Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 22 Mar 2015 12:47 WITA ·

Kedonganan Hidupkan Lagi Tradisi “Mabuug-buugan” Setelah 60 Tahun Tak Digelar


					Kedonganan Hidupkan Lagi Tradisi “Mabuug-buugan” Setelah 60 Tahun Tak Digelar Perbesar

Bertepatan dengan hari Ngembak Gni (sehari setelah Nyepi), Minggu (22/3) masyarakat Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung menghidupkan kembali tradisi Mabuug-buugan. Tradisi ini sudah sekitar 60 tahun tidak pernah digelar lagi. Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan menjadi pelopor yang merekonstruksi tradisi ini. 

Tradisi Mabuug-buugan terbilang unik. Para peserta yang didominasi anak-anak muda serta sebagian kecil anak-anak dan orang dewasa itu mandi lumpur di daerah rawa-rawa di kawasan hutan bakau Kedonganan. Dengan hanya mengenakan kamben mabulet ginting (kain setinggi pinggang dengan ujung kain ditarik ke belakang) mereka melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur. Sesekali mereka juga melempari tubuh rekannya dengan lumpur sehingga terlihat seperti tengah berperang lumpur. Kendati sekujur tubuh ditutupi lumpur hingga terlihat hitam legam, para peserta tradisi itu tetap terlihat begitu bergembira. 


Seusai bermain lumpur, anak-anak muda yang semuanya laki-laki ini berlari bersama menuju Pantai Kedonganan. Di sini mereka membersihkan diri lalu saling bertegur sapa sebagai wujud syukur. 

Ketua Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana menyatakan sebagai generasi muda pihaknya merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali tradisi masyarakat Kedonganan yang pernah hampir hilang itu. Karena itu, setelah melakukan penelitian sederhana, pihaknya mencoba merekonstruksi tradisi ini.

“Kami ingin mengajak generasi muda Kedonganan untuk memahami dan memaknai tradisi warisan leluhurnya. Ini sebagai media edukasi sekaligus mempererat kebersamaan di antara masyarakat Kedonganan,” kata Yustisia. 

Bhaga (Wakil Bidang) Pelestarian Tradisi, Budaya dan Pendidikan Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan, I Made Sudarsana menjelaskan mabuug-buugan berasal dari kata buug yang dalam bahasa Bali berarti ‘tanah/lumpur’. Mabuug-buugan berarti ‘beraktivitas dengan tanah/lumpur’. 

Secara konseptual, kata Sudarsana, tanah atau lumpur merupakan cerminan perthiwi (bhur) yang menjadi sumber kemakmuran. Karena itu, tradisi mabuug-buugan juga bisa dimaknai sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas karunia kesuburan yang melimpah.

Tokoh masyarakat Kedonganan, I Ketut Madra menyambut baik upaya anak-anak muda Kedonganan ini. Menurut Madra, upaya ini harus dilanjutkan dengan penelitian lebih mendalam dan pendokumentasian serta pelestarian tradisi yang sudah hampir hilang itu. (b.)


http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi