Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 25 Jan 2014 20:56 WITA ·

Jurus Cegah Bencana Alam ala Bali


					Jurus Cegah Bencana Alam ala Bali Perbesar

Teks dan Foto: I Made Sujaya
Keprihatinan kini meliputi bangsa ini. Bencana hadir di mana-mana. Jakarta dan Manado diguncang banjir besar. Gunung Sinabung meletus. Terakhir, ujung utara Bali, Buleleng, digedor banjir dan longsor yang menelan korban empat orang tewas dan puluhan warga terpaksa mengungsi.
Dalam kamus alam, begitu juga yang terungkap dalam teks-teks tradisional Bali, tiada istilah bencana alam. Apa yang terjadi pada alam sejatinya lebih sebagai upaya alam menjaga keseimbangan. Manakala keseimbangannya terganggu, alam akan mengembalikan keseimbangan itu.
Itu sebabnya, inti tradisi-tradisi Bali sejatinya mengajarkan untuk senantiasa menjaga keseimbangan, merawat harmoni alam. Caranya sangat sederhana, bersahabat akrab dengan alam. Jika manusia berkepentingan menjaga kesehatan tubuhnya, kesehatan alam pun patut dijaga. Pasalnya, bhuwana agung (alam) sama dengan bhuwana alit(tubuh manusia).
Menurut pendharma wacana (penceramah agama) serta penulis buku-buku agama Hindu, I Ketut Wiana, dalam lontar Purana Bali disebutkan ada enam jurus untuk merawat harmoni alam sehingga tak menjelma keburukan bagi manusia. Keenam jurus itu dikenal dengan sebutan sad kertih, enam aspek menjaga keseimbangan alam.
Bagian pertama dari sad kertih yakni atma kertih. Atma kertih, menurut Wiana, tiada lain suatu upaya pelestarian segala usaha untuk menyucikan Sang Hyang Atma dari belenggu tri guna.
Samudra kertih, bagian kedua, yaitu upaya menjaga kelestarian dan kesucian samudra sebagai seumber alam yang memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan umat manusia. Di lautlah diadakan upacara melasti, nganyut, mapakelem, dan lainnya. Semua upacara itu bermakna untuk memotivasi umat agar memelihara kelestarian laut.
Bagian ketiga yang cukup dikenal orang Bali, wana kertih, yaitu upaya untuk melestarikan hutan. Karena itu di hutan umumnya dibangun Pura Alas Angker untuk menjaga kelestarian hutan secara niskala. Di hutan juga ada upacara pakelem. “Dengan upacara tersebut umat hendaknya terdorong untuk membuat program-program aksi memelihara keutuhan hutan,” kata Wiana.
Selanjutnya danu kertih, yaitu suatu upaya untuk menjaga kelestarian sumber-sumber air tawar di daratan. Seperti mata air, danau, sungai, dan lainya. Di danau ini juga diadakan upacara keagamaan yang berbentuk ritual sakral. Pura-pura sakral juga kerap didirikan di danau seperti Pura Ulun Danu, Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul.
Jagat kertih merupakan bagian yang kelima. Jagat kertih yaitu upaya untuk melestarikan keharmonisan hubungan sosial yang dinamis dan produktif berdasarkan kebenaran. Wadah kehidupan bersama mewujudkan kebenaran (satya) membangun keharmonisan sosial yang dinamis dalam masyrakat Hindu di Bali yakni Desa Pakraman. Di desa pakraman inilah dikenal konsep tiga keselarasan hubungan yakni tri hita karana.
Yang terakhir, jana kertih yakni ngertiyang manusia secara individu. Jana kertih merupakan puncak dari sad kertih, yakni membangun manusia yang sempurna.
Pada hakikatnya, hampir seluruh ritual agama Hindu di Bali memiliki makna dan tujuan mengharmonikan alam semesta. Terlebih lagi, masyarakat Hindu di Bali juga mengenal konsepsi tri hita karanayang secara harfiah diterjemahkan sebagai tiga perilaku harmoni untuk mencapai kebahagiaan. Ketiga pilar perilaku harmoni itu yakni, keselarasan hubungan dengan Tuhan, keselarasan hubungan dengan sesama manusia serta keselarasan hubungan dengan lingkungan.

Hanya saja, sejauh mana manusia Bali mau dan mampu menyegarkannya sesuai dengan konteks kekinian. “Selanjutnya, dengan sepenuh hati mengimplementasikannya menjadi laku nyata sehari-hari,” kata Wiana. Bukan sekadar riuh ritual yang lepas dari konteks. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 76 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi