Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 15 Apr 2013 12:10 WITA ·

“Penjor” Unik dari Tista


					“Penjor” Unik dari Tista Perbesar

Teks dan Foto: Putu Suryadi

Krama Desa Pakraman Tista, Desa Tista, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Rabu, 17 April 2013 bertepatan dengan hari Buda Umanis Medangsia, menggelar karya agung mupuk pedagingan, ngenteg linggih, tawur balik sumpah serta ngusaba desa di Pura Puseh-Bale Agung setempat. Karya ini baru digelar setelah 33 tahun karya serupa terakhir dilaksanakan.

Serangkaian karya tersebut, krama Desa Pakraman Tista memiliki tradisi unik yakni memasang penjor khas di masing-masing pintu masuk rumah. Penjor itu dinamakan penjor kelungan.

Penjor kelungan memiliki bentuk yang khas, segi empat dengan ujungnya menghadap utara atau timur. Hiasannya tak jauh beda dengan penjor yang dipancangkan saban hari Galungan dan Kuningan. Dilengkapi juga dengan aneka buah (pala buah, pala gantung) yang digantungkan di batang bambu yang digunakan penjor.

Menurut Mangku Puseh Tista Jro Mangku Gde Ngurah Wijanta,  penjor kelungan merupakan sebuah simbol yang dijadikan sebagai ciri Ida Batara Sesuhunan seluruhnya tedun di parhyangandan  munggah di Bale Agung. Kelungan artinya sengker, gelung yang biasanya juga digunakan pada upacara nangkluk merana. Memang, biasanya penjor kelungan ini dipancangkan di perbatasan desa pada tilem kanem (bulan mati ke enam dalam penanggalan Bali) yang artinya nyengker desa atau nyengker  merana. Namun, pada saat karya agung digelar, penjor kelungan ini dibuat di masing-masing rumah.

“Ini sebagai pertanda  Ida Batara Turun kabeh tedundi Pura Bale Agung, termasuk Ida Batara Hyang Guru di masing-masing pemerajan tedun serangkaian ngusaba,” kata Jro  Mangku Gede Ngurah.

Tradisi ini, kata Jro Mangku Gede Ngurah, sudah berjalan sejak lama. Tradisi ini diwarisi dari para panglingsir (tetua desa). Tapi, pihak desa kembali menghidupkan tradisi itu juga setelah berkonsultasi dengan PHDI serta merujuk pada sumber-sumber sastra agama.

Setelah puncak karya, Ida Batara nyejer selama lima hari. Selama nyejer, beragam kesenian dipentaskan, di antaranya Arja Akah Canging, lawak Dadong Rerod dkk., Topeng Sida Karya dan lainnya.

Desa Pakraman Tista  terdiri dari empat banjar dengan jumlah 360 KK. Keempat banjar itu, yakni Banjar Dalem, Banjar Gunung Merta, Banjar Puseh dan Banjar Dapdaputih. Warganya dominan petani tegalan dengan potensi utama kopi, cengkeh dan kakao. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi