Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 25 Jun 2016 22:21 WITA ·

Di Balik Tradisi Perang Pandan Tenganan Pagringsingan


					Di Balik Tradisi Perang Pandan Tenganan Pagringsingan Perbesar

Tradisi Makare-kare di Tenganan Pagringsingan. (balisaja.com/I Made Sujaya)
Oleh: I MADE SUJAYA 

Tradisi Makare-kare atau Perang Pandan menjadi ikon Desa Adat Tenganan Pagringsingan. Berbarengan dengan suasana perayaan hari Saraswati,  Jumat-Sabtu (24-25/6), desa Bali Aga di Karangasem, Bali itu  kembali menggelar tradisi Makare-kare

Makare-kare merupakan bagian dari Usaba Sambah. Ini merupakan ritual terbesar dalam setahun yang dirayakan warga Tenganan Pagringsingan dengan hati riang. Upacara ini dilaksanakan sebulan penuh. Usaba Sambah jatuh pada bulan kelima dalam perhitungan penanggalan Tenganan Pagringsingan (sekitar bulan Mei-Juni).



Usaba Sambah sendiri ada yang disebut sebagai Usaba Sambah biasa dan ada yang disebut Usaba Sambah Muran. Usaba Sambah Muran jatuh tiap tiga tahun sekali. Usaba Sambah tahun ini termasuk Usaba Sambah Muran.

Tradisi Makare-kare selama Usaba Sambah sendiri sejatinya dilaksanakan sebanyak empat kali. Pertama, Makare-kare desa dilaksanakan di Bale Agung. Berikutnya ada Makare-kare di Patemu Kaja, Makare-karedi Patemu Kelod dan terakhir Makare-karedi Patemu Tengah. Makare-kare ketiga dan terakhir yang lebih dikenal orang daripada Makare-karepertama dan kedua. Wajar, Makare-kare pertama dan kedua lebih bersifat simbolis. Sedangkan Makare-kare ketiga dan keempat diikuti banyak orang termasuk orang luar Tenganan Pagringsingan.

Menurut AA Gde Putra Agung dalam buku Magebug dan Makare Seni Tari Tradisional di Karangasem Bali, kata Makare-kare berasal dari kata kale yang disamakan dengan kata kaliyang artinya perang. Karena itu, Putra Agung menggolongkan Makare-kare sebagai tari perang.

Memang, jika melihat wujud tradisi ini jelas-jelas sebagai sebuah pertarungan atau peperangan. Dua orang laki-laki yang membawa tamiang (tameng) yang terbuat dari ata serta membawa segenggam daun pandan berduri (pandan lengis) saling menggores punggung lawannya. Dari sini pula kemudian lahir sebutan Perang Pandan. Tubuh orang yang terluka karena terkena goresan duri pandan akan diobati dengan boreh yang berbahan cuka, bangle, kunyit dan isen (lengkuas). Menurut pengalaman orang-orang yang pernah ikut Makare-kare, luka akibat goresan pandan itu cepat kering setelah diolesi boreh khas Tenganan itu. Paling lama luka itu bertahan selama dua hari.

Biasanya, Makare-kare ini diiringi dengan gamelan Selonding. Ini merupakan salah satu instrumen atau gamelan Baliyang tergolong tua. Gamelan Selonding hanya terdapat di desa-desa tua seperti Bungaya, Bugbug dan Tenganan Pagringsingan dan biasanya sangat disakralkan warga setempat.

Meski begitu, ada juga peneliti yang menyejajarkan tradisi Makare-kare dengan tabuh rah. Hal ini dikarenakan adanya darah yang keluar dari tubuh peserta Makare-kare akibat tergores duri pandan. Namun, masyarakat Tenganan Pagringsingan sendiri umumnya kurang sependapat jika Makare-kare disamakan dengan tabuh rah. Mereka lebih sepakat jika itu sebagai tarian perang sebagai peringatan atas keberanian orang-orang Tenganan di masa lalu.

Memang, di kalangan warga Tenganan Pagringsingan berkembang cerita kemahsyuran Kaki Tambora. Tokoh yang diyakini kuat berasal dari Tenganan Pagringsingan ini di kalangan masyarakat Lombok dikenal sebagai orang kebal dan kuat saat ikut memperkuat laskar Kerajaan Karangasem saat menyerang Kerajaan Lombok. Kaki Tambora disebut-sebut sebagai satu-satunya orang yang berani ikut magebug melawan orang-orang Sasak.

Putra Agung mengaitkan kepercayaan tentang kekebalan orang-orang Tenganan ini dengan tradisi macane yang masih hidup di Tenganan. Tradisi macane berwujud menggoreskan bedak kuning dan beras pada lengan. Diduga awalnya upacara macane di Tenganan Pagringsingan dulu dilakukan dengan pandan juga. Namun, kemudian diganti dengan pelaksanaan secara simbolis.

Terlepas dari semua itu, yang dititikberatkan dalam Makare-kareadalah unsur tariannya. Tidak ada menang-kalah. Setelah Makare-kare selesai, dilanjutkan dengan makan bersama (magibung). Karena itu, tujuan utama dari tradisi ini sejatinya untuk mengukuhkan kebersamaan. (b.)
__________________________________

Penyunting: KETUT JAGRA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi