Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Iloe · 18 Apr 2016 23:19 WITA ·

Jejak Pembaruan dari Gianyar


					Punggawa Ubud hendak bersiap menghadap Raja Gianyar (balisaja.com/Repro: buku Bali Pada Abad XIX Perbesar

Punggawa Ubud hendak bersiap menghadap Raja Gianyar (balisaja.com/Repro: buku Bali Pada Abad XIX

Selasa (19/4) hari ini, masyarakat Gianyar kembali merayakan hari jadi kotanya. Perayaan ke-245 diisi dengan aneka kegiatan yang melibatkan masyarakat Gianyar selama hampir sebulan penuh sejak 1 April hingga 24 April 2016.

Seperti lazimnya sebuah perayaan, HUT ke-245 Kota Gianyar juga sepantasnya disambut dengan refleksi diri. Dalam refleksi diri itu, pemerintah dan masyarakat Gianyar diharapkan bisa belajar dari sejarah masa lalunya untuk menjadi lebih baik di masa kini dan masa depan.

Gianyar di masa silam memang lekat dengan jejak kelam. Gianyar di masa kerajaan adalah Gianyar yang kurang beruntung karena terjepit oleh lawan-lawannya yang juga menjadi tetangga. Kondisi ini kemudian melahirkan pilihan pragmatis penguasa Gianyar masa itu yakni menyerahkan kerajaan di bawah kekuasaan dan perlindungan Belanda agar kerajaan tidak hancur dan jatuh ke tangan musuh bertetangga.

Namun, ada dua jejak berbeda dalam sejarah Gianyar yang menarik untuk disimak selain jejak-jejak kelamnya. Jejak pertama yakni di pertengahan abad XIX. Raja Dewa Manggis VII yang memerintah kerajaan Gianyar mengangkat seorang patih agung yang ulung dari kaum Sudra yakni dua bersaudara, I Made Pasek dan I Ketut Pasek.

Seperti ditulis Ida Anak Agung Gde Agung dalam buku Bali Pada Abad XIX (1989) patih ini di mata raja dan masyarakat kerajaan Gianyar saat itu dianggap sebagai seorang yang cakap dalam soal pemerintahan dan diplomasi. Kepiawaian politik I Made Pasek disebut-sebut telah mengantarkan kerajaan Gianyar disegani sebagai kerajaan yang berwibawa di Bali. Hanya memang, karena tidak dari golongan bangsawan, kedua orang ini tidak diangkat sebagai patih agung secara resmi.

Tatkala mengawini seorang wanita dari Desa Sukawati yang kemudian diberi nama Jero Nyeri, Dewa Manggis VII mengangkat I Ketut Sare atau I Ketut Sukawati sebagai patih agung. Sejak saat itu, peran I Made Pasek tergantikan.

Menurut Ida Anak Agung Gde Agung, sejak I Ketut Sare diangkat menjadi patih agung, kerajaan Gianyar mengalami masa suram. Pasalnya, I Ketut Sare dianggap tidak mempunyai pengalaman dalam soal pemerintahan, tidak pernah mengenyam pendidikan untuk menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan serta dalam masa yang begitu genting akibat pertikaian politik Gianyar dengan Klungkung dan Bangli.

Jejak kedua, pada dua dekade permulaan abad ke-20. Ketika itu, Belanda mewajibkan orang Baliber kasta rendah untuk menjalani kerja kasar tanpa upah setiap tiap tahun. Kewajiban kerja rodi, menurut sumber-sumber Belanda, tidak dikenakan kepada kelompok Triwangsa.

Mendapat beban berat seperti itu, bukan berarti rakyat jelata Bali dari golongan Sudra tidak melawan. Sumber-sumber Belanda menyebut terjadinya demonstrasi sekelompok warga Sukawati, Gianyar pada tahun 1917. Ketika diganjar hukuman enam hari kerja keras karena tak mau menjalani heerendienst, 136 lelaki dari Sukawati diiringi ratusan pendukung berarak-arakan ke kota Gianyar memrotes keputusan itu. Malah, demonstrasi ini berakhir rusuh. Tercatat lima orang demonstran terbunuh, 11 orang luka berat dan 26 orang ditangkap.

Belanda terpaksa turun tangan. Residen Belanda di Gianyar kemudian mengumumkan hukuman kerja keras itu sudah dijalankan tanpa embel-embel apa pun lagi.

Kedua jejak ini terasa paradoks, memang. Pada jejak pertama kita melihat adanya penghargaan kepada kelompok masyarakat dari kelas bawah untuk turut berada dalam akses kekuasaan. Sementara jejak kedua menggambarkan perjuangan kelas bawah yang ingin disetarakan, tak ada diskriminasi.

Namun, catatan penting yang bisa diberikan pada kedua jejak ini yakni pada adanya semangat pembaruan. Jejak pertama menunjukkan adanya kesadaran penguasa untuk menghargai kompetensi pribadi-pribadi terpilih dari rakyatnya yang pada masa itu dipandang tidak lazim bahkan tidak tepat untuk menduduki suatu posisi terhormat dalam elite kekuasaan. Pada jejak kedua kita melihat semangat pembaruan dari rakyat Gianyar yang rindu melihat perlakuan yang setara dan sejajar.

Inilah barangkali sumbangan kecil dari sejarah Gianyar di antara jejak-jejak masa lalunya yang kelam. Dalam lipatan masa silamnya, Gianyar ternyata mencatat sejarah pembaruan yang penting artinya bagi sejarah Bali. Masyarakat Gianyar, tentu harus bangga dengan sejarahnya ini. Dirgahayu Kota Gianyar dalam HUT ke-245. (b.)

  • Penulis: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 121 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

25 Mei 2022 - 19:50 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930

Virus Korona dan Jejak “Grubug” di Tanah Bali

28 Januari 2020 - 00:01 WITA

Hari Ini 167 Tahun Silam, Klungkung Permalukan Belanda di Kusamba

24 Mei 2016 - 22:01 WITA

Trending di Bali Iloe