Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 6 Mar 2015 15:18 WITA ·

Tumpek Kandang, Hari Ternak ala Bali


					Tumpek Kandang, Hari Ternak ala Bali Perbesar

Sabtu (7/3) ini, para peternak Bali bakal merayakan hari penting. Tradisi Hindu-Bali menyebutnya sebagai hari Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Pada hari itu, umat Hindu, terutama para peternak membuat sesaji khusus yang dipersembahkan ke hadapan Tuhan sebagai terima kasih atas karunia segala jenis hewan yang telah membantu memudahkan hidup manusia. Inilah tradisi hari ternak yang unik dan otentik milik Bali.



Masyarakat awam kerap kali menyebut tradisi perayaan Tumpek Kandang sebagai hari otonon (hari lahir) hewan peliharaan atau pun binatang ternak (wewalungan), seperti babi, sapi, ayam atau pun ternak lainnya. Di desa-desa yang memiliki hutan desa yang dihuni kera, biasanya akan menggelar sesaji ngotonin kera-kera itu, seperti di Alas Pala (Sangeh, Badung), Alas Kedaton (Kukuh, Tabanan) dan Wenara Wana (Ubud, Gianyar).

Di Desa Tangkas Dangin Tukad, Klungkung, ada sebuah pura khusus untuk memuja Batara Rare Angon, sang pelindung hewan ternak. Ke pura ini, biasanya umat bakal datang memohon keselamatan bagi hewan peliharaan mereka atau pun mengucap syukur atas keberhasilan usaha ternak mereka. Upacara pujawali(perayaan hari jadi pura) dilaksanakan saban Redite Umanis wuku Kuningan. Namun, saat Tumpek Kandang, tak sedikit juga umat datang menghaturkan sesaji ke pura ini.

Warga sekitar pura mengenal Pura Tumpa sebagai tempat mohon kesembuhan bagi binatang peliharaan yang sedang sakit. Begitu juga bila ada ternak betina yang tak kunjung beranak bakal dimohonkan wangsuh pada agar bisa beranak.

Sesaji yang dipersembahkan saat hari Tumpek Kandang biasanya berbeda untuk ternak yang berbeda. Untuk ternak sapi, kerbau, gajah, dan kuda biasanya dipersembahkan sesaji tumpeng tetebasan, penyeneng, sesayut dan canang raka. Jika ternaknya berupa babi, sesajinya meliputi tumpeng, canang raka, penyeneng, ketipat dan belayag. Bila hewan ternaknya sejenis unggas, seperti ayam, itik, burung, angsa dan sejenisnya, sesaji yang dipersembahkan berupa bermacam-macam ketupat sesuai dengan nama atau manuk itu, dilengkapi dengan penyeneng, tetebus dan kembang payas

Teks: Ketut Jagra 
Foto: Sujaya
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 320 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi