Menu

Mode Gelap
Jejak Ki Pasek Badeg, Keturunan Pasek dan Prasanak Puseh Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

Bali Tradisi · 2 Nov 2013 09:35 WITA ·

Tradisi “Maturan ke Sanggah Gede”, Ruang Guyub Orang Bali


					Tradisi “Maturan ke Sanggah Gede”, Ruang Guyub Orang Bali Perbesar

Memotret “Simakrama” Orang Bali di Hari Galungan dan Kuningan 

Teks dan Foto: I Putu Jagadhita
PERAYAAN hari Galungan dan Kuningan menjadi momentum orang Bali memperkuat ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Berbagai tradisi digelar sepanjang hari besar orang Bali itu. Ada tradisi mapatung di hari Penampahan Galungan dan Kuningan. Ada tradisi nekang jotanbagi pasangan penganten baru. Ada pula tradisi maturan ke sanggah gede.
Tradisi maturan ke sanggah gede dilakoni hampir sebagian besar orang Bali, terutama di daerah Bali Timur dan Bali Utara. Kala hari Galungan dan Kuningan, orang Bali tidak hanya menghaturkan sesaji dan berdoa di sanggah di rumahnya sendiri, tetapi juga membawa sesaji dan berdoa ke sanggah gede milik keluarga, termasuk juga ke pura panti atau paibon.
Di Karangasem dan Klungkung, tradisi ini masih kuat. Malah, tradisi ini terkesan menjadi kegiatan inti dalam perayaan Galungan dan Kuningan.
Komang Suastika (35) seorang warga Desa Kusamba, Klungkung, menuturkan saat hari Galungan dan Kuningan, dia bersama keluarganya akan bangun lebih pagi, sekitar pukul 04.00 Wita. Mula pertama, sang istri menghaturkan sesaji di sanggah di rumah. Berikutnya dilanjutkan maturan ke pura-pura kahyangan tiga di desa, seperti Pura Dalem, Pura Puseh dan Bale Agung serta Pura Segara.
“Keluarga yang memiliki kerabat masih dikubur di kuburan desa biasanya akan datang ke kuburan dulu menghaturkan punjung(sesaji khusus untuk orang yang sudah meninggal),” kata Suastika.
Setelah semua kegiatan itu selesai, barulah dilaksanakan tradisi maturan ke sanggah gede. “Bukan hanya sanggah gede, juga ke sanggah-sanggah keluarga yang masih memiliki ikatan kekerabatan, terutama sanggah di rumah asal nenek, sanggah di rumah asal ibu dan lainnya,” tutur Suastika.
Tradisi serupa juga ternyata masih terjadi di Desa Tista, Busungbiu, Buleleng. Hanya bedanya, di desa ini tradisi maturandiwujudkan dengan membawa sesaji ke rumah kerabat tetapi tidak diikuti dengan muspa. Sesaji yang dibawa berupa ajengan yang diberikan si empunya rumah. Selanjutnya, si empunya rumah juga akan membalas “kiriman” ajengan itu dengan membawa ajenganserupa dalam suatu kunjungan balasan.
Ajengan itu nanti dihaturkan oleh si empunya rumah. Nanti juga di-surud si empunya rumah,” kata Made Nadi, salah seorang warga sepuh Dapdap Putih.
Tradisi maturan ini bila dicermati sejatinya semacam ruang simakrama antarkeluarga dalam perayaan Galungan dan Kuningan. Bantenatau sesaji yang dibawa atau dihaturkan menjadi sarana untuk menjaga ikatan kekeluargaan itu.
Memang, orang Bali memberikan makna istimewa pada banten. Bagi orang Bali, banten lebih dari sekadar sarana upacara, tetapi juga cerminan bahasa hati, cara untuk mengungkapkan sesuatu, terutama ke hadapan Sang Pencipta. Melalui banten, bahasa hati diungkapkan, meskipun bahasa ucap tak sampai menjelma.
Tradisi maturan ke sanggah gede atau keluarga ini kerap kali dilengkapi dengan tradisi baru: saling berbagi. Mereka yang berpunya akan memberikan sedikit kepada mereka yang kurang punya. Lihat saja anak-anak yang begitu bahagia saban Galungan tiba karena isi kantong mereka bertambah. Adapemberian paman, bibi, kakak, kakek, nenek dan lainnya.

Itu sebabnya, Galungan dan Kuningan sejatinya bukan sekadar sebuah hari perayaan dengan landasan filosofis keagamaan kental seperti pemaknaan hari kemenangan dharma dan adharma tetapi sesungguhnya juga jauh lebih nyata sebagai hari kekeluargaan ala Bali. Pada hari Galungan dan Kuningan itulah, keluarga yang terpencar bertemu di sanggah gede, saling menyapa, saling bergurau sambil tertawa lepas tanpa beban. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 104 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi