Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 9 Agu 2013 22:33 WITA ·

Menimbang Masa Depan Aksara Bali


					Menimbang Masa Depan Aksara Bali Perbesar

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Sangatlah beruntung Bali, karena tak cuma memiliki tradisi bahasa lisan, melainkan juga memiliki tradisi aksara. Sungguh tidak banyak bahasa-bahasa di dunia yang memiliki tradisi aksara. Bahasa-bahasa di bagian timur Indonesiamisalnya, lebih banyak tidak memiliki tradisi aksara.

Sangat beruntung pula Bali karena mewarisi tradisi perayaan hari aksara: hari Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 10 Agustus 2013 hari ini. Saraswati kerap dimaknai sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Dalam konteks budaya Bali, ilmu pengetahuan berakar pada sastra, pada aksara. Kenyataannya, ritual hari raya Saraswati memuliakan aksara. Itu sebabnya, Saraswati belakangan dimaknai sebagai hari aksara ala Bali. 

Lantas, bagaimanakah nasib aksara Bali sekarang ini? Manakala bahasa Bali makin hari makin terdesak, adakah aksara Bali memiliki masa depan? 

Awal tahun 2013 ini, masyarakat Bali meradang dengan kurikulum 2013 yang diberlakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pangkal masalahnya, pelajaran bahasa Bali tidak muncul lagi. Sebaliknya, di daerah lain, mata pelajaran bahasa daerah lain dimunculkan. Ini dipandang sebagai diskiriminasi dan perlawanan pun dibentangkan. Melalui gerakan bersama berbagai komponen, perjuangan Bali pun berhasil. Bahasa Bali diakomodasi dalam kurikulum 2013. Bahasa Bali bisa diajarkan di sekolah dan pengaturannya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Bali

Mungkin, aksara Bali tidak akan sampai punah seperti yang dikhawatirkan banyak kalangan. Aksara Bali tetap akan hidup, karena para sulinggihpemangku, pendeta, undagi, balian dan sastrawan tradisional tetap bergerak dari landasan aksara. Di tangan merekalah, ‘’penjaga kebudayaan’’, aksara Bali yang menjadi ‘’roh’’ kebudayaan Bali akan tetap terpelihara.
Hanya, kita akan senantiasa berhadapan dengan kenyatan aksara Bali tetap tumbuh di jalan sunyi. Lantaran aksara Bali masih saja tidak menarik bagi kebanyakan orang Bali. Padahal, mereka, manusia Bali, lahir, hidup dan akhirnya mati pun bersama aksara. Aksara di dalam diri. Hanya, tidak banyak yang menyadarinya.

Selamat hari suci Saraswati!

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi