Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Tradisi · 5 Mei 2012 13:22 WITA ·

Jejak Siwa-Budha di Tanah Dewata


					Jejak Siwa-Budha di Tanah Dewata Perbesar

Teks: I Made Sujaya, Foto: Komang Suryawan

AGAMA Siwa dan Budha pernah bertumbuh pesat di Nusantara. Sejumlah tinggalan agung, misalnya Candi Prambanan dan Borobudur, membuktikan pertemuan dua ajaran penting itu. Di Bali, jejak Siwa dan Budha mengakar kuat. Di Bali kedua agama itu menjadi satu hingga disebut sebagai agama Siwa-Budha yang warisannya masih terjaga hingga kini. 

Anda tentu pernah tangkil ke Pura Sakenan, di Pulau Serangan. Pura ini dipandang sebagai salah satu pura penting sehingga umat kerap mengarus datang ke pura ini saban pujawali yang jatuh tiap Tumpek Kuningan. Tapi, jarang yang tahu, Pura Sakenan mengguratkan jejak ajaran Budha. Kata Sakenan yang dijadikan nama pura diambil dari kata sakya yang artinya “dapat menyatukan langsung pikiran ke hadapan Yang Pencipta”. 

Selain Pura Sakenan, di Jematang, Denpasar juga ada Pura Majapahit yang menggambarkan pertemuan Siwa-Budha. Di pura ini ada relief bergaya India yang menggambarkan kemanunggalan Siwa dan Budha. Sejumlah tempat di Bali juga mecatatkan jejak Budha. Sebut saja Sukawati serta Suwung. Sukawati, menurut I Ketut Widnya dalam tulisannya yang dimuat di majalah Sabda No. 07 Februari 2011, mengingatkan pada kata sukavati dan Suwung mengingatkan para kata sunya yang dekat dengan ajaran Budha. 

Pada masa Bali Kuno, Budha merupakan agama yang memiliki kedudukan sangat kuat dalam masyarakat Bali. Malah, sejumlah penelitian menyebut Budha sebagai agama pertama yang masuk ke Bali. Prasasti-prasasti tertua banyak menyebut tentang agama Budha. Prasasti Blanjong misalnya menyebut raja mencari perlindungan dari Budha untuk kesejahteraan negerinya. Prasasti Landih juga mengandung doa pemujaan kepada Siwa dan Budha: namo sivaya, namo buddhaya. Pertemuan Siwa-Budha mencapai puncaknya tatkala Mpu Kuturan menyatukan kedua agama itu untuk menampung berbagai aliran yang ada di Bali. Penyatuan Siwa-Budha itu diwujudkan dengan pendirian pura kahyangan tiga di masing-masing desa pakraman. 

Di Nusantara persenyawaan Siwa-Budha mencapai puncak pada masa Majapahit. Kala itu pula lahir konsep Bhineka Tunggal Ika yang hingga kini dijadikan sasanti bangsa Indonesia. Bhineka Tunggal Ika merupakan cerminan persatuan Siwa-Budha di Nusantara. 

Pada masa Gelgel, Siwa-Budha mendapat tempat terhormat. Saat Dalem Waturenggong menggelar Homa Yajna serangkaian upacara Eka Dasa Rudra di Pura Besakih, dua orang pendeta Siwa dan Budha memimpin upacara itu. Pendeta Siwa dipercayakan kepada Danghyang Nirartha, sedangkan pendeta Budha dipercayakan kepada Danghyang Astapaka. Praktik kegamaan Hindu di Bali yang diwarisi hingga kini banyak diwarnai mazhab Siwa-Budha. Di Bali, Siwa-Budha hidup berdampingan secara sejajar. Meskipun dalam teks-teks tradisional, kedua agama seringkali saling mengunggulkan diri. Dalam teks-teks Siwa, agama Siwa sering diunggulkan. Begitu juga sebaliknya dalam teks-teks Budha, agama Budha yang ditonjolkan. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 189 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi