Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Iloe · 24 Mei 2016 22:01 WITA ·

Hari Ini 167 Tahun Silam, Klungkung Permalukan Belanda di Kusamba


					Diorama Perang Kusamba yang dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya di Monumen Puputan Klungkung di Kota Semarapura. (balisaja.com/I Made Sujaya) Perbesar

Diorama Perang Kusamba yang dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya di Monumen Puputan Klungkung di Kota Semarapura. (balisaja.com/I Made Sujaya)

Baru saja masyarakat Klungkung gegap gempita merayakan hari jadi kotanya sekaligus mengenang peristiwa heroik perang Puputan Klungkung, 28 April lalu. Namun, selayaknya orang Klungkung juga tak melupakan kemenangan bersejarah laskar Klungkung dalam Perang Kusamba, 24-25 Mei 1849. Dalam peristiwa ini, Klungkung sukses mempermalukan Belanda.

Perang di Kusamba, di kampung penuh ilalang itu (kusa artinya ilalang), layak dikenang karena menjadi peristiwa bersejarah yang mampu mengangkat harga diri orang Bali. Di Kusamba, pekik perjuangan laskar pemating dan endehan yang dimotori kematangan strategi perang Dewa Agus Istri Kanya berkolaborasi dengan mangkubumi Anak Agung Ketut Agung mampu menghujamkan luka terdalam bagi pasukan Belanda.

Jenderal AV Michiels, jenderal Belanda kaya prestasi, tewas di tangan pasukan Klungkung. Belanda yang memiliki senjata modern dan lengkap dibuat kalang kabut dengan serangan mendadak laskar rakyat Klungkung pada 25 Mei 1849 subuh.

Memang, dalam perang ini, Klungkung kehilangan sekitar 800 laskar Klungkung termasuk 1000 orang luka-luka. Namun, di pihak Belanda kehilangan tak kalah membuat pedih. Selain tewasnya Jenderal AV Michiels, Belanda juga kehilangan Kapten H Everste dan tujuh orang tentara, termasuk 28 orang luka-luka. Prestasi yang tak kalah penting, Perang Kusamba mencatat kesejajaran kemampuan menyusun strategi perang orang Bali menghadapi pasukan asing dengan perlengkapan senjata lengkap dan jauh lebih modern.

Profesor Sejarah dari Unud, AA Bagus Wirawan menyatakan peristiwa Perang Kusamba merupakan kelanjutan dari Perang Jagaraga. Diakui Wirawan, Perang Kusamba memang sebagai perlawanan dalam skala kecil. Selain itu, Perang Kusamba juga berakhir dengan kekalahan Klungkung karena Kusamba akhirnya bisa dikuasai Belanda, terutama setelah ditandatanganinya perjanjian di Kuta sebulan setelah perang.

“Tetapi dampak yang ditimbulkan dalam peristiwa itu sangat besar karena Belanda kehilangan pemimpin pasukannya yang seorang jenderal,” kata Wirawan yang juga tokoh Puri Gelgel, Klungkung ini.

Karena itu, Wirawan menilai Perang Kusamba layak diperingati seperti halnya Puputan Klungkung. Dalam Perang Kusamba, setidaknya bisa dipetik tiga nilai karakter bangsa, yakni yakni heroisme, patriotisme dan emansipasi wanita. (b.)

  • Penulis: I Made Sujaya
  • Foto: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Made Radheya
Artikel ini telah dibaca 107 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

25 Mei 2022 - 19:50 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930

Virus Korona dan Jejak “Grubug” di Tanah Bali

28 Januari 2020 - 00:01 WITA

Jejak Pembaruan dari Gianyar

18 April 2016 - 23:19 WITA

Trending di Bali Iloe