasa diusik kerinduan untuk bertemu Ibu kandungnya. Kerinduan yang mewujud dalam mimpi-mimpi yang panjang. Perasaannya belum tenang jika belum mengetahui siapa Ibu kandungnya.
Ada rasa dendam, memang, pada sang Ibu yang telah menyia-nyiakannya ketika lahir. Namun, ketika mengetahui dan bertemu dengan Kunti, sang Ibu kandung, toh akhirnya Karna tak bisa marah. Wajah Ibu teramat menyejukkan, terlampau teduh. Betapa pun hati panas membara, di depan Ibu, semuanya menjadi luluh.
Karenanya, berbahagialah mereka yang telah menjadi Ibu. Seorang Ibu tidak saja melahirkan anak-anak dari suaminya, tetapi lebih dari itu, seorang Ibu telah menjadi sosok yang merawat dan menjaga kehidupan. Seorang Ibu telah memaknai secara nyata bagaimana semestinya mencintai kehidupan ini dengan tulus dan bagaimana berkorban tanpa pamrih bagi kehidupan.
Sampai di sini bisa dipahami mengapa kemudian seorang perempuan lebih dihargai ketika melakoni tugas mulia sebagai seorang Ibu. Karena, menjadi Ibu adalah puncak pencapaian dari perjalanan panjang seorang perempuan. Seperti halnya puncak pencapaian seorang laki-laki saat menjadi ayah. Lantaran, pada titik itulah kontribusi nyata bagi kehidupan. Ibu adalah penjaga kehidupan yang lebih mulia dari bumi. Selamat Hari Ibu! (b.)

Teks: Ketut Jagra
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi