Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Tradisi · 23 Des 2009 09:32 WITA ·

Tradisi “Otonan” Kian Terdesak Ulang Tahun?


					Tradisi “Otonan” Kian Terdesak Ulang Tahun? Perbesar


TRADISI otonan kini kian terdesak. Anak-anak Bali lebih suka merayakan hari ulang tahun daripada otonan. Padahal, ulang tahun bukanlah tradisi Bali. Tradisi perayaan hari kelahiran asli Bali yakni otonan. Selain berbiaya jauh lebih murah, otonan juga sarat niali-nilai spiritual.

———————————–
SABTU (12/12) lalu, Wayan Adiputra (31) sengaja memilih libur di tempatnya bekerja di sebuah hotel di kawasan Nusa Dua. Hari itu putra tunggalnya, Putu Jayantara merayakan hari ulang tahun ke-6. Bapak muda asal Klungkung ini sudah telanjur berjanji akan membuatkan perayaan sederhana untuk ulang tahun sang putra tercinta.
“Ya, yang kecil-kecilan saja. Yang penting dia senang. Kalau tak dirayakan malah ngambek,” tutur Wayan Adiputra.
Sejak pagi hingga sore hari Wayan dan istrinya, Nyoman Kusumayanti sibuk menyiapkan acara perayaan. Kue tart yang dibeli khusus, aneka minuman serta makanan ringan. Yang menarik, Wayan Adiputra juga membuat olahan lawar kuwir. “Agar ada rasa Bali-nya,” kata Wayan Adiputra sembari tersenyum.
Malam hari, waktu perayaan pun tiba. Beberapa saudara, kerabat serta teman bermain anaknya pun datang. Kue tart disajikan. Lilin dinyalakan. Mulailah kemudian dinyanyikan lagu Happy Birth Day dan Selamat Ulang Tahun. Jayantara yang sudah bersiap sejak sore itu pun meniup lilin. Selanjutnya kue tart dipotong dan dibagi-bagi kepada ibu, ayah, paman, bibi dan teman-temannya. Pesta ulang tahun terasa begitu meriah, Jayantara pun sumringah.
Adiputra merupakan satu di antara banyak keluarga muda Bali yang gandrung menggelar perayaan ultah untuk anak-anaknya. Namun, sebagai orang Bali, Adiputra juga membuatkan sesajen saat hari lahir putrinya sesuai dengan tradisi Bali: otonan.
“Kalau ulang tahun hanya dibuat sederhana, sekadar agar anak senang. Kalau otonan dibuat lebih besar dengan mengundang lebih banyak orang,” kata Adiputra.
Memang cukup banyak keluarga Bali kini yang bersikap “standar ganda” dalam menyikapi perayaan hari kelahiran anak-anaknya. Mereka menggelar perayaan ultah seperti lazimnya orang-orang modern kini, tetapi sebagai orang Bali tetap juga melaksanakan upacara otonan.
Sejatinya tidak masalah jika umat Hindu melaksanakan ulang tahun meskipun ulang tahun merupakan tradisi Hindu atau tradisi Bali. Namun, perayaan hari kelahiran dalam konsep Hindu yakni otonan jangan sampai dilupakan.
Otonan tidak selalu harus besar, sejatinya. Sederhana juga tidak apa-apa. Boleh juga otonan itu hanya diisi dengan persembahyangan saja. Yang terpenting, dalam otonan kita ingat apa tujuan dan makna kita hidup di dunia ini.
Mulai dilupakannya otonan oleh banyak keluarga Bali ketika orang Bali mulai tidak tahu tentang kalender Bali. Pasalnya, penentuan otonan tidak sama dengan penentuan hari ulang tahun yang berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi yang gampang diingat. Penentuan otonan berdasarkan hari (rahina), terutama berkaitan dengan hari yang bersiklus tujuh (saptawara), hari yang bersiklus lima (pancawara), serta wuku. Karena itu, hari lahir gaya Bali jatuh saban 210 hari. Inilah yang bagi keluarga Bali yang tidak memahami soal kalender Bali menjadi kendala tersendiri untuk menentukan hari otonan.
Selain itu, perayaan otonan tidak bisa seperti ulang tahun. Jika ulang tahun bisa dilakukan di luar seperti di hotel, restoran dan tempat lainnya, kalau otonan mesti dilaksanakan di rumah.
Apalagi kini banyak hotel dan restoran yang menawarkan paket-paket khusus perayaan ulang tahun lengkap dengan segala pernak-perniknya. Ulang tahun jadi terasa lebih meriah.
Merayakan ulang tahun juga terkesan sebagai cerminan manusia modern. Banyak yang merasa sebagai keluarga modern dengan merayakan ulang tahun anak-anaknya.
Itu tidak masalah, asalkan tetap ingat otonan. Bila pun dilaksanakan ulang tahun, tetap isi dengan penanaman nilai-nilai agama Hindu.
Namun, menarik disimak komentar Made Oka, seorang guide yang tinggal di Denpasar. Meski sering bersentuhan dengan tamu asing, bapak tiga anak ini tetap teguh dengan sikapnya untuk tidak merayakan hari ulang tahun anak-anaknya. Dia memilih mengajarkan anaknya merayakan hari kelahiran khas Bali, otonan.
“Kita sudah punya otonan, kenapa mesti milu-milu latah-latahan merayakan ultah?” katanya.

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi