Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 16 Des 2014 20:04 WITA ·

Begini Makna Hari Galungan Menurut Lontar


					Begini Makna Hari Galungan Menurut Lontar Perbesar

Boleh jadi karena dimaknai sebagai hari kemenangan, perayaan Galungan dan Kuningan senantiasa disambut dengan suka cita. Namun, lontar Sundarigama(ada juga yang membacanya dengan nama Sunarigama) yang menjadi rujukan pelaksanaan hari raya Hindu, termasuk Galungan dan Kuningan, mengingatkan hakikat Galungan bukan sekadar bersuka cita (magirang-girang), tetapi justru refleksi menuju hidup yang terang-benderang (galang apadang).


Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, IGN Sudiana dan pendharma wacana I Ketut Wiana menegaskan esensi perayaan Galungan sebagaimana tercantum dalam lontar Sundarigama, yakni patitis ikang jnana sandi, galang apadang mariakna byaparaning idep. Maknanya, menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sandaran utama pikiran dalam menyelesaiakan persoalan-persoalan hidup dan kehidupan.


“Penyelesaian atas berbagai persoalan hidup dan kehidupan ini harus dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan dharma,” kata Sudiana.

Selama ini, imbuh Wiana, begitu banyak persoalan yang membelit manusia Bali. Namun, tumpukan persoalan itu kerap kali diselesaikan dengan pikiran yang gelap atau kotor sehingga menimbulkan persoalan baru. Ilmu pengetahuan dan agama tidak dijadikan tumpuan menyelesaikan persoalan hidup, tetapi lebih pada kepentingan jangka pendek dan terkadang pragmatis.

“Ilmu pengetahuan seringkali diselewengkan. Ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup dan kehidupan, tetapi digunakan untuk merusak alam, menghancurkan kehidupan,” kata Wiana.

Persoalan hidup dan kehidupan itu, imbuh Sudiana, begitu kompleks. Mulai dari kerusakan alam, kemiskinan, keterbelakangan, penyakit, termasuk tekanan kelompok yang berbeda. Galungan menjadi momentum untuk merefleksi sejauh mana persoalan-persoalan hidup itu telah bisa diatasi dengan berbekalkan ilmu pengetahuan dan agama yang telah dipelajari.

“Saat Galungan kita diingatkan untuk memenangkan pikiran yang terang (widya) atas pikiran yang gelap (awidya),” kata Wiana.

Karena itu, baik Sudiana maupun Wiana menegaskan keliru jika perayaan Galungan disambut dengan hura-hura atau jor-joran. Menurut Wiana, perayaan Galungan sepantasnya dilakukan dengan penuh bersahaja. Karena itu, kesederhanaan menjadi hal yang utama.

“Sederhana dan bersahaja, itu yang paling penting. Kita harus mementingkan fungsi, bukan gengsi. Untuk apa merayakan Galungan mewah, tetapi kita harus berutang. Justru perayaan sederhana yang berasal dari kemampuan sesungguhnya itu yang jauh lebih bernilai,” kata Wiana. 

(Baca: Galungan Bukan Momentum Pamer dan Adu Gengsi)

Sudiana menambahkan spirit perayaan Galungan yang utama sesungguhnya membangun kepedulian terhadap sesama dan kerukunan. Itu artinya, empati dan simpati terhadap lingkungan sangat penting dijaga. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi