Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 11 Mar 2013 14:56 WITA ·

30 Tahun Hari Raya Nyepi sebagai Libur Nasional


					30 Tahun Hari Raya Nyepi sebagai Libur Nasional Perbesar

40 Tahun Nyepi Serentak di Bali 

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Suasana Nyepi di salah satu desa di Bali Timur
Hari raya Nyepi tahun baru Saka 1935 pada Selasa, 12 Maret 2013 menjadi sangat istimewa. Pasalnya, Nyepi kali ini menandai 30 tahun hari raya Nyepi ditetapkan pemerintah sebagai hari libur secara nasional. Selain itu, Nyepi tahun 2013 ini juga menandai 40 tahun pelaksanaan Nyepi secara serentak di seluruh Bali. 

Berdasarkan data dari sejumlah sumber, Nyepi ditetapkan sebagai hari raya Hindu oleh PHDI pada Pesamuhan Agung di aula Fakultas Sastra Unud pada 21-22 Februari 1959 yang dilanjutkan dengan Dharma Asrama di Campuhan Ubud pada 17-23 November 1959. Tapi, Nyepi secara serentak di Bali baru dimulai tahun 1973. Sebelumnya Nyepi dilaksanakan secara sendiri-sendiri di masing-masing desa. Dasar pelaksanaannya umumnya tradisi lokal di masing-masing desa. Itu sebabnya, perayaan Nyepi sebelum tahun 1973 kerap berbeda-beda di masing-masing desa. Sering terjadi, satu desa tertentu melaksanakan brata penyepian hari ini, desa lainnya baru melaksanakannya esok hari. Kondisi ini tak jarang memicu kesalahpahaman.
Penulis buku-buku agama Hindu yang juga pengurus pusat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Ketut Wiana mengenang Nyepi sebelum tahun 1973 yang menimbulkan kerepotan. Wiana yang berasal dari Bualu pernah menuju Denpasar setelah Nyepi dilaksanakan di desanya. Tak dinyana, masyarakat sesetan saat itu baru mulai melaksanakan Nyepi. “Jadi, saya tak bisa lewat ke Denpasar karena di Sesetan Nyepi,” kata Wiana. 

Tak cuma itu, pelaksanaan Nyepi sebelum tahun 1973 juga beragam. Ada yang melaksanakan Nyepi sipeng (sepi), ada juga yang malah keluar rumah menggelar aneka hiburan tepat saat Nyepi. Di Sesetan misalnya, tradisi Omed-omedan dilaksanakan tepat saat perayaan Nyepi. Di Gerenceng dan Kuta, tradisi Pasar Majelangu dilaksanakan tepat saat Nyepi. 

“Dulu, Pasar Majelangu dilaksanakan saat hari Nyepi. Jadi, pas Nyepi, orang-orang bukan diam di rumah, tapi malah keluar rumah,” kata mantan Bendesa Adat Kuta, I Made Wendra.
Akhirnya, mulai tahun 1973, PHDI bersama Pemerintah Daerah Bali menetapkan Nyepi dilaksanakan serentak di seluruh Bali. Tujuannya, selain untuk keseragaman, juga untuk memudahkan pengawasan serta menghindari terjadi kesalahpahaman. Tradis Omed-omedan dan Pasar Majelangu dilaksanakan saat Ngembak Geni, sehari setelah Nyepi.

Namun, Wiana mengenang upaya penyeragaman Nyepi tahun 1973 itu tidak mudah. Pasalnya, masyarakat di masing-masing desa sangat kuat memegang dresta (tradisi lokal).”Tapi, pengurus Parisada tiada henti turun ke desa-desa menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya Nyepi dilaksanakan secara bersamaan di Bali. Akhirnyam lambat laun pemahaman itu tumbuh dan Nyepi bisa dilaksanakan secara setentak,” kata Wiana. 

Sepuluh tahun setelah Nyepi secara setentak dilaksanakan di Bali, Pemerintah Pusat menetapkan hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI No.3 tahun 1983 tertanggal 19 Januari 1983 ditetapkan hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Dalam Keppres itu juga ditetapkan hari Waisak sebagai hari libur nasional.

Sementara perayaan Nyepi disertai penutupan total Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Tuban dimulai tahun 1999. Mulai tahun itu, bandara ditutup dari aktivitas penerbangan, kecuali penerbangan melintas, seperti karena kerusakan pesawat dan sejenisnya. Sebelum tahun 1999, meskipun Bali tengah Nyepi, bandara tetap dibuka. Penutupan dilakukan selama 24 jam, mulai pukul 06.00 sampai pukul 06.00 keesokan hari. Selain bandara, pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Padangbai juga ditutup total. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 199 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi