Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Wali Bali · 18 Okt 2013 07:23 WITA ·

Hari Sugihan, Pembersihan Utuh Menyeluruh Jelang Galungan


					Hari Sugihan, Pembersihan Utuh Menyeluruh Jelang Galungan Perbesar

Pekan ini, manusia Bali memasuki wuku Sungsang. Inilah pekan yang mulai membuat manusia Bali sibuk karena beberapa hari lagi bakal merayakan hari raya Galungan. Pada wuku Sungsang ini, manusia Bali merayakan tiga hari penting: Sugihan Tenten, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Karena kebetulan bertepatan dengan rentang Sasih Kapat, akhir pekan ini, manusia Bali juga merayakan Purnama Kapat, hari purnama yang dianggap paling istimewa.
Menarik mencermati tiga hari sugihan di wuku Sungsang ini. Bukan saja karena namanya yang unik, juga maknanya yang tidak sekadar hari raya biasa. Ketiga hari Sugihan itu, mengajarkan manusia Bali untuk selalu menapaki jalan penyucian dalam menggapai tujuan, termasuk mencapai kemenangan.
Apa sebetulnya makna kata sugihan? Penekun sastra, Drs. IB Putra Sudarsana, MBA., M.M., dalam buku Ajaran Agama Hindu (Acara Agama) lebih memilih kata sugian, bukan sugihan. Dia menguraikan kata sugian berasal dari kata sugi dan ya. Kata sugi diartikannya sebagai ‘gelang, bersih, suci’. Sementara kata ya diartikan ‘ada, diadakan’. Karenanya, Sudarsana mengartikan Sugian sebagai ‘dibuat supaya suci atau disucikan’.

Sugian Tenten yang jatuh pada Buda Pon Wuku Sungsang, Rabu (16/10) merupakan sugihan pertama. Kata tenten, diidentikkan dengan kata enten yang artinya ‘ingat’. “Jadi, Sugian Tenten semacam mengingatkan umat Hindu bahwa hari raya Galungan akan segera tiba, segala kewajiban mesti segera dipersiapkan,” kata Sudarsana.
Sementara Sugian Jawa dimaknai Sudarsana sebagai pembersihan atau penyucian alam semesta. Di kalangan masyarakat Bali, pembersihan alam semesta itu disimbolkan dengan menggelar upacara mererebu di pemerajansesuai dengan isi lontar Sundarigama. Mererebu bermakna sejajar dengan pembersihan atau penyucian.
Sementara Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Upacara Upakara Agama Hindu Berdasarkan Pawukon menjelaskan Sugihan Jawa, merupakan hari pesucian pada dewa dan batara yang berstana di sanggah, pemerajan dan tempat-tempat suci lainnya.
Sugian Bali dimaknai Sudarsana sebagai pembersihan diri sebagai miniatur dari alam semesta. Pada saat ini, umat Hindu diharapkan melaksanakan upaya untuk mengendalikan indria (nafsu atau keinginan-keinginannya).
Sementara I Gusti Ketut Widana memilih memakai kata Sugihan. Dalam bukunya berjudul Menjawab Pertanyaan Umat, Widana menyatakan secara filosofis Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali memiliki makna yang sama yaitu rerahinan dengan tujuan membersih-sucikan bhuwana, dunia beserta isinya. Hanya saja, kata dia, secara ritual, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali berbeda sasaran.
Sugihan Jawa bertujuan membersih-sucikan bhuwana agung (makrokosmos). Sementara Sugihan Bali bertujuan membersih-sucikan bhuwana alit (mikrokosmos). Kedua hari raya ini, kata dia, mesti dirayakan, bukan salah satunya.
Memang, hingga kini masih ada pemahaman dari umat Hindu di Bali untuk hanya merayakan salah satu dari kedua hari raya Sugihan itu. Sugihan Jawa akan dirayakan oleh umat Hindu Bali yang nenek moyangnya berasal dari Majapahit (Jawa). Sementara Sugihan Bali akan dirayakan oleh mereka yang nenek moyangnya berasal dari Bali Aga (Bali Mula).
Menurut Widana, pendapat lama itu didasarkan pada bunyi lontar Purana Bali Dwipa. Padahal, kata Widana, dalam lontar itu hanya disebutkan perihal acara penerimaan pajak dari luar Balipada Sugihan Jawa dan dari orang-orang Bali Aga pada Sugihan Bali.
“Sepatutnya tidak ada keraguan lagi untuk melaksanakan kedua hari raya Sugihan secara berurutan dalam upaya membersihkan bhuwana agung dan bhuwana alit,” tandas Widana.
Terlepas dari semua itu, hari raya Sugihan bisa dipahami sebagai upaya mendidik manusia Bali untuk menapaki jalan kesucian saat melaksanakan suatu kegiatan atau upacara sehingga bisa mencapai kejayaan, kemenangan, kesuksesan. Jalan penyucian, baik diri sendiri maupun alam semesta, menjadi bekal utama sehingga bisa menghadapi musuh-musuh di dalam diri dan di luar diri mencapai kejayaan di hari kemenangan, hari Galungan. (b.)
________________________________ 

Penulis: Ketut Jagra
Foto: Ketut Jagra 
Penyunting: I Made Sujaya
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Ngerebeg” di Tegalalang: Menyucikan Desa dan Memohon Agar Pandemi Berakhir

20 Mei 2021 - 14:49 WITA

Pujawali di Pura Silayukti, Begini Dudonan Upacaranya

19 Mei 2021 - 01:27 WITA

Setelah Dua Kali Ngayeng, Pujawali di Pura Silayukti Kembali Nyejer Tiga Hari

17 Mei 2021 - 22:11 WITA

“Mulih” dan Berbagi di Hari Galungan

19 Februari 2020 - 00:11 WITA

Ngatag Jukung, Tradisi Tumpek Wariga di Pantai Kusamba

25 Januari 2020 - 11:11 WITA

Ucap Syukur dengan Bubur di Hari Tumpek Bubuh

25 Januari 2020 - 09:27 WITA

Trending di Wali Bali