Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 14 Feb 2014 00:27 WITA ·

Valentine di Bawah Naungan Purnama Kawulu dan “Dina Kala Paksa”


					Valentine di Bawah Naungan Purnama Kawulu dan “Dina Kala Paksa” Perbesar

Teks dan Foto: Dhara Wasundari
Hari ini, Jumat, 14 Februari 2014, di saat manusia se-dunia tenggelam dalam perayaan hari Valentine, manusia Bali memaknai dua hari raya: Purnama Kawulu dan Dina Kala Paksa. Manakala orang-orang sejagat sumringah berbagi kasih sayang, orang Bali dituntun merenung, menelisik ke dalam diri, menyelami hari di bulan terang sekaligus hari puncak kekotoran dunia.  
Sesuwuk yang digunakan umat Hindu di Kota Denpasar saat hari Dina Kala Paksa
Kalender tradisional Bali menandai hari ini sebagai Sukra Wage wuku Wayang sekaligus Purnama Kawulu (bulan ke delapan). Sukra Wage wuku Kelawu kerap dimaknai sebagai hari yang leteh (kotor). Lazim disebut sebagai dina kala paksa. Konon, saat itu dipantangkan untuk menyucikan diri termasuk berkeramas. Menariknya, pada saat itu pula bertepatan dengan bulan terang Purnama Kawulu.
Ketua Yayasan Dharma Acarya yang juga penulis buku-buku agama Hindu, IB Putu Sudarsana menyebut hari Jumat Wage merupakan titik puncak dari kekotoran dunia (rahina cemer). “Saat itu tidak umat Hindu tidak diperkenankan mencuci rambut atau keramas. Bagi para wiku (pendeta) juga tidak diperkenankan memuja,” jelas Sudarsana.
Sudarsana kemudian memberi penjelasan mengapa hari kala paksa dianggap sebagai hari paling kotor. Menggunakan pendekatan Tattwa Samkya, Sudarsana menguraikan wukuWayang memiliki urip 4, hari Jumat (Sukra) memiliki urip 6, dan wara Wage memiliki urip 4. Jika ketiga uripitu dijumlahkan, didapat angka 14. Angka 14 terdiri dari angka 1 dan 4, yang jika dijumlahnya menjadi 5.
Angka 5 tersebut, dalam pemahaman Sudarsana merupakan simbol dari kekuatan panca maha bhuta (lima unsur pembentuk tubuh). Karenanya, hari kala paksamerupakan hari yang dikuasai kekuatan panca maha bhuta sehingga menjadi puncak hari kotor. Saat itu kekuatan Kala dinyatakan sedang memuncak.
Untuk menetralisir kekotoran pada hari kala paksa, lontar Sundarigama mengamanatkan untuk mengoleskan kapur sirih pada ulu hati. Olesan kapur sirih itu berbentuk tampak dara (tanda silang).
Selain itu, menurut Sudarsana, umat juga disarankan memasang sesuwuk (semacam penanda).Sesuwuk tersebut terbuat dari daun pandan berduri, dipotong-potong yang panjangnya 5 cm. Selanjutnya diolesi kapur sirih berbentuk tampak dara (silang). Sesuwuk dibuat sebanyak bangunan suci dan rumah yang dimiliki.
Daun pandan tersebut dialasi dengan sebuah sidi(ayakan) serta diisi juga sebuah takir berisi kapur sirih dan benang tri datu (tiga warna: merah, hitam, putih) sepanjang dua jengkal, lengkap dengan canang sari. Di dalam sidi diisi sebuah takir lagi lengkap dengan tri ketuka (mesui, kesuna, jangu) yang telah digerus.
Semua sesuwuk itu, menurut Sudarsana, sarat dengan makna. Daun pandan berduri disebutnya sebagai simbol kekuatan Kala, serta dioles dengan kapur sirih sebagai simbol kekuatan dharma. Tanda tampak dara merupakan simbol kekuatan swastika untuk mengembalikan adharma menuju dharma.
Daun pandan yang dikumpulkan menjadi satu kemudian diikat dengan benang tri datu serta dialasi sidi merupakan simbol permohonan ke hadapan Hyang Widhi agar dianugerahkan kesidhian, sabda, bayu idep sehingga bisa memiliki kekuatan religiomagis dalam mengembalikan kekuatan kala tersebut ke sumbersenya semua menjadi Kala Hita, untuk bisa memberikan kesejahteraan alam semesta.

Keesokan harinya, sesuwuk itu dibuang ke lebuh. Lebuh merupakan simbol nistaning mandhala serta menjadi menjadi simbol sapta patala, sorganya Kala. Ini berarti mengembalikan Kala ke asalnya. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi